Meraih Bahagia dengan Menyapa Alam
DR Amanda Katili Niode
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

15 May 2018 14:30

“Menghindar dari alam adalah mengelak dari kebahagiaan,” tulis Samuel Johnson, seorang penyair dan penulis Inggris abad ke 18. Peneliti demi peneliti kemudian menguatkan kata-kata Samuel Johnson tersebut dalam bukunya The History of Rasselas, Prince of Abissinia, kisah seorang pangeran yang mengembara untuk mencari rahasia hidup bahagia.
 
Secara ilmiah, kesehatan dan kebahagiaan manusia akan meningkat seiring dengan kegiatan di alam seperti memberi makan burung dan menanam bunga agar lebah dapat hinggap. Ini dijelaskan oleh sebuah penelitian di Inggris dengan sejumlah responden yang melakukan kegiatan di alam bebas selama 30 hari berturut-turut. Tingkat kesehatan dan kebahagiaan tetap bertahan meski penelitian telah selesai.
 
Dalam sebuah percobaan di Jepang, peserta diminta untuk berjalan kaki di hutan atau di pusat kota untuk kemudian diukur detak jantung dan tekanan darah masing-masing. Mereka juga mengisi kuesioner tentang suasana hati, tingkat stres, dan aspek psikologis lainnya.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang berjalan di hutan memiliki detak jantung yang secara signifikan lebih rendah, sikap lebih santai, serta suasana hati yang lebih senang dibandingkan dengan mereka yang berjalan di lingkungan perkotaan. Orang yang bahagia dipastikan akan cakap mengembangkan strategi untuk menempuh prahara kehidupan.
 
Badan Pusat Statistik menilai tingkat kebahagiaan di Indonesia melalui tiga dimensi kehidupan, yaitu kepuasan hidup (personal dan sosial), perasaan, dan makna hidup. Tingkat kebahagiaan rerata penduduk Indonesia pada tahun 2017 adalah 70,69 pada skala 0 sampai 100. Angka di atas 50 dan mendekati 100 merupakan indikasi kehidupan penduduk yang semakin bahagia.
 
Sementara itu World Happiness Report yang diterbitkan United Nations Sustainable Development Solutions Network mencatat penurunan peringkat kebahagiaan Indonesia dari No. 74 pada tahun 2015 menjadi No. 96 dari 156 Negara pada tahun 2018. Variabel pengukuran yang digunakan adalah pendapatan, harapan hidup sehat, dukungan sosial, kebebasan, kepercayaan, dan kemurahan hati.
 
Majalah Psychology Today menulis bahwa alam merupakan salah satu peranti untuk mencapai kebahagiaan. Menyapa alam seperti menyambut matahari dan menatap bintang-bintang di malam hari merupakan kenyamanan sederhana namun berlimpah.
 
Pada hakikatnya mencari kebahagiaan dengan menghayati alam di Indonesia tidak terlalu pelik karena  negara ini memiliki sejumlah ekosistem yang elok seperti ekosistem marin, perairan tawar (sungai dan danau), semi terestrial (bakau dan riparian) dan terestrial (hutan dan gunung).
 
Ada 54 Taman Nasional di seluruh Indonesia, seperti TN Komodo, TN Dumoga Nani Wartabone, dan TN Gunung Leuser. Tercatat 123 Taman Wisata Alam yang dapat dikunjungi termasuk TWA Gunung Tangkuban Perahu, TWA Kepulauan Raja Ampat dan TWA Danau Toba.
 
Peneliti David Strayer di University of Utah merumuskan bahwa menyapa alam dapat mengurangi kepenatan dan meningkatkan kreativitas. Manusia modern menggunakan otaknya sepanjang hari untuk multitasking. Jika semua gadget dikesampingkan dan keanggunan alam ini dinikmati, maka bagian depan otak sebagai pusat emosi sosial akan segera pulih. Saat itulah terjadi semburan kreativitas dan rasa damai.
 
Dalam pengembaraannya mencari rahasia hidup bahagia, Rasselas, sang pangeran dalam buku Samuel Johnson, mencatat bahwa ikhtiar meraih bahagia adalah hidup sesuai dengan alam yang taat pada hukum universal dan tak dapat diubah, sehingga manusia tidak sengsara karena fatamorgana harapan.
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lukman Hakim Piliang

Dosen Administrasi Publik UPDM(B)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Pidana Mati Bersyarat, Jalan Keluar Moderat             Agama Baru Itu Bernama HAM             Layakkah Nama Bung Karno Dihilangkan             Istora Bung Karno, Simbol Identitas Bangsa             Ruang Politik Tidaklah Hitam Putih             Perdebatan Harusnya Berbasis Politik Program             Pengangkatan Ali Mochtar Ngabalin Menimbulkan Kontroversi             Strategi Politik Jokowi di Pilpres 2019             Mengunci Golkar Ala Jokowi             Hanya Kepentingan