Menyingkap Misteri Jalur Rempah
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
16 March 2019 10:00
Rempah-rempah merupakan bahan eksotis untuk menjalin berbagai kisah nyata maupun fiksi yang menegangkan, memilukan, dan bahkan membuat lapar.

Chitra Divakaruni dalam novelnya “The Mistress of Spices,” yang diadaptasi ke film Hollywood, berkisah tentang Tilo, gadis cantik pemilik Spice Bazaar di San Francisco. Imigran India ini meramu rempah-rempah guna membantu pelanggannya menyiapkan masakan lezat, mengobati sakit, maupun mengatasi kesulitan dalam hidup. Tilo kemudian  jatuh cinta pada Doug, seorang pemuda Amerika, dan menghadapi dilema antara tetap setia melayani komunitasnya atau mencoba hidup bahagia bersama Doug namun terancam bahaya kutukan rempah-rempahnya.

“The Spice Route,” buku John Keay, menarasikan sejarah geografis perdagangan rempah dalam kurun waktu 3000 tahun yang penuh misteri. Isinya antara lain tentang orang Mesir kuno yang merintis perdagangan dupa Arab, navigator Graeco-Romawi yang ke India untuk mencari merica dan jahe, Juga tentang Christopher Columbus yang berlayar ke barat untuk mencari rempah-rempah, Vasco da Gama, yang melaut ke timur dan Ferdinand Magellan, yang melintasi Samudera Pasifik untuk tujuan yang sama.

Adalah Negeri Rempah Foundation yang berinisiatif menyelenggarakan “International Forum on Spice Route” guna menyingkap misteri jalur rempah, khususnya yang bertautan dengan Kepulauan Nusantara. Forum yang didukung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman ini akan berlangsung di Jakarta pada 19 - 24 Maret dan diharapkan  membuka dialog lintas batas dan lintas budaya dalam meninjau kembali jejak kemaritiman berbasis Jalur Rempah. 
 
Profesor Azyumardi Azra menulis, Jalur Rempah Nusantara secara berangsur-angsur terbentuk sejak 2000 tahun Sebelum Masehi dengan perdagangan kayu manis, merica, pala, dan cengkih ke Eropa. Jalur rempah, lanjutnya, bukan hanya mencakup perdagangan rempah-rempah, tetapi juga meliputi pertukaran ilmu, budaya, sosial, bahasa, keterampilan, dan agama di antara orang-orang yang berasal dari beragam tempat jauh.
 
Merujuk pustaka “Plant Resources of South East Asia - “Spices,” Negeri Rempah Foundation mencatat bahwa dalam perjalanan waktu dan skala dunia, ada sekitar 500 jenis tanaman yang telah digunakan dan dikenal sebagai rempah. Di Asia Tenggara jumlahnya mendekati 275 jenis tanaman. Dari 126 rempah-rempah yang umum digunakan, sekitar setengahnya sudah dibudidayakan, dan sisanya masih harus dipanen dari alam liar.

“International Forum on Spice Route” yang  bertema ‘Membangkitkan Budaya Maritim Dunia Melalui Jalur Rempah Sebagai Warisan Milik Bersama’ merupakan wadah pertukaran pengetahuan dan pemahaman antarbangsa yang menampilkan kekuatan warisan budaya serta semangat keberagaman.

Serangkaian program direncanakan di Museum Nasional, terbuka untuk berbagai lapisan masyarakat. dan  meliputi Forum Diskusi, Pameran dan Instalasi Seni, Icip-icip Kuliner Nusantara dan Pasar Rempah. 

Forum Diskusi fokus pada Telaah Historis budaya maritim berbasis jalur rempah dan pertukaran antarbudaya; serta  Adaptasi Manusia terhadap berbagai dinamika termasuk perkembangan teknologi dan perubahan iklim. Selain pakar dan praktisi dalam negeri, para narasumber dari negara-negara sahabat dengan budaya maritim, juga siap hadir untuk berbagi  pencerahan. 

Dalam kenyataannya, Kepulauan Nusantara memiliki lokasi strategis yang terhubung ke 'negeri-negeri di atas angin', yaitu Tiongkok, India, Timur Tengah hingga Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa menyadari potensi Asia Tenggara, Nusantara telah berperan dalam perdagangan dunia sebagai wilayah pemasok utama rempah-rempah. 
 
“The Mistress of Spices,” “The Spice Route,” dan buku-buku tentang rempah, memang menyenangkan untuk disimak. Namun penulis handal bukan hanya mereka dari ‘negeri-negeri di atas angin’ saja.  Berjayanya sejumlah Kerajaan di Nusantara karena rempah-rempah dan kisah perdagangannya dari masa ke masa telah dikemas apik dalam sebuah buku karya Negeri Rempah Foundation. Buku yang akan diluncurkan di panggung “International Forum on Spice Route” ini bertajuk “Kisah Negeri-Negeri Di Bawah Angin.”

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Soal Subsidi MRT: Negara Jangan Pikir Profit, Tapi Benefit             Perjelas Kewenangan Berbasis Wilayah             Indonesia Masih Menarik Sebagai Negara Tujuan Investasi             Subsidi MRT Bukan untuk Orang Kaya             Pemerintah Harus Hitung Risiko Utang BUMN             Pembentukan Holding BUMN Harus Selektif             BUMN Jangan Terjerumus Jadi Alat Kepentingan Penguasa             MoU KPU-PPATK Jangan Sekadar Aksesoris             MoU KPU-PPATK Jangan Hanya Formalitas             Pemerintah Harus Promosikan Tempat Wisata Terlebih Dahulu