Pamor Earth Hour
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 27 March 2021 09:00
Watyutink.com - “Saya Benhur Tomi Mano, Wali Kota Jayapura, mendukung dan mengajak seluruh masyarakat Kota Jayapura untuk berpartisipasi dalam gerakan Global Earth Hour 2021. Mari bersatu untuk melindungi planet kita, melindungi keanekaragaman hayati dan rumah kita bersama.”

Pernyataan Wali Kota Jayapura melalui video pendek ini adalah satu di antara jutaan dukungan dari ratusan negara untuk Earth Hour, salah satu gerakan masyarakat terbesar di dunia untuk lingkungan hidup.

Earth Hour yang jatuh pada pukul 20.30-21.30 hari Sabtu terakhir di bulan Maret setiap tahun, digagas oleh organisasi lingkungan WWF, bersama para mitranya.  Acara itu mulai dilaksanakan pada tahun 2007 dengan mengajak individu, komunitas, bisnis, dan pemerintah mematikan lampu selama satu jam, untuk memusatkan perhatian pada perubahan iklim yang sedang terjadi.

Kini, Earth Hour yang merupakan aksi simbolis mematikan lampu diiringi berbagai kegiatan lainnya, juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan memicu perbincangan global tentang bagaimana melindungi alam. Tidak hanya untuk memerangi krisis iklim, tetapi juga untuk memastikan kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran, dan bahkan kelangsungan hidup manusia.

Banyak yang skeptis tentang Earth Hour, karena bagaimana mau mematikan lampu sedangkan krisis listrik kadang melanda berbagai daerah dan bahkan masih ada tempat-tempat yang belum teraliri listrik? Meskipun demikian, pamor Earth Hour sudah sangat mendunia.

Tahun lalu, kendatipun di masa pandemi, perayaan tetap meriah dengan mematikan lampu ditambah beragam acara yang diselenggarakan secara digital. Earth Hour 2020 menghasilkan lebih dari 3 miliar tayangan media sosial secara global dan tagar terkaitnya menjadi tren di 37 negara .

Selain itu, lebih dari 100 bangunan bersejarah di seluruh dunia mematikan lampunya pada pukul 20:30 – 21:30. Diantaranya Menara Eiffel di Paris, Koliseum di Roma, Kremlin di Moskow, Tower Bridge di London, Stadion Nasional di Beijing, Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, serta Monumen Nasional dan Balai Kota di Jakarta.

Menurut WWF, Indonesia merupakan salah satu negara penggerak Earth Hour terbesar di dunia yang didukung oleh 2000 relawan aktif dari 33 kota pendukung, serta 2 juta suporter yang giat di media sosial.

Tahun ini Earth Hour Medan menyelenggarakan perayaan tertutup yang berjudul “Earth Hour Kito” yang berarti perayaan Earth Hour dapat dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Earth Hour Kito mengajak pemuda untuk kampanye perubahan iklim dan ketahanan pangan serta memanfaatkan lingkungan sekitar untuk gaya hidup ramah lingkungan.

Sedangkan Climate Reality Indonesia mengajak para pemudanya menikmati alam pegunungan guna merayakan keindahan Bumi. Mereka akan mengunjungi air terjun dan mata air yang ada di wilayah Tajur Halang, Cijeruk, Bogor. Selain itu juga berinteraksi dengan Karang Taruna setempat, nonton bareng dan berbagi cerita tentang Bumi. Kegiatan semacam ini dapat merawat tanggung jawab menjaga Bumi di jiwa para pemuda Indonesia.

Selain mematikan lampu dan kegiatan lainnnya, acara global andalan tahun ini adalah “Earth Hour Virtual Spotlight." Pada Sabtu 27 Maret pukul 20.30, semua media sosial Earth Hour akan menayangkan video khusus yang membuat audiens memandang planet Bumi dan masalah yang dihadapi manusia dengan cara berbeda.

Informasi itu wajib dilihat dan disebarkan seluas-luasnya melalui media sosial jutaan orang di berbagai Negara, sehingga menjadikannya video yang paling banyak dilihat di jagat raya pada tanggal 27 Maret dan sesudahnya.

Menyebarkan video khusus tentang Bumi ketika Earth Hour sangatlah krusial, karena pada akhir tahun ini para pemimpin dunia akan berkumpul guna menetapkan agenda lingkungan untuk dekade berikut maupun setelahnya. Mereka akan membuat keputusan penting tentang menangani krisis iklim, melindungi alam, dan mendorong pembangunan berkelanjutan, yang secara langsung akan memengaruhi nasib umat manusia dan planet Bumi di tahun-tahun mendatang.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI