Pesan Kebudayaan untuk Pak Nadiem
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
12 November 2019 13:00
Watyutink.com - Ada kerja besar yang harus dituntaskan oleh Pak Nadiem Makarim sebagai Menteri Kebudayaan yang baru. Penuntasan ini akan memberi kejelasan arah mau dibawa ke mana Kebudayaan kita sebagai bangsa. Pada koridor budaya mana Kebudayaan Indonesia akan diarahkan agar kembali menemukan jati dirinya. 

Andai nilai-nilai budaya Nusantara yang dijadikan koridor dalam membangun peradaban-kebudayaan Indonesia sebagai bangsa, pastilah berbagai keindahan yang tumbuh dari akar peradaban Nusantara akan terasa mewarnai. Nilai-nilai yang ditawarkan oleh geliat kehadiran lokal jenius dipastikan akan mewarnai. Sehingga perilaku budaya masyarakat pun akan membentuk peradaban yang terbangun di atas pilar-pilar kebudayaan bangsanya sendiri. 

Melalui langkah ini, budaya manusia Indonesia dalam gerak dan perilaku kehidupan kesehariannya, akan hadir dengan kejelasan identitas dirinya. Kehadirannya akan menampilkan kejelasan ciri, warna, nuansa, serta kepribadian yang tumbuh dan berkembang membentuk yang selanjutnya dikenal sebagai Kebudayaan Indonesia sebagai bangsa. Inilah yang oleh Bung Karno dimaksudkan sebagai ‘berkepribadian dalam kebudayaan’. Sebuah cita rasa kebangsaan yang menginginkan kumpulan manusia berkarakter dan bercirikan Indonesia. 

Untuk itu, sangat tidak mungkin memenangkan bangunan kebudayaan sebagaimana harapan para pendiri Republik bila Kebudayaan kita di bangun di atas nilai-nilai budaya impor. Baik yang diimpor dari Barat, Timur, maupun Timur Tengah. Hal inilah yang sebaiknya dipahami dan disepakati kita semua sebagai pijakan dalam menentukan Cultural Policy (politik kebudayaan) sebagai bangsa yang memiliki kejelasan kebudayaan. Dengan demikian pemilahan mana yang punya kita, yang bukan punya kita, dan perpaduan antar keduanya, dapat kita pisahkan dan identifikasi.

Celakanya ketika generasi masa kini yang dikenal dengan generasi milenial tidak diperkenalkan kepada mereka jati diri bangsanya sendiri. Sehingga yang hanya mereka kenal adalah realita gaya hidup yang mereka gauli sehari-hari.   
Kebudayaan Indonesia yang mereka kenal adalah apa yang mereka lihat, alami, dan rasakan langsung sehari-hari. Dalam bidang gastronomi atau kuliner, misalnya, sejumlah jenis makanan impor pun telah dipahami sebagai bagian dari menu makanan yang sudah ter-Indonesiakan oleh intensitas interaksi dan waktu. 

Mereka telah menjadikan semua yang serba impor sebagai elemen yang dominan dalam struktur rekognasi tentang kebudayaan. Semua menjadi biasa dan merasa menjadi miliknya karena tak ada ruang yang memberi pemahaman kepada mereka tentang apa, siapa, dan mengapa Indonesia. Telah terjadi suatu fase yang lebih tepat digambarkan sebagai dekadensi kebudayaan. Terjadi ketika ‘pohon kebudayaan’ yang dimiliki negeri ini telah terserabut dari akarnya!

Bisa dimengerti mengapa Bung Karno pernah berpesan kepada rakyat Indonesia. Sebuah pesan kebudayaan yang rasanya perlu dikumandangkan sekarang ini. Kata Bung Karno..."Kalau mau jadi Hindu, tak perlu jadi India...Mau jadi Kristen tak perlu jadi Yahudi...dan mau jadi Islam tak perlu jadi Arab..!’’ Nah pesan yang terakhir ini.." mau jadi Islam tak perlu jadi Arab”..., agaknya pesan kebudayaan yang paling urgen untuk dipahami masyarakat kita hari ini.

Hal mana berkaitan dengan semakin menggejalanya penampilan anggota masyarakat kita yang lebih dekat dengan ‘the Arab look’ dan life style ala Timur Tengah. Kerudung yang dahulu dikenakan para ibu-ibu (muslimah) kita, sekarang telang hilang. Lambaian kerudung yang indah dengan aneka ragam warna, mewarnai penampilan para ibu kita dulu yang tampak anggun hadir sebagai muslimah di negeri Nusantara dengan kejelasan karakter dan kepribadiannya.

Pemandangan yang indah ini sekarang nyaris punah. Sesekali terhibur juga mata ini ketika melihat Ibu Shinta istri Gus Dur dan anaknya Yenny Wahid yang selalu tampil dan hadir di setiap acara dengan tetap mengenakan kerudung. Menghindari uniformitas bahkan regimentasi yang diarahkan oleh kekuatan politik yang menggunakan agama sebagai alat gerakan politik mereka. Sehingga hampir semua wanita dalam berbagai perhelatan tampil tak jauh berbeda dengan tampilan para wanita di Timur Tengah. Baik mereka yang muslimah, yahudi, kristen, dan lain-lain, hampir semua wanita di Timur tengah mengenakan penutup kepala yang sama...yang dikenal di Indonesia dengan sebutan jilbab.

Tulisan ini saya turunkan setelah semalam saya membuka album lama dan mendapatkan sejumlah foto dari Mbah putri saya, seorang Nyai, istri kiai yang tampak begitu cantik. Wajahnya sejuk dan tampak indah lagi cantik di balik kerudung yang ia kenakan menutupi bagian kepala yang diwajibkan harus ia tutupi. Maka terbayang oleh saya, bagaimana seandainya beliau hari ini masih hidup. Apakah akan tetap mengenakan kerudung seperti yang dilakukan Ibu Shinta Wahid; atau larut hanyut mengikuti budaya massal membentuk lautan jilbab? Keyakinan saya, dengan kepribadiannya yang kuat dan ke-Nusantaraannya yang matang, beliau akan tetap hadir dalam kepribadiannya.

Ia akan tampil, di mana pun, sebagaimana nenek moyangnya mengajarkan untuk menutupi kepala anak cucu mereka dengan sehelai kain tipis bertepi bordiran indah yang bernama kerudung. Dan karenanya bagi saya kerudung terlalu sayang bila harus hilang ditelan lautan jilbab. 

Nah inilah masalah kebudayaan paling urgen untuk dituntaskan oleh pak Mendikbud Nadiem Makarim. Memisahkan atau memilah mana budaya Arab dan mana budaya Islam? Mana nilai-nilai Islami dan mana nilai-nilai peradaban budaya Arab? 

Mengapa hal ini urgen untuk ditangani oleh Pak Menteri Kebudayaan? Karena kejelasan arah kebudayaan akan membuat bangsa ini mampu menjadi diri sendiri dan maju bersama dalam kejelasan arah dan tujuan! Membangun sebuah bangsa tanpa pijakan kebudayaan yang jelas, seperti halnya membangun rumah di atas pasir. Dan ketikai badai bahkan angin kencang datang, rumah akan tersapu terbang berantakan dan berkeping tanpa bekas!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir