Ramadan, Idulfitri Rahmatan Lil Ekonomi
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 26 April 2021 14:30
Watyutink.com –  Setelah keok di kuartal I 2021 dengan mencatatkan pertumbuhan negatif sekitar satu persen, pemerintah memperkirakan ekonomi Indonesia akan melonjak sekitar tujuh-delapan persen di kuartal II 2021 yang jatuh pada April hingga Juni.

Pertumbuhan yang lebih tinggi pada kuartal II 2021 didasarkan pada adanya tren pemulihan yang terjadi sejak awal tahun dan adanya momen khusus bulan puasa dan Idulfitri sehingga dampaknya baru akan dirasakan pada periode ini.

Perekonomian Indonesia pada awal tahun ini telah menunjukkan perbaikan dengan pola pemulihan yang berbentuk swoosh-shaped seperti tanda centrang. Di sisi lain, pertumbuhan tinggi yang akan dicatat di kuartal II 2021 lantaran berbasis pada pertumbuhan rendah pada kuartal II 2020 yang terkontraksi hingga -5,32 persen.

Titik terendah sudah terjadi di triwulan II 2020, sehingga tidak perlu kaget kalau pada kuartal II 2021 pertumbuhan ekonomi akan melonjak tinggi karena low based di tahun lalu. Akselerasi perbaikan ekonomi akan berlanjut pada semester II 2021.

Pemerintah membidik momentum bulan puasa dan Idulfitri sebagai booster meningkatkan konsumsi masyarakat yang berkontribusi sekitar 60 persen pada produk domestik bruto. Inilah waktu yang ditunggu-tunggu untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Mengapa bulan puasa dan Idulfitri yang merupakan domain agama, dijadikan ajang meningkatkan pertumbuhan eknonomi?  Penjelasannya ada pada akulturasi budaya Islam di Tanah Air.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi. Dictionary mengartikannya sebagai proses mengadopsi ciri-ciri budaya atau pola sosial kelompok lain. Merriam Webster Dictionary, menerjemahkannya sebagai penggabungan budaya sebagai hasil dari kontak yang berkepanjangan.

Berkembangnya Islam di Nusantara memperkaya khasanah budaya nasional, mempengaruhi dan menentukan corak pada kebudayaan bangsa Indonesia. Islam tidak menggantikan atau memusnahkan kebudayaan yang sudah ada di Indonesia, karena kebudayaan yang berkembang di Nusantara sudah begitu kuat di lingkungan masyarakat, sehingga terjadi akulturasi antara Islam dengan kebudayaan yang sudah ada.

Penggunaan wayang untuk berdakwah oleh Wali Songo, misalnya, menjadi bukti empiris Islam bisa berjalan beriringan dengan budaya bangsa Indonesia yang suda lebih dulu ada di Tanah Air. Saling mempengaruhi terjadi di sini dan membentuk satu kebudayaan baru. Di Yogyakarta ada Sekaten yang digadang-gadang sebagai akulturasi dari syahadatain, dua kalimat syahadat.

Hasil proses akulturasi antara kebudayaan masa pra-Islam dengan masa Islam masuk berbentuk fisik kebendaan (seni bangunan, seni ukir atau pahat dan karya sastra) serta pola hidup dan kebudayaan non fisik.

Proses akulturasi non fisik yang membentuk gaya hidup terjadi saat bulan Ramadan. Puasa mengajarkan umat Islam untuk meningkatkan empaty kepada kaum dhuafa, fakir miskin, dan mereka yang terpinggirkan.

Ajaran ini berkembang menjadi satu gaya hidup memberikan santunan, melembagakan penghimpunan dan penyaluran zakat, infaq, shadaqah, berbuka puasa dan sahur bersama kaum dhuafa, anak yatim, dan orang-orang miskin. Pengeluaran yang dihabiskan untuk kegiatan ini pada akhirnya meningkatkan konsumsi masyarakat.

Begitu juga saat Idulfitri dimana manusia diharapkan kembali kepada fitrahnya yang suci seperti saat ia dilahirkan, kembali kepada asalnya, sehingga lahir budaya mudik untuk meraih kesucian dengan meminta maaf kepada orang-orang terdekat; orang tua, saudara kandung, tetangga, dan teman di tempat mereka dilahirkan.

Likuiditas mengalir ke daerah-daerah selama mudik berlangsung, menciptakan pemerataan, menyediakan sumber dana bagi pembangunan desa, membuka lapangan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan.

Idulfitri dirayakan dengan mengenakan pakaian baru dan bersih sebagai simbol kembali kepada fitrah manusia yang suci. Keluarga-keluarga menyediakan makanan khusus lebaran untuk sanak keluarga dan tamu. Rumah-rumah dipoles dengan cat baru. Kendaraan diperbaiki untuk keperluan silaturahmi. Dampaknya, ekonomi bergerak.

Masih banyak bentuk lain akulturasi kebudayaan Islam seperti upacara selamatan atas kelahiran, perkawinan, kematian, maupun kegiatan peringatan keagamaan di waktu-waktu tertentu seperti Maulid Nabi yang semuanya turun meningkatkan konsumsi masyarakat.

Pemerintah turut menghidupkan ‘festival’ budaya Islam selama bulan puasa dan Idulfitri ini dengan menetapkan kebijakan pembayaran tunjangan hari raya (THR) kepada aparatur sipil negara (ASN), prajurit TNI/Polri, serta pegawai swasta.

Peredaran uang di masyarakat terkait dengan pembayaran THR akan mencapai Rp150 triliun. Ditambah penyaluran program bantuan sosial senilai Rp157,4 triliun untuk kelompok masyarakat miskin dan rentan.

Untuk itu patut disyukuri jika bulan puasa dan Idulfitri dijadikan momentum dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena sejatinya Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF