Mereka Bisa ke Sini, Kami Tak Bisa ke Sana
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 11 January 2022 15:15
Watyutink.com – Judul di atas adalah kutipan perkataan salah seorang pedagang ayam potong broiler di sebuah pasar kecil di bilangan barat Jakarta yang omzet keseluruhan pasar itu di bawah nilai transaksi satu kios garmen di Pasar Tanah Abang yang ramai.

Dia bercerita bagaimana para pemain besar di industri unggas masuk dengan bebasnya ke pasar-pasar kecil dengan menawarkan harga ayam yang jauh lebih murah, merebut pangsa pasar yang sudah bertahun-tahun dirawatnya.

Dia memahami pilihan konsumen membeli barang yang lebih murah, sebuah pilihan yang logis. Hanya yang dia sesali mengapa pemerintah seperti menutup mata melihat fenomena tersebut, dimana pelaku usaha besar leluasa menggilas pelaku usaha kecil.

Usaha besar dengan segala sumber daya yang dimilikinya mempunyai kemampuan melakukan penetrasi pasar hingga ke lini terbawah, baik secara langsung maupun melalui rekayasa pendirian usaha kecil sebagai kamuflase. Sementara usaha kecil mimpi pun tidak untuk bisa mencicipi sebagian kecil pasar usaha besar.

Fenomena ini yang oleh pedagang kecil tersebut dikatakan bahwa mereka para pengusaha besar bisa ke sini, ke ceruk pasar yang kecil, menggilas bisnis tradisional, sementara para pedagang kecil ini tidak bisa ke sana, mendirikan usaha besar untuk bisa bersaing dengan mereka.

Para pengusaha besar seperti tidak pernah kenyang meraup untung. Di industri perunggasan, mereka menguasai produksi pakan, vitamin dan obat-obatan, pembibitan, penetasan, pemeliharaan, hingga makanan olahan.

Pelaku usaha kecil berharap para pemain besar bermain dan bersaing sesama mereka di dalam usaha berskala besar saja, misalnya, memproduksi pakan ternak yang memang membutuhkan modal besar dan teknologi canggih, pembuatan vaksin, obat-obatan dan vitamin, pembibitan, atau penetasan. Tidak perlu masuk hingga ke penjualan unggas yang menjadi ladang pengusaha mikro.

Para pedagang kecil hanya bisa menyaksikan pendirian kios-kios kecil perusahaan besar yang menjajakan produk unggas mulai dari ayam utuh, dada, paha, pilet, hingga ati dan ampla di setiap sudut perumahan, bak jamur tumbuh di musim hujan.

Kios seperti ini tidak spesifik produk unggas. Ada juga yang berspesialisasi di produk susu dan turunannya. Ada kecenderungan pendirian kios yang semakin khusus dan masal untuk produk tertentu yang diproduksi perusahaan besar. Kelak, perusahaan besar akan mendirikan ‘usaha kecil’ sesuai dengan bidang produksinya.

Tapi inilah perdagangan bebas, anak liberalisme yang tumbuh subur di negara yang memiliki falsafah Pancasila dimana keadilan sosial menjadi salah satu dasar negara. Liberalisme telah memberi jalan mulus bagi yang kuat, tetapi menindas yang lemah.

Liberalisasi menciptakan pengangguran. Perusahaan besar membanjiri pasar dengan produk yang lebih murah.  Pedagang kecil tidak mampu bersaing sehingga mereka mati, usahanya tutup. Pekerjanya yang sedikit, tiga-tempat orang, kehilangan pekerjaan. Semakin banyak pedagang kecil yang kolaps, semakin banyak pengangguran tercipta.

Keseimbangan ekonomi dirusak oleh liberalisasi. Perusahaan besar terus tumbuh, pedagang kecil berguguran. Pemerataan ekonomi semakin jauh dari harapan. Kekuatan ekonomi semakin terpusat pada kelompok usaha tertentu yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Liberalisasi membuat perusahaan besar semakin moncer. Kekuatan lobi, modal, tenaga kerja terlatih, manajemen tingkat tinggi, dan teknologi membuat para konglomerat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.

Sebaliknya, pedagang kecil dengan segala keterbatasannya hanya mampu mempertahankan ceruk pasar yang belum dimasuki oleh perusahaan besar. Tapi ini hanya soal waktu saja. Begitu dilihat pangsa pasar pedagang kecil memiliki margin yang menggiurkan dan banyak diminati, perusahaan besar segera membidiknya.

Tanpa wasit, liberalisasi akan semakin gila-gilaan merugikan perekonomian secara keseluruhan. Negara harus hadir menata struktur pelaku usaha yang seimbang. Usaha-usaha yang menjadi hajat hidup pedagang kecil tertutup bagi usaha besar.  Batasi usaha yang boleh dimasuki perusahaan besar agar yang kecil dapat berkembang ke skala menengah.  

Bangun ekonomi yang sehat gemuk di tengah dimana jumlah usaha skala menengah lebih banyak dari usaha besar maupun kecil. Struktur seperti ini menyediakan lapangan kerja lebih banyak, menghindari ketimpangan, membentuk value chain yang kuat, dan membangun persaingan yang sehat.

Tanda-tanda semakin mencengkramnya kekuatan usaha besar terhadap ekonomi bisa dilihat dari sulitnya menurunkan harga komoditas yang melonjak belakangan ini. Pemerintah teriak akan melakukan operasi pasar namun di lapangan harga tetap meroket.

Pelaku usaha kecil tidak bisa mengatur harga seperti ini. pemainnya terlalu banyak dan persaingan sangat ketat. Sedikit saja menaikkan harga, konsumen lari ke produsen lain yang menawarkan harga tetap atau lebih murah.

Kini saatnya pemerintah membuktikan kepada rakyat berlaku adil kepada semua pelaku usaha. Perusahaan besar yang menjalankan usaha dengan merugikan usaha kecil harus ditindak. Di sisi lain, usaha kecil diberikan insentif agar berkembang menjadi usaha menengah.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF