Menolak Bungkam Demi Bumi Yang Lebih Baik
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
23 November 2019 16:50
Watyutink.com – ‘Menolak Bungkam: Ruang  Aksi untuk Solusi Krisis Iklim’ dipilih menjadi tema diskusi mingguan Pojok Iklim. Pojok Iklim adalah forum diskusi multi pihak yang menjadi wadah diskusi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pelaku usaha, dan akademisi. Tujuannya untuk mengaktualisasikan dan mengartikulasikan kebijakan perubahan iklim serta mendistribusikan informasi perubahan iklim di semua sektor.

Entah sudah berapa kali diskusi Pojok Iklim diselenggarakan, namun kalau melihat sebutannya sebagai diskusi mingguan, pasti sudah banyak tema seputar perubahan iklim maupun narasumber yang didatangkan untuk membahas seputar masalah  tersebut.

Dari beberapa tema yang diangkat dalam banyak diskusi, tema kali ini sangat menarik, provokatif, menantang, dan menggugah kesadaran. Ada dua kata kunci yang menarik mata untuk melihat yakni ‘Menolak Bungkam’ dan ‘Krisis Iklim’.

Menolak Bungkam merupakan pernyataan sikap untuk tetap bersuara sekalipun mungkin ada tekanan, rekayasa, rayuan, atau pengalihan isu yang menyebabkan kebenaran yang seharusnya disuarakan tenggelam, diremehkan, atau tidak dijadikan arus utama pembicaraan sehingga pada akhirnya melemahkan semua upaya membangun kesadaran, komitmen, hingga aksi dalam mengatasi krisis iklim.

Hasil penelitian,  pengamatan,  maupun bukti empiris mengenai dampak negatif perubahan iklim akan berakhir di museum sebagai catatan sejarah, tidak lebih, jika para pegiat lingkungan hidup bungkam.  Peluru yang berisi kajian ilmiah mengenai krisis iklim tidak dapat ditembakkan jika tidak disuarakan.

Sebut saja beberapa bukti ilmiah dan prediksi ilmu pengetahuan mengenai masa depan bumi jika terjadi pemanasan global.  Pada 2050 diperkirakan permukiman 300 juta penduduk dunia akan terdampak banjir kronis karena permukaan laut naik. Sedikitnya ada 6 negara yang penduduknya paling terancam yakni Tiongkok Daratan, Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia, dan Thailand. Risiko yang akan dihadapi antara lain kerusakan infrastruktur, gagal panen, dan kehilangan tempat tinggal bagi masyarakat pesisir.

Penggunaan bahan bakar fosil, perubahan tata guna lahan, dan kenaikan gas-gas rumah kaca di atmosfer mengubah iklim.  Bumi menjadi semakin panas. Tercatat 5 tahun terakhir menjadi tahun-tahun terpanas. Akibatnya, lapisan es dan gletser di beberapa negara mencair, menciptakan air ekstra yang  mengalir ke lautan sehingga permukaannya meningkat.

Bukti ilmiah seperti ini sudah banyak. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah saluran komunikasi. Ada beberapa pllihan untuk menyuarakan keprihatinan mengenai perubahan iklim ini. Cara-cara kampanye klasik melalui iklan atau advertorial di media cetak, televisi, atau radio masih dimungkinkan. Namun perkembangan teknologi informasi memberikan alternatif penyebaran pesan yang lebih masif, massal, luas, terstruktur, dan dalam kepada masyarakat melalui media sosial.

Di era post truth, media sosial tidak lagi menjadi sumber informasi saja  tetapi dijadikan alat untuk membentuk opini dan persepsi  sebagai sebuah ‘kebenaran’. Influencer maupun buzzer berperan penting dalam proses ini. Tinggal mengkalkulasi seberapa besar tingkat kesadaran masyarakat yang ingiin dicapai. Semakin tinggi targetnya, semakin besar upaya yang harus diilakukan.

Pemilihan media yang tepat akan sangat membantu menyuarakan mengenai  betapa gentingnya kirisis iklim. Kesalahan memilih media akan mengurangi efektifitas dan efisiensi penyampaian pesan kepada masyarakat.

Berikutnya adalah membangun narasi dan memilih diksi yang tepat agar kampanye tentang bahaya perubahan iklim benar-benar ‘menyengat’. Diksi ‘krisis iklim’ lebih menyentak kesadaran ketimbang ‘perubahan iklim’. ‘Perubahan iklim’ ditangkap sebagai hal yang biasa saja oleh masyarakat. Bukankah ‘perubahan’ itu pasti terjadi, lalu apa masalahnya?

Berbeda dengan diksi ‘krisis iklim’. Membacanya menimbulkan kekhawatiran seseorang mengenai masa depan bumi sehingga diharapkan ia terpanggil untuk mencegah dan memperbaiki iklim. Diksi ‘krisis iklim’ dijadikan kata kunci yang akan menaikkan tingkat pencarian mengenai perubahan iklim.

Pemiilihan kata kunci yang tepat akan menjadikan masalah perubahan iklim terus-menerus  dibicarakan (trending topic). Ini cara untuk menolak bungkam, demi bumi yang lebih baik sebagai rumah bersama dan satu-satunya bagi umat manusia.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir