Puasa, Idulfitri dan Perilaku Sosial
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 10 May 2021 15:00
Watyutink.com – Ujung bulan puasa adalah Idulfitri. Hari Kemenangan ini dirayakan dengan bersilaturahmi dalam suasana penuh kehangatan, haru, dan bahagia. Anak-orang tua, suami-istri, adik-kakak, tetangga, teman, dan umat larut dalam suasana saling maaf memaafkan.

Meminta maaf menjadi stempel diterimanya amal ibadah lain seperti dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Suatu hari Nabi bertanya kepada para sahabat: Tahukah kalian, siapakah orang yang disebut orang yang bangkrut atau pailit (al-muflis) itu? Para sahabat menjawab: "Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes". Kemudian Nabi bersabda: "Bukan, bukan itu orang yang disebut bangkrut itu. Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat dan hajinya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim--mengganggu saudara, tetangga, merampas hak orang lain-- dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka."

Begitu pentingnya kedudukan meminta maaf di dalam verifikasi amal seseorang, seorang muslim berusaha secara langsung datang bersilaturahmi, bertatap muka langsung untuk mendapatkan maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan, terutama kepada orang tua, pasangan, saudara, tetangga, dan sahabat.

Namun tradisi positif bersilaturahmi secara langsung sudah mulai berkurang. Bukan karena pandemi Covid-19 saja, tetapi kemajuan teknologi informasi secara perlahan mengurangi kontak langsung antarmanusia, sehingga melahirkan manusia-manusia impersonal yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya.

Kemajuan teknologi digital dan maraknya media sosial di dalamnya mereduksi nilai-nilai silaturahmi secara langsung, digantikan oleh aplikasi yang sepertinya lebih maju dalam merajut hubungan antarpersonal, tetapi sebenarnya kering dari sentuhan kemanusiaan.

Kehadiran Idulfitri memberikan kita momentum untuk mengembalikan hakikat kemanusiaan kita. Idul fitri ada karena adanya puasa Ramadhan, sehingga tidak ada nilai dan identitas fitri jika tidak ada pelaksanaan puasa, dan tujuan berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa.

Taqwa adalah kesadaran ketuhanan (God-consciousness), yakni kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Mahamengetahui dalam hidup kita. Kesadaran seperti itu membuat kita menyakini bahwa dalam hidup ini tidak ada cara menghindar dari Tuhan dan pengawasan-Nya terhadap setiap gerak dan suara hati kita.

Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup ini membuat kita memilih jalan yang diridhoi-Nya dalam berperilaku, sesuai dengan ketentuan-Nya. Kesadaran akan kehadiran Tuhan memperkuat kecenderungan alami (fithrah) manusia untuk senantiasa berbuat baik, sebagaimana hal itu disuarakan dengan lembut oleh hati nurani atau kalbu kita.

Dorongan batin dari hati nurani mewujud dalam manifestasi taqwa sebagaimana disebutkan sifatnya di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah 2/177 yang berkisar pada empat hal. Pertama, keimanan kita harus murni dan otentik. Kedua, kita harus siap untuk memancarkan iman ke luar dalam bentuk tindakan kemanusiaan kepada sesama. Ketiga, kita harus menjadi warga masyarakat yang baik, yang mendukung sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan. Keempat, memiliki jiwa yang teguh dan tak goyah di berbagai keadaan.

Ketaqwaan menjadi sumber perilaku seseorang dalam pergaulannya dengan sesama manusia, dan ikut memberi bentuk serta pola pergaulan tersebut. Sekalipun loqus taqwa adalah kualitas keagamaan individu, ia mempunyai implikasi sosial yang kuat dan langsung, ikut menentukan corak masyarakat dan berpengaruh kepada kuat-lemah serta tinggi-rendahnya kualitas masyarakat.

Setelah sebulan penuh melaksanakan puasa menahan lapar dan haus plus seluruh rangkaian ibadah dan amal kebajikan lain seperti shalat tarawih, shalat tahajud, tadarrus al-Qur’an, shadaqah, dan lain sebagainya sebagai perwujudan taqwa, maka harus ada implikasi sosial.

Salah satu ukuran kesejatian nilai-nilai taqwa sebagai simpul keagamaan pribadi yang mendalam dari seseorang adalah kemampuan yang bersangkutan wewujudkannya dalam tingkah laku sosialnya di tengah masyarakat.

Semoga ibadah puasa selama bulan Ramadhan berdampak positif pada kehidupan sehari-hari selama 11 bulan ke depan.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF