Merundingkan Nasib Bumi di Polandia
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
01 December 2018 11:00
Katowice adalah sebuah kota kecil di bagian selatan Polandia, yang dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan mobil dari Ibu Kota Warsawa dan 30 menit dari Auschwitz, kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II.
 
Kota berpenduduk 300 ribu ini, mulai Minggu 2 Desember sampai Jumat 14 Desember, akan dipadati lebih dari 20,000 anggota delegasi yang mengikuti Conference of Parties/COP 24, United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC atau Konferensi Para Pihak ke 24. Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. 
 
Peserta COP 24 merupakan perwakilan Para Pihak (saat ini terdiri dari 196 negara dan satu organisasi integrasi ekonomi regional) dan negara pengamat, peserta dari pers, serta perutusan organisasi pengamat. 
 
Untuk mengatasi masalah perubahan iklim global diperlukan konvensi internasional, yaitu UNFCCC, karena mobilisasi sumber daya perlu dilakukan secara global pula.  
 
UNFCCC yang mulai berlaku pada 1994 bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang dapat mencegah gangguan manusia yang membahayakan sistem iklim. 
 
Emisi atau pancaran gas rumah kaca ke atmosfer karena kegiatan manusia disebabkan oleh  penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan, yang terbukti memicu perubahan iklim global dan mengancam bumi beserta isinya. Guna memudahkan komunikasi, maka istilah emisi beberapa jenis gas rumah kaca disederhanakan menjadi emisi karbon.
 
Dalam mencapai tujuan UNFCCC, Para Pihak merundingkan tindakan tertentu dari waktu ke waktu, termasuk melalui keputusan kolektif oleh Konferensi Para Pihak, dan instrumen hukum internasional dengan kewajiban yang lebih spesifik - seperti Persetujuan Paris 2015 (Paris Agreement)
 
Persetujuan Paris berusaha untuk mempercepat dan mengintensifkan tindakan dan investasi yang diperlukan untuk masa depan yang rendah karbon dan berkelanjutan. Pada perjanjian internasional ini, negara-negara berkembang juga menyatakan komitmen untuk mengurangi emisi karbon mereka.
 
Melalui Persetujuan Paris, respon global terhadap ancaman perubahan iklim  dapat diperkuat dengan menjaga kenaikan suhu global abad ini agar di bawah 2ºC dibandingkan suhu pra-industri,  dan diupayakan menekannya hingga 1,5ºC. Persetujuan ini juga dimaksudkan untuk membina kemampuan negara-negara dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
 
Agenda utama COP 24 di Katowice termasuk menyelesaikan dan menyepakati Paris Agreement Rulebook, yang berisi modalitas, prosedur, dan pedoman pelaksanaan Persetujuan Paris, agar dapat dilaksanakan mulai 2020.  
 
Negosiator dari berbagai negara, termasuk Indonesia, melakukan perundingan multilateral untuk mencapai kesepakatan yang mencerminkan konsensus di antara Para Pihak. Ini berarti semua negara harus menyetujui keputusan yang ditetapkan, dengan prinsip nothing is agreed until everything is agreed.
 
Pengambilan keputusan kolektif merupakan hal yang tidak mudah, karena menyangkut berbagai masalah terkait perubahan iklim global yang rumit, serta kepentingan ekonomi dan politik Para Pihak.  Kesepakatan harus dicapai melalui kompromi dan negosiasi tekstual termasuk hal detail seperti  penempatan koma, perubahan kata kerja maupun kata depan. Perundingan juga merujuk pada keputusan-keputusan di COP sebelumnya, sehingga membutuhkan waktu cukup lama.   
 
Selain negosiasi tentang Paris Agreement Rulebook, di Katowice juga akan diselenggarakan sejumlah acara tingkat tinggi, acara aksi iklim global, pertemuan meja bundar, sesi generasi muda, pertunjukan seni dan budaya, maupun pameran ilmu dan teknologi mutakhir. Karenanya COP UNFCCC merupakan perhelatan akbar perubahan iklim yang melibatkan warga dunia.
 
Mereka yang tidak berangkat ke Katowice, Polandia,  tidak perlu kecewa karena dapat berpartisipasi di COP 24 secara virtual. Ini dapat dilakukan melalui live webcast  dan komunitas media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, Flickr, Linkedin dan Instagram. Semua informasi terhimpun dalam Negotiator, aplikasi dari UNFCCC, yang dapat diakses melalui ponsel pintar oleh siapapun, dari manapun.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Anang Zubaidy, SH., MH

Kepala Pusat Studi Hukum FH UII

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

FOLLOW US

Holding BUMN Penerbangan             Saatnya Rekonsiliasi             Klaim Prabowo-Sandi Perlu Dibuktikan             Perlu Sikap Kesatria Merespons Kekalahan Pilpres             KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha             Tunggu, Mas             Yang Tak Siap Menang Cuma Elit Politik, Rakyat Tenang Saja             Ikhtiar Berat Tegakan Integritas Pemilu