Post Truth, Jongko Joyoboyo dan Fitnah Dajjal
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
07 February 2019 10:00
Watyutink.com - Post truth merupakan istilah yang sedang populer untuk menggambarkan kondisi kekinian. Istilah ini populer pasca peristiwa Brexit dan kemenangan Donald Trump menjadi Presiden AS. Kamus Oxford menderinisikan post truth sebagai kondisi di mana fakta tidak banyak berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. 

Dalam era post truth kebenaran tidak lagi berdasarkan fakta dan nilai-nilai etis, tetapi berdasarkan sentimen emosi. Sesuatu yang secara etik normatif benar akan dianggap salah jika tidak sesuai dengan sentimen emosi sekalipun didukung dengan data dan fakta yang valid. Bahkan kebenaran agama akan diukur berdasar sentimen emosi, bukan pada spirit dan substansi ajarannya.

Fenomena ini terlihat terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini di mana kebenaran dan kesalahan sulit dibedakan. Orang berkata benar dianggap menista agama. Orang yang memberi peringatan atas penyelewengan kitab suci untuk dijadikan alat menipu justru dimusuhi dan dituding melecehkan  agama. Sebaliknya orang-orang yang menggunakan agama untuk menutupi kebusukan dan kebejatan justru disanjung dan dibela. Mereka lebih tersinggung  pernyataan jangan mau ditipu dengan ayat daripada pernyataan kitab suci adalah fiksi. Padahal secara faktual berapa banyak orang yang menipu umat dengan menggunakan ayat kitab suci dan simbol agama.

Sembilan abad yang lalu seorang pujangga besar Joyoboyo telah memprediksi kondisi seperti ini. Dalam jongko Joyoboyo dia menyebutkan kondisi post truth ini dengan istilah "Zaman Kolobendu". Joyoboyo menggambarkan, pada zaman ini rasa kemanusiaan dianggap tidak penting bahkan hampir lenyap. Bapak lupa pada anak, anak melawan orang tua, sesama saudara saling konflik, keluarga terpecah, semua demi harta, jabatan dan materi.

Selanjutnya Joyoboyo menyatakan bahwa di zaman Kolobendu suara lantang akan jadi panutan. Orang-orang yang  berani berkata kasar, caci maki dan keras akan jadi panutan dan memiliki pengaruh besar sekalipun orang tersebut bodoh, tidak berilmu dan tak bermoral.

Dalam konteks Islam, era ini dikenal dengan jaman fitnah akhir zaman. Fitnah terbesar di akhir zaman adalah fitnah Dajjal. Digambarkan sosok Dajjal ini memikat perhatian orang. Dia selalu membawa surga dan neraka yang ditawarkan pada semua orang. Seolah-olah dialah pemilik surga dan neraka sehingga dengan mudah menghakimi orang untuk dimasukkan ke surga atau neraka. Padahal sebenarnya surganya Dajjal adalah neraka demikian sebaliknya. Tawaran surga dan neraka inilah yang membuat banyak orang tertipu. Terutama mereka yang berhati kotor, culas, ambisi terhadap kekuasaan dan sombong dengan imannya.

Ketika simbol agama sudah diobral untuk kepentingan politik sehingga fitnah dan kebenaran menjadi samar. Di sinilah pentingnya kita bersikap kritis dan menjaga kebersihan hati pada siapa saja yang suka menggunakan simbol agama. Karena Dajjal bukanlah sosok yang terlihat bejad dan biadab, sebagai fitnah dia justru terlihat mulia dan religius agar manusia tertarik padanya. Di zaman fitnah seperti ini, setan,  iblis, dhemit semua menggunakan topeng malaikat. Dalam kondisi demikian hanya kebersihan hati, keikhlasan jiwa dan sikap istiqamah yang bisa menembus topeng yang terlihat mulia, indah dan menarik sehingga bisa melihat wajah Dajjal yang bengis dan biadab yang ada di balik topeng. Orang-orang yang eling (ingat pada Allah) dan waspodo (senantiasa kritis dan tidak mudah hanyut dalam klaim kebenaran yang provokatif) yang  bisa selamat dari fitnah Dajjal.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Anang Zubaidy, SH., MH

Kepala Pusat Studi Hukum FH UII

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

FOLLOW US

KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha             Tunggu, Mas             Yang Tak Siap Menang Cuma Elit Politik, Rakyat Tenang Saja             Ikhtiar Berat Tegakan Integritas Pemilu             Kedaulatan Rakyat Dibayang-bayangi Money Politics             Tiap Orang Punya Peran Awasi Pemilu             Jangan Lecehkan Kedaulatan Rakyat             Selesaikan Dulu Sengkarut Harga Tiket Pesawat