Nasib 30 Juta Migran Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 04 December 2021 18:50
Watyutink.com - Setiap harinya, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), banyak orang yang terpaksa harus meninggalkan daerah permukimannya karena adanya  konflik bersenjata, pembangunan infrastruktur, dan bencana, sehingga mereka menjadi terlantar di negeri sendiri.

Penduduk yang mengungsi karena bencana lingkungan dan perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, maupun siklon tidak sama statusnya dengan pengungsi lainnya. Karena hingga kini belum ada definisi hukum, maupun definisi yang disepakati secara internasional untuk mereka yang berpindah karena masalah lingkungan.

IOM mendefinisikan migran lingkungan sebagai orang atau kelompok orang yang terkena dampak buruk karena ada perubahan mendadak atau progresif dalam lingkungan hidupnya. Mereka diwajibkan untuk meninggalkan kediamannya, atau memilih melakukannya, baik untuk sementara atau permanen, di dalam negeri atau ke luar negeri.

Secara lebih spesifik, migrasi iklim merupakan subkategori migrasi lingkungan, yang alasan perpindahannya adalah perubahan iklim. Contohnya adalah pengungsi karena banjir, muka air laut yang meningkat, kekeringan, dan badai.

Data Internal Displacement Monitoring Center – Pusat Pemantauan Pemindahan Internal menunjukkan, pada tahun 2020 ada lebih dari 30 juta orang pengungsi internal baru di 145 negara dan teritori, terutama  karena dampak badai dan banjir.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan, pada tahun 2020 di Indonesia ada 1065 kejadian banjir dan 873 kejadian angin puting beliung. Satu bulan setelah siklon tropis Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur, sebagaimana dinyatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, ada lebih dari 84.000 jiwa yang masih mengungsi.

Berbicara tentang migran iklim, bukan hanya tentang angka-angka tetapi juga tentang perasaan mereka yang harus mengungsi dari rumahnya. Arifah Handayani, yang bermukim di tepian Sungai Ciliwung dan sering kebanjiran, berkisah.

Mereka yang tinggal di bantaran sungai kadang harus mengungsi sampai satu minggu hingga air surut. Tenda dari Dinas Sosial dapat memuat 30 orang ditambah barang-barang pengungsi. Malangnya, ada yang kondisi atapnya  sudah berlubang disana sini sehingga ketika hujan bocor.

Paling memberatkan bagi korban banjir adalah membersihkan rumah dan memilah barang-barang yang kebanjiran. Mana yang mau dibuang atau dicuci sampai bersih, yang pastinya akan memakan banyak energi. Pembersihan rumah dan seisinya pascabanjir dapat memakan waktu sampai berminggu-minggu.

Kesehatan umumnya menjadi masalah terbesar, karena dalam kondisi banjir, berbagai jenis penyakit sangat mudah menyerang, belum lagi dalam keadaan pandemi seperti sekarang.

Bagaimana bantuan internasional untuk para migran iklim? Menurut hukum pengungsi internasional, secara legal, migran iklim tidak dianggap sebagai pengungsi karena Konvensi Pengungsi Tahun 1951 tidak mengenal lingkungan hidup sebagai agen persekusi. Pengungsi adalah yang memenuhi kriteria persekusi karena alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan pada kelompok sosial tertentu atau opini politik.

Catatan negara-negara G-20 menjelaskan bahwa Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) sudah cukup kewalahan  dalam memberikan dukungan kepada 22,5 juta pengungsi yang diakui dunia. Menambahkan pengungsi iklim akan membuat mobilisasi sumber daya dan pendanaan lebih sulit dalam kondisi politik sekarang.

Arifah, korban banjir Sungai Ciliwung yang disebutkan di atas, mengatakan bahwa dalam keadaan kebanjiran, pengungsi memerlukan bantuan kebutuhan pokok seperti sandang dan tempat tinggal kering, serta makanan yang siap santap. Jika komunitasnya sudah tangguh bencana, maka kebutuhan pokok saat banjir datang, untuk sementara waktu, dapat dipenuhi masyarakat secara swadaya.

Karenanya, bantuan yang juga dibutuhkan adalah memberdayakan komunitas sehingga memiliki keterampilan untuk mengurangi risiko bencana banjir, seperti memantau ketinggian air yang masuk dan menyiapkan evakuasi agar harta benda dapat diselamatkan.

Pendapatnya sejalan dengan apa yang diharapkan oleh IOM. Perbincangan tentang migrasi iklim tidak boleh kehilangan fokus pada langkah pencegahan. Masyarakat harus berinvestasi dalam solusi iklim dan lingkungan untuk Planet Bumi, sehingga tidak perlu ada penduduk yang harus meninggalkan rumah mereka secara paksa sebagai migran iklim.
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF