Refleksi Bisnis Kuliner Ketika Wabah
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasimuid/watyutink.com 16 May 2020 10:00
Watyutink.com - Bisnis makanan merupakan salah satu lini usaha yang sangat terpukul dengan meluasnya wabah Covid-19. Ribuan hotel, restoran dan café di berbagai kota tutup, namun ada peningkatan dalam jumlah pesan-antar makanan, terutama di Jakarta.

Dalam obrolan Harry Nazarudin dari Komunitas Jalansutra, yakni komunitas kuliner terbesar di Indonesia, Andy Fajar Handika, pendiri Kulina, sebuah platform marketplace untuk katering dan restoran, mengatakan ada beberapa transformasi di sektor ini. Penjualan hanya turun sedikit, tetapi rutenya berubah menjadi jauh. Pemesanan kantoran jelas turun drastis, tetapi pengantaran ke rumah-rumah meningkat. Jika biasanya pemesanan berkisar pada satu paket dengan nasi dan lauk-pauk untuk satu orang, kini pembelian menjadi untuk 2 orang atau lebih, hanya lauk saja karena nasi dengan mudah dapat dimasak sendiri di rumah.

Peningkatan pesan-antar yang cukup tinggi dan hampir semuanya menggunakan plastik sekali pakai, menyebabkan seorang anggota Komunitas Jalansutra yang hirau lingkungan bertanya, kalau selama Covid-19 banyak pesanan makanan online, kemana perginya sampah kemasan itu? Belum lagi sampah Alat Pelindung Diri yang pastinya menggunung.

Timbulan sampah di Indonesia, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berjumlah 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun. Sebesar 50 persen sampah tersebut merupakan sampah organik seperti sisa makanan dan sisa tumbuhan, 15 persen berupa plastik dan 10 persen adalah kertas. Sisanya berupa logam, karet, kain, kaca, dan lain-lain.

Berdasarkan persentase sampah plastik di Indonesia, sebelum pandemi, jumlah terbanyak adalah kantong plastik sekali pakai, disusul dengan sedotan plastik, kotak makan stryrofoam, botol plastik dan kemasan sachet. Tidak semua sampah  sampai ke Tempat Pemrosesan Akhir, sisanya terbuang ke lingkungan, termasuk ke lautan.

Dalam keadaan normal pun penggunaan plastik sekali pakai sudah sangat tinggi jumlahnya. Pada saat wabah merajalela seperti sekarang, produsen dan konsumen makanan melalui pesan-antar menjadi ekstra hati-hati. Pelaku usaha membungkus pesanan dengan plastik berlapis-lapis dengan harapan aman dari virus Corona, sedangkan penerimanya langsung membuang plastik pembungkus meskipun sebenarnya masih dapat digunakan kembali.

Kekhawatiran ini beralasan karena meskipun belum ada bukti ilmiah bahwa Covid-19 dapat tertular melalui makanan atau kemasannya, penelitian di laboratorium menyimpulkan bawa virus Corona dapat bertahan di permukaan keras seperti plastik, baja, meja, dan kaca selama  72 jam; permukaan  berpori seperti karton, kertas, dan kain selama 24 jam; dan udara di tetesan yang dilepaskan oleh batuk atau bersin selama 3 jam.

Berkenaan dengan pedoman pengelolaan limbah dan sampah, di bulan Maret, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan Surat Edaran tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19).

Sementara itu Food Packaging Forum, lembaga yang aktif dalam komunikasi ilmu pengetahuan tentang pengemasan makanan dan kesehatan, menyarankan konsumen melaksanakan salah satu dari tiga hal di bawah ini  terkait bahan makanan dari toko maupun layanan pesan antar. Pertama, mencuci semua kemasan saat memasuki rumah dengan sabun dan air. Kedua, sebagai alternatif, memindahkan barang-barang dalam kemasan ke wadah di rumah yang telah dibersihkan untuk disimpan, dan kemudian membuang kemasannya. Ketiga, mengarantina barang sampai tiga hari di rumah sebelum menyentuhnya lagi.

Mungkinkah produsen dan konsumen makanan menjadi lebih ramah lingkungan di masa Covid-19? Salah satu kiatnya adalah memilih kemasan makanan yang ramah lingkungan. Jika memungkinkan menggunakan wadah yang dapat dicuci dan digunakan kembali. Selain itu sangatlah penting untuk meningkatkan porsi pangan lokal dan mengurangi sampah makanan, yaitu bagian yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi. Hal ini karena rantai produksi dan konsumsi pangan yang meliputi pembuatan pupuk, pertanian, pengolahan, transportasi, ritel, manajemen makanan rumah tangga dan pembuangan limbah, merupakan sumber dari 25 persen emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim global.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF