Perang Dagang: BRICS-UE Ngotot, Trump Melunak
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
04 December 2018 14:00
Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Argentina yang digelar 30 November dan 1 Desember lalu memang istimewa. Bukan hanya karena dihadiri oleh kepala-kepala pemerintahan negara besar seperti Amerika, Rusia, Cina, Perancis, Jerman,  dan lain lain. Indonesia tampaknya belum merasa cukup besar atau malah menganggap G20 kurang penting sehingga mengirim Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Argentina.

KTT tersebut menjadi istimewa karena gagal menghangatkan kembali hubungan ekonomi Amerika dengan Uni Eropa (UE). UE tetap menolak perudingan dagang dengan Amerika dalam bentuk apapun. UE hanya mau bernegosiasi setelah Amerika mencabut semua ancaman dagangnya, dan membatalkan hambatan tarif atas produk-produknya.

Sebelum KTT, Amerika menawarkan perundingan untuk mewujudkan Akta Perdagangan Bebas secara penuh kepada UE. Dalam arti, negara yang terlibat menghapus semua hambatan tarif (bea masuk), dan mencabut subsidi ekonomi. Bila terwujud, Amerika-UE bisa menjadi raksasa baru karena tak hanya memiliki kekuatan ekonomi yang super tapi juga teknologi.

Masih di Argentina, BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa), tetap menganggap Presiden Trump sebagai ancaman terhadap kerjasama ekonomi dunia. Unilateralisme dan proteksi ekonomi Trump dituding sebagai penghambat kerjasama perekonomian dunia dan melemahkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dengan alasan ini,  BRICS bersepakat untuk terus mengembangkan kerjasama multilateral di semua penjuru dunia.

Bisa jadi,  berkat tekanan-tekanan tersebut, Amerika membuat kejutan kepada peserta G20. Dalam pertemuan puncak antara Trump dengan Presiden China Xi Jinping di sela KTT G 20, keduanya bersepakat  melakukan gencatan senjata selama 90 hari. Dengan catatan, bila China tak memenuhi tuntutan Amerika, perang dagang akan digelar lebih dahsyat.

Tak jelas apa yang bakal terjadi 90 hari ke depan. Apakah Amerika atau China yang akan lebih dulu menggelar perang dagang lebih dahsyat. Atau sebaliknya, akan muncul kesepakatan baru untuk mengakhiri perang dagang yang telah terjadi. Harap maklum, baik China maupun Amerika tak menghendaki perekonomiannya rusak.

Dalam perjanjian gencatan senjata tersebut disebutkan bahwa China akan melakukan perombakan menyeluruh untuk mengakhiri alih teknologi secara paksa, memberikan perlidungan terhadap hak milik intelektual, menghapus hambatan non tarif, menghentikan penyusupan dan pencurian di dunia maya. Untuk menekan defisit perdagangan, China diwajibkan membeli berbagai produk pertanian dan industri, dan energi dari Amerika.

Trump tentu akan berusaha keras agar perang dagang akhirnya tak berlanjut. Bila berlanjut, dia akan terlibat konflik lebih dalam dengan para investor Amerika sendiri. Sebab, selama periode 2000 sampai 2017, penanaman modal langsung Amerika di China bernilai 107,56 milliar dolar AS. Tujuan utamanya adalah untuk memasok kebutuhan China dan Amerika.

Sebaliknya, selama periode 2005 sampai Juni 2018, para investor China menanamkan 175 miliar dolar AS di Amerika. Salah satu tujuan mereka adalah menghasilkan berbagai produk untuk dijual di China.

Maka tak sulit membayangkan betapa besarnya kerugian para investor bila Amerika dan China saling memblokir ekspor-impornya. Ini belum termasuk kerugian dari perusahaan-perusahan Amerika yang mengandalkan China sebagai salah satu pasar utamanya. Demikian pula dengan perusahaan China yang berorientasi ekspor ke Amerika.

Sayang tak jelas langkah apa yang dilakukan Indonesia di arena KTT G20 untuk menyelesaikan perang dagang yang bisa menyuramkan perekonomian dunia. Yang pasti pemerintah mengklaim menguatnya rupiah adalah akibat redanya perang dagang Amerika lawan China, selain kebijakannya yang tepat sasaran. China juga senang tentunya karena menguatnya rupiah bisa membuat barang-barangnya lebih mudah menguasai pasar Indonesia karena ditopang pelemahan yuan yang memang disengaja oleh Beijing.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang