Pemilihan Umum untuk Demokrasi Lingkungan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
13 April 2019 10:00
Watyutink.com - Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan, secara global telah merusak ekosistem Bumi, dan membahayakan kehidupan masyarakat. Demikian kesimpulan Geo-6, kajian mutakhir tentang keadaan lingkungan saat ini.

Geo-6  atau Global Environmental Outlook keenam yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan PBB (UNEP) mencatat langkah utama yang harus dilakukan. Di antaranya mengurangi degradasi lahan, membatasi punahnya keanekaragaman hayati, dan mencegah pencemaran. Selain itu juga memperbaiki pengelolaan sumber daya,  menangani perubahan iklim, serta manajemen risiko dan bencana.

Untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan hidup, tiada cara yang lebih ampuh daripada kebijakan publik yang ambisius diiringi penegakan yang efektif.

Secara harfiah, nasib beragam kebijakan yang mutlak untuk Indonesia  akan berada di tangan mereka yang melalui Pemilu 2019 memperoleh kepercayaan lebih dari 190 juta rakyat Indonesia untuk menjadi presiden dan wakil presiden, anggota DPR-RI, anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten/Kota, dan anggota DPD.

Mengapa masalah lingkungan masih terus terjadi meskipun manusia sudah mengetahui konsekuensi perbuatannya maupun cara mengatasinya?

Majalah Psychology Today pernah mencoba menjawabnya dengan merujuk pada tulisan Mary Pipher dan Tara Bach. Manusia menghadapi terlalu banyak masalah dalam kehidupan sehari harinya, seperti kejahatan, ekonomi, dan penyakit kanker. Otak manusia tidak mampu menampung semua masalah yang  memerlukan perhatian utama, dan hanya dapat fokus pada masalah yang harus segera diatasi. Selain itu, sebagian besar manusia juga sudah tidak peka pada alam sekitarnya, terpisah dari Bumi yang sejatinya merupakan bagian dari eksistensi diri.

Kiat untuk meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan hidup termasuk menambah wawasan, percaya pada kemampuan diri dan tidak tegang mencoba mengatasi semua permasalahan yang ada, serta belajar jatuh cinta pada alam semesta dan segala isinya.

Dinamika populasi manusia, khususnya tekanan populasi, dan pembangunan ekonomi telah lama diakui sebagai penyebab utama berubahnya lingkungan hidup. Dinamika ini diperparah lagi dengan urbanisasi serta inovasi teknologi yang meningkat pesat.

Selain kebijakan lingkungan yang ambisius dan diterapkan secara efektif untuk menangani permasalahan lingkungan, menurut Geo-6 diperlukan juga informasi ilmiah dan sumber pembiayaan yang memadai. Selanjutnya harus ada  peningkatan kapasitas untuk pengelolaan lingkungan yang dibarengi komitmen dan kemitraan semua pemangku kepentingan.

Pemimpin dan wakil rakyat yang nantinya terpilih sebenarnya sudah memiliki modal yang dapat menunjang proses penentuan kebijakan, yaitu kondisi demokrasi lingkungan di Indonesia.

Konsep demokrasi lingkungan yang dipelopori oleh World Resoures Institute, berakar pada gagasan bahwa partisipasi masyarakat sangat penting untuk memastikan bahwa keputusan terkait lahan dan sumber daya alam dapat  memenuhi kepentingan warga secara memadai dan merata.

Pemetaan demokrasi lingkungan pada tahun 2015 untuk 70 negara, menggambarkan bagaimana peraturan perundang-undangan di tingkat nasional melindungi hak-hak demokrasi lingkungan. Pemetaan ini menghasilkan indeks, menggambarkan kemampuan masyarakat untuk mengakses informasi tentang kualitas dan masalah lingkungan (transparansi), untuk berpartisipasi secara bermakna dalam pengambilan keputusan, dan untuk mencari keadilan dalam kasus kerusakan lingkungan.

Indonesia yang menempati urutan 16 dari 70 negara, dinilai memiliki kinerja yang sangat baik pada pilar Transparansi, prestasi baik pada pilar Keadilan, dan hasil memadai pada pilar Partisipasi. Sebagai perbandingan, peringkat Indeks Demokrasi Lingkungan tertinggi diperoleh Lithuania dan terendah oleh Haiti. Amerika Serikat dan Rusia masing-masing menduduki posisi 3 dan 8, sedangkan Jepang dan Malaysia berada pada ranking 32 dan 69 dari 70 negara yang dikaji.

Siapapun pemimpin dan wakil rakyat yang terpilih melalui Pemilu 2019 semestinya dapat meningkatkan Indeks Demokrasi Lingkungan Indonesia ke posisi yang jauh lebih tinggi.

Sanggupkah mereka menerima amanah bangsa Indonesia dan berjuang untuk lingkungan hidup yang layak agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati hidupnya dengan guyub, nyaman, dan tenteram?

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan