Peluang Usaha di Tengah Krisis Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
22 June 2019 10:00
Watyutink.com - John F. Kennedy, orator ulung yang juga Presiden Amerika Serikat 1961-1963, selalu dikenang melalui tuturannya. Salah satu yang kerap dikutip berbunyi "Orang Cina menggunakan dua sapuan kuas untuk menulis kata 'krisis.' Satu sapuan kuas berarti bahaya; yang lain untuk peluang. Dalam krisis, waspadai bahaya - tetapi kenali peluangnya.”

Agaknya kepercayaan bahwa ada peluang di balik krisis, merambah jalan ke arah peluang usaha di tengah krisis iklim yang sedang mendera bumi ini.

Dampak perubahan iklim seperti gelombang panas, naiknya permukaan laut, kekeringan, banjir, kebakaran hutan dan musim yang semakin tidak menentu menimbulkan berbagai ancaman bagi manusia. Meningkatnya suhu lautan dan pengasamannya membahayakan ekosistem laut, serta berdampak buruk bagi budaya, pasokan pangan, dan mata pencaharian penduduk.

Perubahan iklim merupakan permasalahan global sehingga untuk menanggulanginya diperlukan mobilisasi sumber daya secara global pula, melalui mitigasi dan adaptasi.

Mitigasi adalah upaya memperlambat proses perubahan iklim dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfera yang berasal dari kegiatan manusia, contohnya dengan menggunakan energi terbarukan dan transportasi umum. Sedangkan adaptasi merupakan cara melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global, misalnya dengan penanaman padi tahan kekeringan ataupun pembangunan tembok pelindung dari gelombang di pesisir pantai.

Dari berbagai aktivitas mitigasi dan adaptasi inilah berkembang peluang usaha bagi mereka yang jeli mencari kesempatan maupun yang memiliki modal usaha.

Akhir tahun lalu, analisis yang dilakukan oleh International Finance Corpration dari kelompok World Bank menyimpulkan bahwa kota-kota di negara berkembang memiliki potensi untuk menarik lebih dari 29,4 triliun dolar AS dalam investasi kumulatif terkait iklim di enam sektor utama pada tahun 2030.

Pada analisis berjudul Climate Investment Opportunities in Cities, kota-kota yang dipantau meliputi Jakarta, Belgrade, Nairobi, Rajkot, Amman dan Mexico City. Estimasi potensi investasi digali dari enam sektor, yaitu limbah, energi terbarukan, transportasi umum, air, kendaraan listrik, dan bangunan hijau. Khusus untuk Kota Jakarta,  peluang investasi dari keenam sektor tersebut mencapai 30 miliar dolar AS, atau sekitar 17 persen dari Produk Domestik Regional Bruto DKI Jakarta tahun 2018.

Di tingkat global, tentunya peluang usaha ini jauh lebih tinggi lagi nilainya, seperti terungkap dalam laporan yang baru saja diterbitkan oleh CDP, sebuah lembaga nirlaba yang menjalankan sistem pernyataan informasi lingkungan dari para investor, perusahaan, dan kota.

Dalam laporan berjudul Major Risk or Rosy Opportunity. Are Companies Ready for Climate Change? sekelompok perusahaan terbesar di dunia menyimpulkan,  keuntungan kumulatif dari peluang usaha terkait perubahan iklim dapat mencapai  2,1 triliun dolar AS. Peluang tersebut termasuk peningkatan pendapatan melalui permintaan akan produk dan layanan rendah emisi (seperti kendaraan listrik), pergeseran preferensi konsumen dan peningkatan ketersediaan modal karena lembaga keuangan semakin memilih produsen yang lebih ramah lingkungan.

Hal yang penting dari kajian CDP sebenarnya bukan hanya peluang bisnis yang dapat diwujudkan, namun juga krisis iklim yang dihadapi oleh dunia usaha. Kelompok perusahaan yang disebutkan di atas mewakili hampir 17 triliun dolar AS dalam kapitalisasi pasar. Menurut mereka, nilai risiko bagi bisnis karena adanya perubahan iklim dapat mencapai hampir  1 triliun dolar AS dalam 5 tahun ke depan, atau hampir 6 persen dari kapitalisasi pasar kelompok tersebut.

Merujuk tuturan John F. Kennedy, “Dalam krisis, waspadai bahaya - tetapi kenali peluangnya.” Intinya, jangan sampai hanya mengejar peluang usaha di tengah krisis iklim, namun bahaya dampaknya tidak diwaspadai, sehingga mengancam kehidupan dan penghidupan umat manusia.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional