Perlu Pemilu-Pilpres yang Mencerdaskan & Bermartabat
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
17 September 2018 11:15
Diadakannya pemilu-pilpres setiap lima tahun sekali, tujuan utamanya membuat kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Mekanisme pergantian kepemimpinan nasional yang diatur terjadi hanya setiap lima tahun sekali ini pun, diharapkan akan menjamin kehidupan berkonstitusi dapat berlangsung secara baik, benar, terencana, dan berkepastian, tanpa adanya ruang maupun celah yang memungkinkan terjadinya pergantian kepemimpinan nasional secara inkonstitusional. 

Dalam hal ini, institusi negara berkewajiban hadir dalam membangun kehidupan masyarakat yang memungkinkan terjadinya peningkatan kualitas demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Salah satu tugas terpenting institusi negara berikut para pemimpin dan para elite politiknya, berkewajiban untuk mencerdaskan rakyatnya yang terkait erat dengan upaya meningkatkan kualitas demokrasi. Dalam kaitan ini meningkatkan kualitas pendidikan politik yang sehat dan mencerdaskan, menjadi kuncinya.

Lalu, bagaimana kenyataan yang terjadi? Sangat memprihatinkan! Memasuki tahun politik 2018 menuju tahun Pemilu-Pilpres 2019, serangkaian peristiwa semakin memperlihatkan bahwa yang terjadi justru pembodohan demi pembodohan yang menggiring rakyat malah terpecah menjadi dua kubu yang berseteru secara lahir-batin, dan cenderung dipelihara untuk menjadi permanen. Berbeda seperti, ambil contoh Pemilu-Pilpres di Amerika, walau tak sepenuhnya bisa diperbandingkan. Di sana Partai Republik dan Partai Demokrat sangat sengit berhadapan saat pilpres berlangsung. Namun negara berikut para politisi dan intelektualnya, tidak menyeret dan mengajak rakyat pendukung yang saling berbeda pilihan, untuk berseteru lahir-batin berkelanjutan dan berkesinambungan untuk di permanenkan.

Dengan realita perseteruan yang merusak persatuan rakyat  belakangan ini, tidakkah hal ini merupakan pra kondisi untuk me-launching gerakan politik sesunggunya di balik semua ini? Tujuannya hanya satu: membubarkan Indonesia sebagaimana yang terjadi di sejumlah negara di belahan bumi ini? Dugaan dan kecurigaan ini rasanya cukup beralasan untuk dilontarkan mengingat indikasi ke arah sana kian hari semakin menjurus. Salah satu yang menghawatirkan ketika masalah agama dijadikan elemen sangat penting dalam menggelar politik segregasi yang mengkotak-kotakan rakyat ke dalam sekat-sekat yang menebalkan perbedaan dan garis pemisah. Persatuan dan semangat gotong royong antar sesama rakyat dan anak bangsa dinihilkan oleh perbedaan yang berangkat dari jendela beda pilihan dan beda keyakinan. Baik para pemimpin di jajaran kaum Nasionalis dan kaum Agamis, aktif terlibat mempertebal garis demarkasi dengan semangat segregatif yang tinggi. 

Nasionalisme Indonesia dan api patriotisme di bangsa ini kian terasa menghilang. Yang nyala berkobar justru nasionalisme yang sempit, bodoh, dan tak mencerdaskan. Sementara di sisi lain, para pemimpin yang mengusung bendera agama, bukan malah menebarkan hawa sejuk yang damai, penuh cinta dan kasih sayang antar sesama hamba Allah, tapi malah tebaran permusuhan dan semangat untuk saling meniadakan yang santer menggema di seluruh pelosok Nusantara.

Oleh karenanya, tidak berlebihan rasanya bila kekhawatiran akan semakin kentalnya ancaman bahaya disintegrasi bangsa, saya ajukan sebagai suatu keniscayaan. Tentunya bila para pemimpin di negeri ini lengah dan lalai. Sangat diperlukan untuk kembali menempatkan sejarah sebagai guru kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekaligus sebagai kompas penunjuk jalan menuju masa depan yang benar dan lebih baik. Salah satunya adalah catatan bahwa kekuatan yang menjadikan Indonesia sebagai negara bangsa yang merdeka dan hadir, adalah kekuatan yang lahir dan hadir oleh bersatunya para pemimpin  kaum Nasionalis dan para pemimpin di jajaran kaum Agamis. Dua kelompok ini lah kekuatan sejati yang merupakan fondasi dari bangunan kekuatan rakyat bangsa ini.

Nah, siapa pun, atau kekuatan apapun yang menginginkan lumpuh dan pecahnya Indonesia sebagai bangsa, tidak ada lain  kecuali memisahkan dua kekuatan ini untuk dibenturkan saling berhadapan dan saling menghancurkan! Itulah sekarang yang tengah terjadi. Ulah siapa dan demi kepentingan fihak mana? Saya serahkan pada Anda untuk menjawabnya! Sambil tentunya melangkah kembali ke jalan yang benar; ke jalan cita-cita Revolusi Indonesia. 

Untuk itu, Indonesia memerlukan pemilu yang cerdas, bermartabat, dan yang meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan Pemilu-Pilpres yang kaya permusuhan dan pembodohan; lewat fitnah, hoax, dan berbagai pendangkalan yang menyesatkan!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Niko Adrian

Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI

FOLLOW US

Perlu Membangun Model yang Standar             Demi Suharto Pemerintah dan Oposisi Bersatu             Petahana Demisioner vs Penantang Bulldozer             Dikhotomi Orde Baru dan Reformasi : Masih Relevankah?              Turn Back Orba             Percakapan Dari Orang ke Sistem             Orde Baru Politik Sesaat dan Tantangan Menuntaskan Reformasi             Pertarungan Idiologi             Bangkit Orde Para Bandit             Pendekatan Dialogue dalam Penyesuaian Konflik Papua Lebih Efektif, Ketimbang Operasi Militer