Resesi Pukul Mundur Indonesia Maju 2045
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
04 November 2019 17:10
Watyutink.com -  Pemerintah tengah membangun mimpi-mimpi besar, menjadikan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju di dunia pada 2045 atau 100 tahun setelah RI merdeka. Sejumlah target dipasang dan terlihat begitu keren; menjadi ekonomi ke-5 terbesar dunia, Produk Domestik Bruto sebesar 7 triliun dolar AS, pendapatan per kapita 23.188 dolar AS atau Rp324 juta, sekitar 5,8 kali dari angka saat ini.

Impian lainnya adalah 73 persen penduduk tinggal di kota, usia produktif sebanyak 47 persen, penduduk masuk kelas menengah 70 persen, tingkat kemiskinan mendekati nol persen, sebanyak 73 persen kue ekonomi berasal dari sektor jasa, dan struktur ekonomi bergeser ke sektor yang bernilai tambah tinggi.

Mimpi atau tepatnya cita-cita memang harus digantungkan setinggi langit seperti pesan pendiri sekaligus proklamator RI Bung Karno. Tercapai tidaknya cita-cita itu urusan nanti. Toh rakyat tidak bisa menuntut sekalipun tidak tercapai.

Cita-cita menjadi kredibel bila ia diikuti dengan perencanaan pembangunan yang baik, sistematis, terukur, realistis, mengakar, dan berkenambungan. Ukurannya bisa dilihat dari apa yang dipersiapkan pemerintah dari tahun ke tahun untuk mencapai Indonesia Maju saat memperingati 100 tahun Indonesia merdeka.

Yang paling dekat yang bisa dilihat dari kebijakan pemerintah dalam mewujudkan impian Indonesia sebagai negara maju  adalah Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Respon pemerintah terhadap kondisi ekonomi terkini dan rencana pembangunan ke depan tercermin di sini.

Sebelumnya, kita tengok kondisi global secara umum dan Indonesia secara khusus. Perekonomian global menghadapi ketidakpastian yang berdampak pada pelemahan ekonomi di banyak negara termasuk Indonesia. Beberapa kejadian  di level internasional meningkatkan risiko terhadap ekonomi global.

Sebut saja perang dagang antara China dan AS yang hingga kini belum mencapai kesepakatan, proses impeachment Donald Trump yang sudah bergulir di parlemen AS, stimulus  moneter bank sentral AS, The Fed, dengan menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menyebabkan pelonggaran likudiitas global, resesi Argentina, perlambatan ekonomi Eropa dan perang tarif kawasan itu dengan AS, krisis politik di Hong Kong, Ekuador, TimurTengah, dan ancaman downgrade Vietnam.

Satu per satu kejadiian tersebut memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi menuju titik terendah sejak krisis keuangan global 2008. Pertumbuhan ekonomi global terus dikoreksi ke level yang lebih rendah lagi. Dalam 1 tahun  terakhir, proyeksi pertumbuhan global 2019 turun 0,7 basis poin. Ekonomi global diambang resesi.

Suramnya ekonomi global ditransmisikan ke ekonomi domestik. Akibatnya, Indonesia diperkirakan akan mengalami resesi. Beberapa faktor yang menguatkan perkiraan tersebut antara lain: defisit transaksi berjalan yang membesar; defisit APBN meningkat; melambatnya pertumbuhan sektor industri pengolahan; beban pembayaran utang luar negeri (debt service ratio) naik; kenaikan kredit perbankan melemah; Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan III 2019 turun 0,22 persen terhadap triwulan II 2019. 

Industri pengolahan  tumbuh melambat dalam empat triwulan terakhir. Secara perlahan pelemahan tersebut masih terjadi hingga saat ini dengan potensi makin melambat pada waktu-waktu berikutnya. Kondisi ini akan menjadi tekanan bagi ekonomi secara keseluruhan, sehingga berpotensi menimbulkan resesi.

Resep jangka pendek mengatasi potensi resesi adalah dengan mencari jalan keluar terhadap tiga masalah sekaligus yakni defisit pada transaksi berjalan, APBN, dan transaksi portofolio. Jika sukses menyelesaikan tiga tantangan tersebut, Indonesia  diperkirakan lepas dari ancaman resesi.

Sayangnya, pemerintah tidak menunjukkan sense of crisis. Penyusunan APBN 2020 berlangsung seperti biasanya, malah dibumbui dengan optimisme yang kurang mempunyai dasar, dan tidak menyiapkan strategi pencegahan resesi. Pos anggaran yang tidak berhubungan dengan penanganan resesi justru meningkat dalam jumlah signifikan seperti untuk Polri.

Selain itu, target defisit APBN 2020 sebesar 1,76 persen dengan menggenjot penerimaan negara tidak realistis. Persentase kenaikan pendapatan negara tidak membumi, dipatok tinggi di tengah pelemahan daya beli dan penurunan pertumbuhan ekonomi. Defisit APBN 2019 saja diperkirakan sudah melewati 2 persen dari PDB dan berpotensi naik lagi hingga akhir tahun.

Indonesia masih mempunya waktu untuk mewujudkan Indonesia Maju 2045. Sekalipun kelak tercapai, masih ada pertanyaan seputar pemerataan hasil pembangunan kelak. Target kenaikan pendapatan per kapita Rp324 juta tidak menjamin semuanya menjadi indah.

Kenaikan pendapatan per kapita tidak selalu sejalan dengan pemerataan dan perbaikan ketimpangan sosial. Kue ekonomi tetap saja dinikmati oleh mereka yang berduit, sementara rakyat cukup disuguhkan remah-remah berserakan dari kue ekonomi.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah