Mewaspadai Potensi Krisis Ekonomi Dunia
YB. Suhartoko, Dr., SE., ME
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 17 February 2020 10:00
Watyutink.com - Situasi perlambatan dan ketidakpastian ekonomi dunia sudah sangat terasa sejak awal 2019 yang didorong oleh perang dagang dua raksasa ekonomi dunia, AS melawan Tiongkok, yang selanjutnya diikuti oleh negara-negara lain dengan kadar perang dagang yang lebih rendah.

Situasi deliberalisasi perdagangan ini, selanjutnya menekan pertumbuhan ekonomi, Pada April 2019, World Bank dan IMF kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2019. World Bank menurunkan dari 2,9 persen menjadi 2,7 persen sedangkan IMF menurunkan dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen. Selain itu, per Maret 2019 OECD juga mengoreksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2019 dari 3,6 persen menjadi 3,3 persen.

Ketidakpastian ekonomi global dipicu oleh, pertama, melandainya kurva imbal hasil surat berharga di AS, yang ditunjukkan oleh kecilnya selisih (spread) imbal hasil antara surat berharga tenor 10 tahun dengan 2 tahun merupakan selisih imbal hasil kurang dari 10 basis poin yang terkecil sejak berakhirnya krisis terakhir.

Kedua, perlambatan pertumbuhan industri Jerman dan inggris yang memicu perlambatan pertumbuhan ekonominya. Ketiga, turunnya investasi, ritel dan produksi di Tiongkok, Ketiga kondisi ini ditambah berbagai kondisi yang lain semakin menaikkan situasi  ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi akan semakin diperberat dengan fenomena virus Corona--Covid 2019-- yang melanda Tiongkok yang diperkirakan akan menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian dunia.

Posisi Tiongkok

Saat ini Tiongkok merupakan kekuatan ekonomi dunia ke-2 setelah AS. PDB Tiongkok tahun 2019 sebesar 13,6 triliun dolar AS, sedangkan PDB AS sekitar 20,4 triliun dolar AS. Peningkatan PDB Tiongkok lebih besar daripada peningkatan PDB AS dalam kurun waktu 16 tahun.

Pada tahun 2003 PDB Tiongkok sebesar 1,7 triliun dolar AS hanya sepertujuh PDB AS, selanjutnya pada tahun PDB AS hanya 1,5 kali PDB Tiongkok. Dari perspektif perdagangan internasional nilai ekspor dan impor Tiongkok sebesar 4,6 triliun dolar AS lebih besar dari AS yang hanya sebesar 4,6 triliun dolar AS.

Tiongkok merupakan importir terbesar barang-barang yamg berasal dari dari AS, Jepang dan India. Impor dari tiga negara tersebut melebihi impor Tiongkok dari negara lain. Uni Eropa dan Brazil sebagai kekuatan ekonomi dunia yang lain tercatat mempunyai nilai ekspornya terbesar ke Tiongkok. Pertumbuhan industri pariwisata sangat dipengaruhi oleh Tiongkok. Setiap tahun sekitar 150 juta penduduk Tiongkok melakukan perjalanan ke luar negeri dengan pembelanjaan sekitar 277 miliar dolar AS lebih besar dari AS yang hanya mencapai 144 miliar  dolar AS.

Mengacu pada data tersebut, tidak dapat disangkal lagi, Tiongkok mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi perekonomian dunia. Perekonomian Tiongkok melemah akan mendorong pelemahan ekonomi dunia, perekonomian Tiongkok membaik akan mendorong membaiknya perekonomian dunia.

Fenomena virus Corona yang melanda Tiongkok sejak awal tahun 2020 akan semakin memperburuk  kinerja perekonomian Tiongkok. Dapat dipastikan pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan sampai pada level 5 persen atau di bawahnya.

Perlambatan industri manufaktur Tiongkok, penurunan wisatawan dari Tiongkok, penurunan konsumsi BBM dan juga penurunan impor Tiongkok dapat terjadi sangat drastis. Dampaknya akan sangat terasa bagi perekonomian dunia karena pentingnya posisi Tiongkok dalam perdagangan internasional.

Harapan Ekonomi Indonesia

Perekonomian Indonesia pasti akan terkena dampaknya. Dari perspektif ekspor, tujuan ekspor Indonesia paling besar ke antarnegara ASEAN sebesar 21,51 persen, kemudian Tiongkok sebesar 15,14 persen, AS sebesar 10,79 persen, Uni Eropa 10,58 persen, dan Jepang 10,23 persen.

Perlambatan ekonomi Tiongkok, AS, Uni Eropa pastinya akan berdampak terhadap kinerja ekspor Indonesia dengan sangat signifikan ditambah ketergantungan akan impor bahan baku dari negara-negara tersebut, khususnya Tiongkok akan memperburuk kinerja industri manufaktur. Sektor pariwisata akan merasakan dampak yang sangat signifikan mengingat sekitar 2,1 juta wisatawan atau 13,3 persen berasal dari Tiongkok.

Kinerja ekonomi 2019 relatif baik, namun tidak istimewa. Pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen, namun dibarengi dengan defisit neraca transaksi berjalan, walaupun menunjukkan penurunan dari 8,7 miliar dolar AS menjadi 3,22 miliar dolar AS pada tahun 2019.

Penguatan rupiah di awal tahun 2020 bukan suatu penguatan rupiah karena faktor fundamental, namun lebih didorong oleh aliran investasi portofolio, sehingga sewaktu-waktu dalam jangka pendek, apabila faktor penarik seperti suku bunga tinggi berkurang akan terjadi aliran modal keluar dan tentu saja pelemahan nilai rupiah.

Pertumbuhan investasi hanya 4,2 persen. Penyebab penurunan pertumbuhan investasi adalah penurunan pertumbuhan kredit. Pada September 2019 kredit masih tumbuh sebesar 7,89 persen dan menurun menjadi 6,33 persen pada oktober 2019.

Pertumbuhan kredit diperkirakan melemah pada tahun 2020. Investasi bukan saja turun pertumbuhannya, namun ada pergeseran dari industri manufaktur ke jasa (tersier) yang berakibat pada menurunnya daya serap tenaga kerja.

Jika dibandingkan dengan daya serap 2013, di mana setiap Rp 1 triliun investasi dapat menyerap 4.544 tenaga kerja turun menjadi 1.697 pada tahun 2017, 1.331 pada tahun 2018 dan semakin turun pada triwulan III 2019 menjadi 1.034 tenaga kerja. Transmisi selanjutnya adalah pada penurunan daya beli yang akan menurunkan pengeluaran konsumsi dan tentu saja pertumbuhan ekonomi mengingat pengeluaran konsumsi adalah kontributor terbesar dalam PDB.

Ancaman terhadap memburuknya kinerja ekonomi Indonesia bukan saja faktor eksternal yang cukup kuat, faktor internal juga berperan sangat signifikan. Paling tidak pertumbuhan ekonomi 5 persen dan mempertahankan inflasi tetap rendah harus diupayakan dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, nampaknya usaha diversifikasi pasar ekspor mutlak dilakukan. Yang juga tidak kalah penting adalah strategi industrialisasi mengedepankan industri manufaktur yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak di tengah pertumbuhan industri online. Pengembangan industri manufaktur diupayakan berbasis bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. Pekerjaan rumah yang cukup berat bagi pemerintah Presiden Jokowi.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF