Mental Feodal, Pemodal Mental
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
08 February 2019 13:30
Watyutink.com - Kabar buruk datang dari Badan Koordinasi Penanaman Modal baru-baru ini, yakni investasi asing langsung (FDI) turun 8,3 persen pada tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa Indonesia menjadi kurang menarik lagi bagi investor luar negeri.

Indonesia mestinya memiliki daya tarik, tetapi yang muncul belakangan adalah daya tolak. Bak air dalam bejana berhubungan, investasi yang tidak masuk di sini, mengalir ke sebelahnya, ke negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, atau Malaysia. Investasi mengering di sini, banjir di negeri jiran.

Pemerintah bukannya tidak berbuat apa-apa. Sekitar 3 tahun lalu dilakukan sejumlah gebrakan dan reformasi dalam pelayanan investasi asing di Tanah Air. Kerja keras ini membuahkan hasil, dapat dilihat dari lonjakan peringkat Indonesia dalam Kemudahan Berinvestasi atau Easy of Doing Business (EoDB), 

Laporan Bank Dunia tentang EoDB di Indonesia pada survei 2015 menunjukkan negeri Nusantara berada di peringkat 114, naik 8 peringkat dari posisi 122. Setahun kemudian, pada survei EoDB 2016, Indonesia naik lagi ke posisi 109, lalu melonjak lagi ke posisi 91 pada 2017, dan melompat lagi ke posisi 72 dari 190 negara yang disurvei pada tahun berikutnya. Sejak 2015, Indonesia sudah naik 50 peringkat, suatu prestasi yang diakui sebagai yang terbesar dalam sejarah EoDB.

Sejumlah pembenahan ditorehkan pemerintah. Indikator EoDB 2018 yang membaik antara lain, penyelesaian kepailitan (Resolving Insolvency) dari rating 74 pada 2016 menjadi 38 pada 2018 atau melonjak 36 peringkat, wow.

Yang juga wow adalah penegakan kontrak (Enforcing Contracts) dari posisi 171 pada 2016 menjadi 145 pada 2018, lompat 26 peringkat. Penyambungan listrik (Getting Electricity) dari posisi 61 pada 2016 ke level 38 pada 2018, atau melambung 23 peringkat.

PLN memperbaiki pelayanan penyambungan listrik untuk industri menjadi lebih mudah, tidak seperti sebelumnya yang sarat dengan ketidakpastian. Melalui program komputerisasi PLN lebih reformis. Selain PLN, Ditjen Pajak juga memperbaiki pelayanannya. Komitmen investasi asing pun naik secara signifikan. Persetujuan investasi oleh BKPM pada 2017 sudah lebih dari Rp2000 triliun.

Perbaikan peringkat yang sangat tajam tersebut membuat pemerintah kepedean, terlalu percaya diri, cepat puas, dipikirnya Indonesia sudah mampu menyelesaikan masalah-masalah investasi yang mengganjal selama ini.

Padahal survei EoDB tersebut hanya dilakukkan di dua tempat yakni Jakarta dan Surabaya. Selain itu, variable yang membaik dalam EoDB bukan yang utama bagi investor dalam menentukan keputusan  menanamkan dananya, karena varibel memulai usaha masih berada di atas peringkat 100, masih sangat tinggi. Demikian juga dengan persyaratan perizinan masih di atas 100.

Perbaikan dalam variable penyambungan listrik, perbaikan kontrak yang naik peringkat di bawah 100, sifatnya administratif. Jika yang disurvei dapat menjawab dengan benar maka varibel tersebut akan naik peringkat. Variabel ini relatif dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang diwawancarai 

Dalam kasus Jakarta dan Surabaya, petugas yang melayani investasi mendapatkan sosialisasi dan dilatih dengan baik untuk memahami prosedur berinvestasi saat berhadapan dengan investor. Karena itu saat disurvei, jawaban yang diberikan sangat lancar

Namun persoalan utama bagi investor dalam memulai investasi belum tersentuh, yakni perizinan. Sekalipun Indonesia sudah mendapatkan rating investment grade dan kenaikan peringkat EoDB, realisasi investasi hingga 2018 tidak pernah beranjak dari 40 persen.

Perizinan sulit didapat investor karena regulasi yang tidak pasti di Tanah Air. Regulasi yang berubah secara mendadak karena pergantian pejabat atau kepala daerah, misalnya, menciptakan ketidakstabilan iklim investasi.‎ Berbeda dengan Thailand, Vietnam atau Malaysia yang memberikan regulasi lebih stabil dan realistis.

Pada akhirnya investor punya pilihan. Kalau Indonesia ribet, susah, dan cepat puas diri, mereka tinggal pindah ke sebelah, ada Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Agar investor asing tidak mental, perlu revolusi mental jilid dua yang mengubah kultur feodal bangsa ini bahwa seolah-olah investor butuh Indonesia.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?