Perang dan Peradaban yang Terancam
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 09 January 2020 16:00
Watyutink.com -

"Perdamaian, perdamaian
Banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai...."

Inilah penggalan syair lagu "Perdamaian" karya Abu Haidar yang dinyanyikan oleh Grup nasyid Nasyida Ria dari Semarang pada tahun 80-an. 

Syair lagu ini adalah satire yang menggambarkan realitas yang terjadi saat ini. Di saat semua pihak menyerukan pentingnya hidup damai, toleran dan sedang berupaya keras melawan terorisme dan intoleransi sebagai biang kerusuhan yang merusak kedamaian, tiba-tiba umat manusia dihadapkan pada situasi ancaman perang dunia ke-3.

Terbunuhnya Jenderal Qassim Sulaimani, Panglima Garda Revolusi Iran menjadi pemicu meningkatnya ketegangan hubungan Iran dengan AS yang bisa menimbulkan perang terbuka. 

Ini terjadi karena Bagi Iran Jenderal Qasim adalah simbol martabat bangsa, dia bukanlah jenderal biasa. Jenderal Qasim adalah andalan  pemerintah Iran untuk melakukan operasi militer dan intelijen  ke berbagai negara. Berbagai misi operasi telah dilakukan sang jenderal ke berbagai negara. 

Terbunuhnya Jenderal Qasim adalah tamparan bagi bangsa dan pemerintah Iran. Mereka tidak saja merasa kehilangan jenderal yang menjadi andalan tetapi juga merasa martabat mereka telah dilecehkan oleh Amerika.

Atas alasan inilah maka Iran merasa harus membalas serangan terhadap AS. Hal ini ditunjukkan dengan pengibaran bendera merah di Masjid Jamkaran di kota Qomm, Iran. Bendera merah bagi warga Iran (Syi'ah) adalah simbol atas darah yang tertumpah karena ketidakadilan dan panggilan pembalasan dendam atas kematian orang yang dicintai. 

Pembalasan dendam atas kematian Jenderal Qassim ini juga dinyatakan secara tegas oleh Presiden Iran Hassan Rouhani yang:  "... mereka (AS) akan melihat dampak dari tindakan kejahatannya, tidak hanya hari ini tetapi untuk tahun-tahun yang akan datang". Tidak hanya itu Iran mengancam akan menghancurkan kota-kota kunci Israel.

Tantangan Iran ini segera dijawab oleh Presiden AS, Donald Trump. Dia bilang AS telah mendeteksi 52 situs peradaban di Iran sebagai sasaran yang akan dihancurkan jika Iran melakukan serangan balas dendam. Karena bagi AS pembunuhan terhadap Jenderal Qassim adalah bagian dari tugas melawan terorisme. Di mata Trump Jenderal Qassim adalah dalang dan gembong teroris yang harus dimusnahkan. 

Segeraa terbayang bagaimana rusaknya peradaban manusia jika hal ini benar-benar terjadi. Sekadar perbandingan, Perang Suriah yang berlangsung sejak Agustus 2014 telah menghancurkan situs-situs penting yang menjadi jejak peradaban dunia. Berdasarkan laporan PBB yang dirilis pada 23 Desember 2019, perang di Suriah telah membawa pengaruh pada kondisi situs sejarah, dengan rincian 24 situs hancur sama sekali, 104 situs sejarah rusak parah, 85 rusak ringan dan 77 situs memerlukan perbaikan.

Situs-situs yang rusak kebanyakan situs pra sejarah, jalur sutra, peninggalan artefak perang salib dan jutaan benda-benda yang bernilai sejarah tinggi. Situs-situs itu terletak di kota-kota yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai kota warisan peradaban dunia, di antaranya kawasan kota tua Aleppo, Bosra, Damaskus, kastil Crue des Chevalilers dan area Oasis Palmyra yang sudah ada sejak zaman Romawi Kuno.

Perang Suriah tidak hanya menghacurkan situs peradabam yang menjadi sejak sejarah suatu bangsa tetapi juga menyebabkan terjadinya pencurian terhadap benda-benda sejarah bernilai tinggi. Berdasarkan laporan Asosiasi Perlindungan Situs Arkeologi Suriah (APSA) selama berlangsung perang saudara terjadi 14.000 pencurian benda-benda bersejarah di Suriah.

Jika perang Iran-AS benar, benar terjadi dan ancaman masing-masing negara tersebut diwujudkan berapa juta lagi warisan peradaban mamusia akan hancur dan berapa kota bersejarah akan luluh lantak karena ledakan missil dan bom. 

Melihat suasana yang ada, tampak peradaban nanusia benar-benar berada dalam ancaman. Apalagi ancaman balas dendam Iran tidak hanya gertak sambal. Iran benar-benar melaksanakan ancaman tersebut dengan melepas 17 missilnya ke pangkalan militer AS di Irak.

Setelah serangan missil Iran ke pangkalan militer AS ini, ada upaya untuk menggagalkan serangan ke situs-situs sejarah. Sebagaimana pernyataan Donald Tump yang akan mengikuti hukum internasional dengan membatalkan rencana penyerangan terhadap situs-situs warisan sejarah dan budaya Iran karena berpotensi mengarah pada kejahatan. 

Pernyataan Trump ini juga didukung oleh Pentagon melalui Menteri Pertahanan AS Mark Esper. Menurutnya langkah menarget situs budaya bisa memicu konflik berkepanjangan, karena bertentangan dengan hukum internasional.

Meski demikian, perang tetap saja mengancam peradaban manusia. Karena tak ada jaminan senjata yang tidak punya mata dan rasa itu akan salah sasaran. Oleh karena itu cara terbaik menjaga peradaban adalah mencegah terjadinya perang dan terorisme. Untuk itu, ada baiknya kita merenungkan kembali satire yang ada dalam penggalan lagu Perdamaian:

"Rumah sakit kau dirikan, orang sakit kau obatkan..... bom atom kau ledakkan semua jadi berantakan".

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)