Menjaga Tanah Tetap Hidup
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 05 December 2020 10:00
Watyutink.com - Tanah dapat dikatakan hidup, karena hanya dalam satu sendok teh tanah saja ada miliaran mikroorganisme seperti bakteri, jamur, serangga, dan cacing tanah. Lapisan tanah setebal 8 cm merupakan rumah bagi sebanyak 13 ribu triliun makhluk hidup. Mereka  berinteraksi dan berkontribusi terhadap siklus global yang memungkinkan adanya semua kehidupan.

Sebagai dasar untuk pertumbuhan tanaman, menurut Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO), tanah membantu menghasilkan 95 persen makanan manusia. Selain itu, tanah juga meningkatkan ketahanan terhadap banjir, kekeringan dan dampak perubahan iklim.

Sedemikian pentingnya faedah tanah, maka hari ini, 5 Desember, diperingati sebagai World Soil Day – Hari Tanah Sedunia, untuk memusatkan perhatian  penduduk dunia pada pentingnya tanah yang sehat dan untuk mendukung pengelolaan sumber daya tanah yang berkelanjutan. Pada 2020 ini, peringatan yang dilaksanakan setiap tahunnya, bertema “Menjaga Tanah Tetap Hidup, Melindungi Keanekaragaman Hayati Tanah.”

Pengelolaan tanah disebut berkelanjutan jika apa yang disediakan oleh tanah dalam bentuk layanan penyediaan, pengaturan, dan budaya dapat dipertahankan atau ditingkatkan tanpa secara signifikan merusak fungsi tanah atau keanekaragaman hayatinya.

Keanekaragaman hayati tanah merupakan variasi kehidupan di bawah tanah, dari gen dan spesies hingga komunitas yang mereka bentuk, serta habitat mikro tanah hingga lanskap. Biodiversitas juga mendukung sebagian besar bentuk kehidupan permukaan melalui tautan antara atas dan bawah tanah.

Biodiversitas tanah kini dalam keadaan bahaya besar, antara lain karena sistem monokultur yang membatasi keberadaan bakteri, jamur dan serangga yang menguntungkan, sehingga berakibat pada degradasi ekosistem.  

Setiap tahunnya, sebanyak 75 miliar ton tanah dan organisme yang terkandung di dalamnya hancur karena erosi angin dan air. Selain itu, pencemaran juga menyebabkan degradasi tanah beruntun, sehingga memengaruhi organisme tanah karena biomasa dan kekayaan spesiesnya berkurang.

Padahal, organisme tanah meningkatkan produktivitas tanaman melalui berbagai hal, antara lain daur ulang nutrisi dasar yang dibutuhkan untuk semua ekosistem, termasuk nitrogen, fosfor, kalium dan kalsium. Organisme tanah  memecah bahan organik menjadi humus, hingga meningkatkan kelembaban tanah dan mengurangi hilangnys nutrisi. Juga  meningkatkan porositas tanah dengan dampak positif mengurangi limpasan air permukaan dan mengurangi erosi.

Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga tanah tetap hidup? Masih menurut FAO, pengelolaan tanah yang berkelanjutan disesuaikan dengan jenis tanah dan penggunaannya, merupakan bagian integral dari perlindungan keanekaragaman hayati tanah.

Beberapa dari praktik ini cukup sederhana, misalnya, menghindari pemindahan vegetasi dari tutupan tanah, menjaga keanekaragaman tanaman, menghindari monokultur, membuat kompos dan menggunakan tempat berlindung alami, seperti pagar tanaman, untuk membantu mencegah efek erosi angin dan air di lahan yang luas.

Hal lain yang lebih kompleks seperti rotasi tanaman atau agroforestri, dapat menekan dampak perubahan iklim dengan mengurangi emisi dan menyimpan karbon dalam biomassa tanaman dan tanah.

Kita semua dapat berperan dan melindungi keanekaragaman hayati tanah dengan meningkatkan kesadaran dan mendukung pendidikan keanekaragaman hayati tanah, dan mengelola sumber daya tanah secara berkelanjutan. Ini perlu ditambah dengan mendukung penelitian keanekaragaman hayati dan keberlanjutan tanah, berinvestasi dalam inovasi dan mendaur ulang bahan sebelum mengirimkannya ke tempat pembuangan sampah.

Peringatan Hari Tanah Sedunia tahun lalu dirayakan di lebih dari 100 negara melalui 560 acara. Sejumlah besar artikel di surat kabar utama di dunia sampai dibaca oleh 650 juta orang. Tahun ini Indonesia mengisinya dengan berbagai kegiatan seperti dialog kentongan hari tanah sedunia di RRI, kampanye pertanian hijau melalui pengomposan untuk perkotaan, maupun bimbingan teknis online tentang kesehatan tanah dan pertanian. Ada kontes penilaian tanah yang diikuti para mahasiswa Ilmu Tanah seluruh Indonesia, serta juga lomba esai, kompetisi vlog, dan sayembara baca puisi untuk siswa.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI