Palestina Terkubur, Israel Berkibar, Arab Bersujud Pada Trump
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 17 September 2020 13:00
Watyutink.com - Sekarang ini bangsa Palestina benar-benar harus berjuang sendiri melawan Israel. Para tetangganya, yang dulu pernah serius mendukung perjuangan kemerdekaannya, kini sibuk dengan diri. Mereka bahkan mulai mengibarkan bendera putih kepada Israel.

Sementara itu, mereka juga melanjutkan saling bunuh. Di Yaman, Libya, dan Suriah bom-bom dan desingan peluru tak kunjung reda. Pelaku dan korban sama-sama orang Arab dan suka meneriakkan takbir.

Seperti raja-raja Nusantara yang akhirnya bertekuk lutut kepada VOC, kini Israel dan Amerika kian berkibar karena menjadi tumpuan harapan sebagian bangsa Arab yang ingin keluar sebagai pemenang. Lihat saja, Bahrain dan Uni Emirat Arab telah menandatangani pakta perdamaian dengan Israel.

Tak seperti biasanya, Arab Saudi bungkam. Kekuatan ekonomi terbesar di dunia Arab ini bahkan dikabarkan akan melakukan hal yang sama, bersujud di hadapan Israel dan Amerika Serikat.

Semua itu jelas merupakan kemenangan besar bagi Israel dan sponsor utamanya, Amerika Serikat. Dunia Arab bahkan Islam seolah menanti waktu untuk menjadi bersujud ke Tel Aviv dan Washington.

Kenyataan itu membuktikan bahwa Israel dan para bekingnya tak perlu lagi mengerahkan pasukan untuk menundukkan dunia Arab bahkan Islam. Mereka cukup menebar senjata dan hoaks. Lalu menonton dari kejauhan bagaimana target mereka saling bantai.

Hal ini membuktikan bahwa bangsa Arab yang dulu pernah menjadi superpower dan pelopor ilmu pengetahuan seperti tak pernah belajar dari sejarah. Mereka terus saja saling melemahkan, dan meninggalkan gairah pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasilnya, kini Arab menjadi bangsa konsumen produk impor terutama dari Barat.

Apa yang terjadi di dunia Arab mengingatkan pada bagaimana VOC menaklukkan satu per satu para raja di bumi Nusantara. Diawali dengan perjanjian persahabatan, disusul bantuan senjata kepada raja yang sedang bertarung melawan saudara atau tetangganya sendiri. Setelah sukses menghabisi lawannya, sang raja wajib menyerahkan kedaulatan negaranya kepada VOC.

Nasib bangsa Palestina pun jadi tak menentu. Sejak invasi Amerika ke Irak, munculnya ISIS, berbagai pemberontak bersenjata dukungan Barat di Suriah, Libya, dan Irak, basis-basis perjuangan Palestina porak-poranda. Tak jelas berapa banyak orang Palestina yang dibantai karena dianggap kaki-tangan presiden Irak Saddam Husein, pemimpin Libya kolonel Muammar Gadaffi, dan Presiden Suriah Bashar Al Assad.

Bagi para pejuang Palestina, ketiga tokoh tersebut adalah pahlawan. Sebab mereka adalah pendukung gerakan kemerdekaan Palestina. Mereka bahkan mengizinkan membangun kamp-kamp pengungsi dan militer Palestina di negaranya.

Kini, dengan melemahnya Arab di hadapan Israel, mimpi bangsa Palestina memiliki negara sendiri makin pudar. Apalagi Benyamin Netanyahu telah mengatakan bahwa rencana aneksasi wilayah Palestina tak pernah dibatalkan, hanya ditunda.

Sungguh sebuah ironi kalau mengingat optimisme para pemimpin Arab di era presiden Mesir Jamal Abdul Nasser. Demi Palestina, mereka akan membubarkan Israel dan menguburnya di laut. Kini yang makin terkubur adalah bangsa Palestina.

Nama Presiden Trump dan Perdana Menteri Benyamin Nethayahu pun kian berkibar sebagai penakluk dunia Arab.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF