Pemimpin Gerakan: Prabowo atau Rizieq dkk?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
20 May 2019 13:00
Watyutink.com - Judul tulisan kali ini merupakan reaksi spontan ketika mendapat postingan yang isinya ajakan menghadiri ‘Iftor Akbar 212; Jihad Konstitusional, 21-22 Mei’. Seruan kepada warga Jakarta dan sekitarnya ini, menyertakan foto para tokoh pada pamflet digital yang tentunya sengaja dirancang untuk diviralkan. Dalam selebaran digital itu terpampang foto Habib Rizieq yang berada di depan, membelakangi dua tokoh Nasional yang juga merupakan Capres dan Cawapres 02, Prabowo-Sandi.    

Menatapi foto yang menjadi ilustrasi pamflet digital ini, membuat saya dipaksa membacanya lewat kacamata politik. Sekalipun kegiatan sengaja mencuatkan aroma berbau kegiatan keagamaan, namun tak dapat dinisbikan betapa aroma politiknya terasa lebih dominan. Pasalnya, walau isi ajakan berupa seruan untuk melakukan demo bertemakan buka bersama (bukber) dengan damai, tempat perhelatan yang juga menjadi sasaran utama demo Ifthor Akbar 212 ini adalah Kantor KPU RI.

Dengan menempatkan perhelatan yang dibungkus dengan kegiatan keagamaan (bukber), memancing saya untuk bertanya;  lho…, yang memimpin dan sebagai pemangku komando tertinggi siapa sebenarnya… Rizieq atau Prabowo? Bila Prabowo, mengapa dengan sengaja foto Rizieq begitu menonjol di depan membelakangi Prabowo-Sandi? Dari kacamata (semiotika) politik, saya tak bisa berpendapat lain kecuali membacanya dengan kesimpulan; Rizieq adalah pemimpin gerakan politik Paslon 02 (Gerakan Kedaulatan Rakyat) yang sesungguhnya!

Siapa pun yang mendesain pamlet digital tersebut, diduga kuat berilusi atau setidaknya sangat berharap, terjadi sesuatu seperti saat rakyat Iran menggulingkan Syah Iran, Reza Pahlevi. Harapannya, apa yang dilakukan Ayatolah Khomeini dengan Revolusinya (1979), akan terjadi hal yang serupa di negeri ini walau tak sepenuhnya sama. Hadirnya kesempatan itu, dirancang dan dilakukan secara terencana dan sistimatis, lewat tahap demi tahapan dalam gerakan politik Paslon 02 menuntut keadilan pada Pemilu 2019 ini. 

Figur Habib Rieziq yang selalu ditampilkan jauh hari sebelum Pemilu 2019 digelar, telah dilakukan lewat rancangan tersebut secara besar-besaran. Termasuk ketika dilakukan penobatan diri Habib Rizieq sebagai Ulama Besar sang pemimpin umat yang tertindas di negeri ini. Citra sebagai orang bersih, ikhlas dalam berjuang, dan ulama besar yang disegani kawan dan ditakuti lawan pun dibangun dan terbangun dengan sempurna. Hanya sayang kasus ‘chating porno’ (rekayasa menurut versi pendukungnya) telah membuat diri Habib menjadi tak nyaman. 

Dengan alasan demi kepentingan perjuangan dan keamanan dirinya dari upaya ‘kriminalisasi ulama’ oleh negara, Habib Rizieq memilih kota Mekah sebagai tempat ‘pelariannya’. Keberadaan dalam pengasingan yang juga pernah dilakukan Ayatolah Khomeini di Paris saat melakukan perlawanan terhadap Syah Iran (1979), bisa jadi merupakan rujukan dalam mendesain gerakan ‘2019 Ganti Presiden!’. 

Mencermati  konsep gerakan yang selama ini mereka lakukan dengan meleburkan diri pada aktivitas gerak politik pendukung 02, diduga keras strategi yang mereka terapkan adalah rumusan 3R (Resah, Rusuh, Revolusi). Pada puncaknya bila strategi ini sukses dijalankan, memboyong sang Habib pulang seperti dilakukan Ayatolah Khomeini ketika meletusnya Revolusi Iran, merupakan mimpi yang menjadi harapan dan sekaligus tujuan utama dari gerakan mereka . Dengan demikian, mereka berharap kepemimpinan sang Habib akan seperti posisi dan kedudukan Ayatolah Khomeni dalam revolusi Iran.

Tentu saja tulisan ini hanya sebatas hipotesa yang lahir dari hasil menatap foto yang terpampang pada selebaran pamflet digital yang telah menjadi viral di dunia maya. Ditambah lagi kepergian Prabowo meninggalkan Indonesia tanpa pesan dan arahan yang signifikan tentang pelaksanaan gerakan kedaulatan rakyat. Sehingga suara Habib Rizieq lebih eksis sebagai suara komando berjihad bagi umat pendukungnya. Hal mana sudah terasa hadir menjadi komando gerakan kubu 02 dalam menjalankan peralawanan politik terhadap pemerintahan Jokowi. Semakin nyata ketika fatwa perlawanan politik sang Habib sengaja ditayangkan pada perhelatan kampanye akbar kubu 02 (7 April 2019) di GBK Senayan Jakarta.

Sementara Amien Rais berperan sebagai pengeras suara yang memperbesar seruan Habib dalam melakukan perlawanan lewat gerakan yang sekarang sengaja disebut sebagai Gerakan Kedaulatan Rakyat (sebelumnya People Power). Duo Habib Rizieq dan Amien Rais inilah yang dalam praktiknya merupakan sumber dan enerji paling aktif melahirkan gerakan massa pendukung Paslon 02 yang militan dan siap berjihad hingga titik darah penghabisan memenangkan tuntutan politiknya. Motto utamanya: KPU memenangkann 01, Kami siap berjihad hingga titik darah penghabisan!

Celakanya, gerakan ini dibalas dengan aksi kesiagaan pemerintah menghadapi gerakan yang mengatasnamakan massa kubu 02 dengan mengerahkan ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu aparat keamanan yang dipersenjatai secara lengkap. Pasukan terdiri dari gabungan personil TNI dan POLRI. Sehingga hal ini membuat rasa aman terbangun di masyarakat dengan keamanan secara fisik terjamin. Namun di sisi lain, secara psikologis berdampak pada meningkatnya ketakutan publik penduduk kota-kota besar, khususnya Jabodetabek. Hati dan pikiran rakyat dihantui pertanyaan; memangnya akan ada perang antara aparat keamanan dan para pendukung Paslon 02?

Untungnya barisan emak-emak yang dikomando oleh BPN gabungan partai koalisi pendukung Paslon 02 yang resmi, cukup tanggap dan cerdas membaca lapangan. Mereka sengaja menurunkan barisan emak-emak di garda paling depan dalam melakukan kegiatan demo protes ke Bawaslu dan KPU. Hal ini akan berdampak menurunkan tensi lapangan sehingga berbagai bentuk kekerasan dipersempit ruang gerak dan kemungkinan untuk melakukannya. 

Mengantisipasi pergerakan kubu 02 dengan strategi yang salah melalui pendekatan keamanan ansich (semata), justru merupakan hal yang tidak boleh terjadi. Kekerasan bersenjata terhadap massa yang melakukan demo, justru merupakan hal yang diharapkan terjadi oleh para perancang kerusuhan. Hanya dengan adanya ruang implementasi strategi 3R (Rusuh, Resah, Revolusi), impian kelompok yang menginginkan terciptanya peristiwa sebagaimana terjadi pada Revolusi Iran 1979, mendapatkan angin yang membuka kemungkinan bagi mereka menguasai negeri ini.    

Oleh karenanya berpikir secara jernih dan tetap berhati dingin, merupakan pilihan yang harus diambil oleh para petinggi di lembaga pemerintah sipil, dan terutama di lembaga militer maupun kepolisian. Sikap jumawa dengan mengandalkan kesiapan untuk menghabisi lawan (baca: rakyat sendiri) merupakan sikap yang hanya akan memicu percikan api menjadi kobaran api yang memusnahkan segalanya.

Selamat berdemo dengan damai emak-emak barisannya Prabowo-Sandi. Selamat berjaga-jaga juga buat para prajurit TNI-POLRI. Selamat bersama menjaga Pemilu yang bersih, jujur, adil. Dan…Selamat bersama pula menjaga keutuhan NKRI..!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan