Pranata Iklim di 75 Tahun PBB
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 24 October 2020 10:00
Watyutink.com - Hari ini, 75 tahun yang lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berdiri secara resmi dengan komitmen untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional serta mengembangkan persahabatan antar bangsa. Juga untuk kemajuan sosial, standar hidup yang lebih baik dan hak asasi manusia.

Meskipun lebih dikenal sebagai organisasi internasional yang menjaga perdamaian dan memberi bantuan untuk kemanusiaan, PBB juga bekerja di berbagai bidang agar dunia lebih aman bagi generasi kini dan mendatang.

Masalah mendasar yang ditangani PBB dengan 193 negara anggotanya meliputi pembangunan berkelanjutan, pelestarian lingkungan dan pengungsi, bantuan bencana, penanggulangan terorisme, serta perlucutan senjata dan non-proliferasi. PBB juga mengerjakan demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan tata kelola pemerintahan. Selain itu juga membangun ekonomi dan sosial, kesehatan internasional, serta memperluas produksi pangan.

Sistem Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa mencakup berbagai entitas, seperti pusat, badan, organisasi, komisi, dan program. Setidaknya ada 17 Badan Khusus, termasuk Program Pembangunan PBB (UNDP), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), serta Dana Moneter Internasional (IMF). Masing-masing memiliki struktur kelembagaan dan fungsi yang berbeda.

Khusus untuk menanggulangi krisis iklim, sebagai masalah global pemicu bencana yang memerlukan mobilisasi sumber daya global, ada dua wadah di bawah naungan PBB, yaitu United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

UNFCCC, atau Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim, mempunyai tujuan utama melakukan stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada level yang dapat mencegah intervensi berbahaya manusia terhadap sistem iklim. Persetujuan Paris 2015 tentang Perubahan Iklim disepakati oleh para pihak UNFCCC.

IPCC, atau Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Iklim, menyusun serangkaian kajian komprehensif, laporan khusus, dan makalah teknis berisi informasi ilmiah tentang perubahan iklim.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa UNFCCC merupakan ranah politik pengambilan keputusan perubahan iklim global, sedangkan IPCC merupakan ranah kajian ilmu perubahan iklim.

Meskipun sudah ada IPCC dan UNFCCC bukan berarti organisasi lain di PBB tidak melakukan berbagai kegiatan terkait iklim. Sedemikian banyaknya program yang kemungkinan tumpang tindih, sehingga ada laman khusus pada situs web PBB yang berisikan informasi ragam aktivitas perubahan iklim yang dilakukan sejumlah lembaga PBB.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak pemerintah negara-negara anggota PBB untuk melaksanakan enam tindakan positif iklim untuk pulih dari pandemi COVID-19. Tindakan itu meliputi berinvestasi untuk pekerjaan ramah lingkungan, tidak memberi jaminan (bail out) untuk industri pencemar, mengakhiri subsidi bahan bakar fosil, memperhitungkan risiko iklim dalam semua keputusan keuangan dan kebijakan, bekerja sama, dan yang terpenting, tidak meninggalkan satu orang pun (no one left behind).

Bulan lalu PBB mengumumkan hasil konsultasi global yang melibatkan satu juta penduduk dunia melalui survei dan dialog, untuk mengetahui harapan dan kekhawatiran masyarakat terhadap masa depan.

Di tengah krisis COVID-19 saat ini, prioritas utama bagi sebagian besar responden mencakup peningkatan akses ke layanan dasar, yaitu perawatan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan pendidikan. Ini diikuti dengan harapan terhadap solidaritas internasional yang lebih besar dan peningkatan dukungan kepada mereka yang terkena dampak paling parah.

Melihat ke masa depan, prioritas responden termasuk memastikan respek terhadap hak asasi manusia, penyelesaian konflik, penanggulangan kemiskinan dan pengurangan korupsi. Namun kekhawatiran terbesar mereka adalah krisis iklim dan kerusakan lingkungan.

Pada pesannya untuk perayaan 75 tahun PBB, António Guterres mengatakan bahwa sekarang, musuh bersama manusia adalah COVID-19. Di seluruh dunia, jelasnya, kita harus berbuat lebih banyak untuk mengakhiri penderitaan manusia dari kemiskinan, ketidaksetaraan, kelaparan dan kebencian, serta memerangi diskriminasi atas dasar ras, agama, gender atau perbedaan lainnya.

Manusia juga harus berdamai dengan Planet Bumi, karena krisis iklim mengancam kehidupan itu sendiri.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF