Nilai Intelektual Keindahan Alam Semesta
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 23 January 2021 16:00
Watyutink.com - Chairil Anwar, Sitor Situmorang dan Toeti Heraty adalah sedikit dari para penyair ternama yang secara mendalam berekspresi tentang permainya alam Indonesia dalam kata-kata. 

Di Prancis, puluhan tahun lalu, pelukis Claude Monet memadukan kecintaannya pada alam dan seni dengan menciptakan taman di mana pun ia menetap. Dikenal sebagai penggagas aliran impresionisme, Monet gemar melukis objek yang sama pada waktu dan cuaca berbeda. Ia menggoreskan rona taman, dan pendar cahaya, secara menakjubkan pada rangkaian kanvasnya.

Sudah sejak berabad-abad lamanya keindahan semesta menjadi muasal inspirasi para pujangga, pelukis, maupun pemusik. Namun, daya apakah gerangan yang membuatnya sedemikian menggugah kreativitas?

Alam semesta merupakan fenomena dunia fisik dan kehidupan pada umumnya, dengan skala yang berkisar dari subatom sampai kosmik. Termasuk di dalamnya hutan belantara, binatang liar, batu-batuan, pantai, dan area yang masih murni, ataupun yang sudah ada campur tangan manusia tetapi masih alami.

Ralph Waldo Emerson, penyair dan filsuf Amerika di Abad ke-19, berpendapat bahwa alam itu indah karena berjiwa, bergerak, dan berbiak. Alam lah tempat mengamati pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, yang jauh berbeda dengan benda buatan manusia yang masif dan statis.

Michael Popejoy, peneliti Harvard University, menggali pemikiran Emerson melalui analisis berjudul “Beauty in Nature.” Menurutnya Emerson memberi inspirasi  untuk melihat evolusi dan “survival” sebagai keindahan dan bukan proses tidak menarik dengan aturan ilmiah seperti reproduksi yang perlu dipahami melalui penelitian.

Di alam ini tidak ada satu mahkluk pun yang super kuat dan independen, karena semua saling berhubungan erat dengan lingkungannya secara unik.

Pada akhir abad ke-19, di Amerika Serikat berkembang sebuah metode pendidikan disebut “Nature Study” atau Studi Alam, yang berupaya mengajarkan sains melalui interaksi langsung dengan alam sekitar. Dalam hal ini, seperti ditulis Kevin Armitage dalam bukunya “The Nature Study Movement,” ketika masyarakat di Amerika menghadapi situasi ilmiah modern, mereka menjadi semakin gelisah. Ini karena karakter kehidupan sosial dan ekonomi yang tidak memihak, sehingga masyarakat beralih ke alam untuk meraih sukacita dalam kehidupan.

Ribuan orang Amerika kemudian beralih ke hobi baru, yaitu mengamati alam. Berbekal kamera dan botol pengumpul spesimen, mereka mengembara di hutan, padang rumput, dan gunung-gunung untuk menikmati flora dan fauna lokal sambil jeda sejenak dari dunia yang semakin modern.

Armitage mencatat bahwa mempelajari alam menjadi fokus dalam gerakan lingkungan modern, yang kemudian menjalar ke seluruh dunia. Dalam proses ini, orang menemukan banyak hal yang universal dalam kehidupan di bumi.

Kembali kepada kontemplasi Ralph Waldo Emerson, selain  menikmati keindahan alam berdasarkan persepsi diri dan mata hati, ia menyarankan untuk memandang keanggunan semesta sebagai objek intelektual. Alam demikian indah karena strukturnya yang rasional dan juga karena kemampuan manusia untuk memahami proses pelik dan pesona di dalamnya, seperti butiran salju, maupun debur ombak, melalui logika pemikiran.

Bayangkan nilai keindahan alam semesta yang dapat dinikmati di Indonesia. Genre anugerah Sang Pencipta ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi kaum kreatif, namun juga menciptakan kebahagiaan serta kenyamanan intelektual bagi warganya.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kawasan konservasi seluas 27 juta hektar.

Tersebar di Zamrud Khatulistiwa sebanyak 54 Taman Nasional dan 123 Taman Wisata Alam, ditambah dengan Taman Hutan Raya 28 unit, dan Taman Buru 11 unit. Juga ada Cagar Alam 219 unit, Suaka Margasatwa 72 unit, serta Kawasan Suaka Alam sebanyak 56 unit. Semuanya mutlak dilindungi dan dirawat, agar selalu memberi kedamaian dan kesejukan  bagi generasi kini maupun generasi mendatang.
 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI