New Abnormal Bukan Normal
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 29 May 2020 11:35
Watyutink.com - Apa yang dilakukan pemerintah dengan membuka kembali fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan bukanlah New Normal, melainkan New Abnormal. Sungguh, apa yang dilakukan adalah abnormal karena tak memiliki dasar yang normal. Maka tak mengherankan bila bisa berdampak sangat buruk bagi masyarakat, termasuk kematian massal.

Bagaimana tak berisiko tinggi kalau, ketika jumlah penderita dan korban tewas masih melejit, PSBB dilonggarkan. Apalagi persentase test Covid-19 yang telah dilakukan juga sangat rendah, bahkan tergolong terendah di dunia dan Asia.

Melihat kelakuan abnormal pemerintah tersebut, tenaga medis yang sudah berbulan-bulan bertaruh nyawa tentu dicekam ketakutan. Bagaimana tidak, mereka akan makin kewalahan karena kebanjiran pasien, sementara APD jauh dari memadai. Artinya, makin banyak dari mereka akan menjadi korban Covid-19.

Mogok, inilah kemungkinan yang akan mereka lakukan untuk menekan pemerintah agar lebih dewasa dalam menghadapi wabah Covid-19. Tidak gegabah seperti saat ini  sehingga mengancam keselamatan banyak orang, termasuk tenaga medis.

Kenyataan semacam ini tentu saja bisa memicu opini publik bahwa pemerintah lebih mengutamakan bisnis. Dilihat dari kunjungan Presiden Jokowi ke sejumlah Mal, terakhir di Bekasi, tak sulit untuk menerka bahwa  pebisnis yang diuntungkan adalah kelas elite yang dekat dengan elite politik.

Hal ini tentu saja juga akan meningkatkan kecemburuan sosial. Apalagi pemerintah juga telah mengembalikan mantan Menkes Prof Dr Siti Fadilah Supari ke penjara Pondok Bambu, yang 50 penghuninya positif Covid-19. Kesalahan Siti Fadilah adalah menjawab pertanyaan dari Deddy Corbuzier pada 21 Mei lalu.

Siti Fadilah sangat dikenal karena keberaniannya melawan Amerika dengan menutup laboratorium milik Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) di Jakarta pada 2009. Alasan Siti Fadilah, NAMRU adalah lembaga intelijen, dan mencuri bahan alami dari Indonesia untuk dikembangkan menjadi vaksin dan virus sekaligus untuk kepentingan Amerika sendiri, khususnya industri farmasi.

Pada 2017, Siti Fadilah dijatuhi hukuman penjara 4 tahun oleh pengadilan Tipikor. Kepada Deddy dia tidak mengakui pernah melakukan korupsi. Dia bahkan mengaku "dikorbankan". Beberapa pekan lalu dia dibebaskan sebagai bagian dari pembebasan 38  ribu terpidana lain untuk mencegah mereka dari penularan Covid-19.

Maka tak aneh bila muncul kecurigaan bahwa ada agenda tersembunyi di balik pengembalian Siti Fadilah ke penjara. Ini terkait dengan kenyataan bahwa usianya sudah 70 tahun dan mengidap berbagai penyakit akut sehingga sangat berbahaya bila tertular Covid-19. Salah satu kecurigaan tersebut terkait dengan nafsu menghabisi Siti Fadilah dengan cara alami, yaitu mengumpamakannya kepada Covid-19.

Bisa jadi, Siti Fadilah disingkirkan karena dia mengatakan kepada Deddy bahwa dia melihat ada kepentingan bisnis korporasi besar di bidang farmasi di balik wabah Covid-19. Atau dia dicurigai akan mengganggu program pemerintah terkait Covid-19. Di antaranya adalah membina kerja sama kembali dengan Amerika, termasuk menghidupkan lagi NAMRU. Atau, jangan-jangan sesungguhnya NAMRU sudah hidup lagi dalam bentuk dan nama berbeda.

Yang pasti, mengembalikan wanita sepuh seperti Siti Fadilah seperti ke penjara adalah abnormal. Sama dengan abnormalnya New Normal dan pernyataan kacau-balau para pembesar negeri ini yang membuat masyarakat sering bingung dan berang di tengah wabah Covid-19 yang kian menakutkan.

Indonesia memang sedang serba abnormal!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF