Naskah Lontar Kuno selaku Pamong Ilmu
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
09 March 2019 10:00
Hari Raya Nyepi yang baru saja berlalu bukan hanya hari libur nasional semata, namun juga merupakan saluran renungan, perjalanan dan manifestasi spiritual agar kehidupan manusia dapat sejahtera dan seimbang, dengan sesamanya, alamya, dan penciptanya.

Rangkaian ritual yang dilaksanakan umat Hindu ternyata juga berperan serta dalam menyelamatkan bumi yang kini kian tercemar. Pengamatan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa selama Hari Raya Nyepi di Bali, ketika ada jeda dalam bekerja, bepergian, menggunakan api, dan bersenang-senang, emisi karbon dioksida dan pencemaran udara jauh menurun dibanding biasanya. Karbon dioksida pemicu perubahan iklim adalah gas rumah kaca yang disebabkan antara lain oleh penggunaan bahan bakar fosil. 
 
Ritual dalam rangka hari raya Nyepi termaktub dalam naskah kuno yang tertulis pada daun lontar. Berasal dari pohon siwalan yang bernama ilmiah “Borassus flabellifer”, lontar digunakan sebagai alat tulis menulis sebelum adanya kertas.

Naskah lontar kuno mengandung banyak sekali pengetahuan seperti mantra, agama, astronomi, pengobatan tradisional, kidung, kisah, dan sejarah. Lontar terutama digunakan di Pulau Bali ratusan tahun lalu, namun naskah lontar kuno juga ditemukan di Pulau Jawa, Madura, Lombok dan Sulawesi.

Tidaklah mudah menjadikan daun lontar sebagai media tulis menulis, namun manusia Indonesia di masa lalu sangat telaten untuk membuatnya melalui langkah yang cukup panjang agar pengetahuan dapat tercatat dengan baik.

Seperti ditulis Majalah Trubus, daun lontar tua harus melalui proses rumit hingga dapat menjadi naskah. Daun dipotong dan dijemur sampai kekuningan, kemudian direndam dalam air dan digosok dengan sabut kelapa hingga bersih. Setelah dijemur kembali dan lidinya dibuang, daun-daun direbus dengan ramuan, lalu kembali dijemur dan dibasahi air sebelum dijepit selama beberapa bulan. 

Penulisan di daun lontar juga membutuhkan ketelitian tinggi karena ditorehkan dengan pisau khusus, lalu dioles dengan kemiri bakar yang telah ditumbuk agar terbaca dengan baik, dan dibubuhi minyak sereh supaya awet. 

Banyak naskah lontar kuno yang tersimpan di museum maupun ditemukan di rumah-rumah hanya menjadi wacana perdebatan maupun bahan tulisan ilmiah para filolog, ahli bahasa yang mendalami naskah kuno. 

Adalah Sugi Lanus, seorang cendekiawan lontar yang berusaha mendobrak tradisi ini. Pada sebuah acara yang digagas oleh Helianti Hilman, pendiri dan CEO Javara, Sugi dengan tegas berkata bahwa ia meninggalkan perdebatan ilmiah tentang hal-hal yang tidak penting dan fokus pada isi naskah lontar kuno bagi kemaslahatan umat manusia.

Sebagai pelestari lontar, Sugi Lanus juga merupakan kurator Museum Lontar di Bali dan pendiri Hanacaraka Society yang meneliti lontar Bali dan Lombok. Keilmuannya dirujuk oleh perguruan tinggi ternama di dunia seperti Princeton University, University of California Los Angeles, Leiden University, dan Oxford University.

Ditengah kesibukannya melakukan penelitian relief-relief terkait manuskrip lontar di Candi Borobudur, dan Herbalian Project untuk pemetaan herbal dalam lontar Bali dan Jawa Kuno, Sugi tetap giat meningkatkan kepedulian untuk pendayagunaan naskah lontar kuno. 

Teknologi terus berkembang, ilmu yang terkandung dalam naskah lontar kuno disalin ke dalam kertas untuk melestarikannya, kemudian direkam secara digital untuk keperluan individu maupun lembaga, sampai akhirnya disimpan dalam cloud computing, yang dalam waktu dekat bisa saja menjadi menjadi teknologi usang.  

Jika mereka yang hidup di masa lalu ekstra sabar menjadikan naskah lontar sebagai pamong ilmu, generasi masa kini sebagai pewarisnya seharusnya tidak hanya menggali apa yang terkandung di dalamnya. Inovasi dan kreativitas harus bermunculan agar ada kemajuan ilmu pengetahuan yang tidak lepas dari fitrah spiritual, sesuai dengan makna Hari Raya Nyepi. 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?