Merindukan Harmoni Keislaman dan Nasionalisme
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka

07 August 2018 09:00

Hingga saat ini baru ada dua bakal calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Di belakang mereka berbaris kelompok dengan warna yang berbeda. Joko Widodo memiliki warna yang lebih nasionalis karena dukungan lembaga dan partai pengusung yang diasosiasikan memiliki paham kebangsaan seperti PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura, walaupun di dalamnya ada PKB dan PPP.

Sementara Prabowo diasosiasikan memiliki paham yang lebih Islamis karena dukungan partai pengusung seperti PKS, PAN, Alumni 212, ikatan Habaib, meskipun di dalamnya ada Demokrat dan Gerindra

Sebenarnya tidak ada yang murni nasionalis atau Islamis karena partai pengusung kedua kandidat presiden tersebut memiliki irisan yang sama antara nasionalis dan Islamis. Namun masyarakat cenderung mengambil cara yang mudah untuk membedakan warna keduanya.

Padahal para pendiri negara Indonesia sudah memfinalkan Pancasila sebagai falsafah dasar dalam berbangsa dan bernegara. Nasionalis dan Islamis melebur dalam satu negara bangsa (nation state) Indonesia. Negara Indonesia merupakan penyatuan keterpisahan dimana pada saat kemerdekaan semua wilayah bersatu, mengikrarkan diri bergabung dalam NKRI. Para raja dan sultan menyerahkan kekuasaannya kepada Republik Indonesia. 

Pilihan Indonesia sebagai negara bangsa (al-qowmiyah/al-wathanah) yang dipersatukan dalam NKRI jika merujuk kepada sumber primer yakni al-Quran, Sunah Rosulullah, dan pengalaman (tajribah) yang panjang dari umat Islam, sudah tepat.

Menurut Sheikh Ali Jum’ah, Mufti Besar Mesir, ulama kharismatik yang dihormati ummat Muslim dunia, yang ditawarkan Islam adalah satu dunia yang komplementatif, saling melengkapi. Semua potensi kebaikan di dunia diakui oleh Islam, menjadi satu keharmonisan, hidup bersama dalam kedamaian dan ketentraman. Cendekiawan Muslim Nurcholis Madjid menyebutnya sebagai Islam Inklusif.

Dalam al-Qur’an banyak ditemukan kata ‘pasangan’ (juriyat) yang memiliki arti tidak sebatas lelaki berpasangan dengan perempuan, tetapi semua yang ada di jagat alam raya memiliki keterpasangan, keterpaduan, dan harmoni.  

Selain itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, ulama besar Suriah bermazhab Hambali yang hidup pada abad ke-13, menjelaskan bahwa cahaya suci Allah tidak datang ke ruang yang hampa, tetapi hadir untuk memperkokoh dan memperkuat, mengkonfirmasi dan memandu cahaya akal dan fitrah yang ada di dalam diri manusia.

Banyak kebenaran dan nilai-nilai universal yang diakui oleh manusia tanpa manusia itu harus menjadi seorang muslim sebelumnya. Kebaikan dari keadilan dan keburukan dari kezaliman diakui oleh semua orang yang berakal sehat dan fitrah.

Ketika Islam datang, cahaya syariat hadir tidak untuk membatalkan dan membunuh cahaya akal dan fitrah tetapi untuk memperkuat dan mengokohkan. Fitrah dan akal manusia itu termasuk diantaranya mencintai negeri. Nasionalisme dalam makna mencintai negeri dan kehendak untuk bebas dari segala macam bentuk penjajahan diakui oleh Islam, bahkan bagian dari nilai yang dibawa oleh Islam, untuk mewujudkan keadilan.

Karena itu tidak ada pertentangan yang substansial antara keislaman dan nasionalisme atau kebangsaan. Hanya pada dataran praktis ketika para pengusung Joko Widodo maupun Prabowo membentuk kelompok yang mengklaim sebagai nasionalis dan Islamis, membangun demarkasi dan memaksakan pemahamannya sebagai yang paling benar bahwa nasionalis itu orang yang cinta tanah air dan tidak peduli dengan agama, sementara Islamis adalah orang yang menjadikan agama sebagai panduan pokok dan tidak ada urusan dengan nasionalisme, timbullah gesekan.

Fitrah yang hidup dalam diri manusia dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi bahwa dia cinta  tanah air, tempat yang dia pijak lebih bernilai, lebih dekat bagi dirinya dibandingkan tempat tempat lain, tidak mungkin bertentangan dengan agama.

Jadi tidak perlu ribut-ribut. Mari kembali ke makna sebenarnya dari keislaman dan nasionalisme. Siapapun nanti presidennya yang menang adalah bangsa Indonesia yang relijius, toleran, inklusif, cinta tanah air, demokratis, berkemajuan, visioner, dan egaliter.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Melibatkan Institusi Polri dalam Politik Birokrasi Sangat Berbahaya             IPW Tak Yakin Syafruddin Bisa Selesaikan Masalah Birokrasi Di Indonesia             Susahnya Wujudkan Birokrasi yang Profesional dan Netral             Implementasi Ekonomi Kerakyatan, Berharap Kepada BPIP             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-1)             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-2)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-1)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-2)             Jadikan Asian Games 2018 Titik Awal Merubah Kebiasaan Buruk             Pendidikan Budi Pekerti Sangat Penting!