Menjadikan Indonesia Kiblat Bumbu Dunia
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 22 July 2021 19:00
Watyutink.com – Indonesia adalah sebuah ironi di dunia kuliner. Negara yang berlimpah dengan berbagai jenis masakan Nusantara—lebih dari 5.300 makanan asli—justru dibanjiri sajian masakan asing serba instan yang menjamur di Tanah Air.

Kehadiran kuliner asing di bumi Nusantara tak hanya menunjukkan hegemoninya secara ekonomi, juga mempengaruhi cara masyarakat Indonesia makan, terutama generasi milenial. Mereka jadi terbiasa makan makanan instan yang miskin kandungan nutrisi.

Pergeseran selera dan perubahan gaya makan ini membuat kuliner Nusantara banyak ditinggalkan masyarakat. Tren ini merembet hingga ke dapur-dapur rumah tangga. Tidak jarang orang tua mengalah membuat makanan cepat saji dengan alasan permintaan anak, selain karena pilihan praktis.

Ditambah lagi dengan sikap sebagian masyarakat yang merasa lebih bergengsi jika makan makanan asing ketimbang makanan warung. Dengan penampilan modern, bersih, ramah, dan rapi restoran asing menjadi magnit yang menarik banyak orang.

Indonesia adalah sebuah pengecualian dalam dunia kuliner jika dibandingkan dengan negara lain. Di Korea Selatan, masyarakatnya lebih gandrung makan makanan domestik ketimbang merek asing. Begitu juga di Jepang dan negara-negara di Eropa. Restoran yang menyajikan makanan tradisional negaranya jauh lebih ramai dibandingkan restoran asing.

Beruntung sejumlah tokoh di Tanah Air mengkampanyekan makanan khas Nusantara melalui media sosial yang mereka kelola hingga acara khusus di stasiun televisi. Sejak itu makanan asli Indonesia mulai mendapatkan tempat lagi di hati masyarakat. Apalagi sejak masakan Indonesia masuk di jajaran makanan terenak di dunia seperti rendang yang membuat bangsa Indonesia bangga dengan kekayaaan kuliner yang dimilikinya.

Sayangnya, menguatnya kesadaran akan kekayaan kuliner Nusantara baru bergaung di Tanah Air. Dunia Internasional belum banyak mengenal masakan Indonesia. Padahal potensi yang dimilikinya luar biasa besar. Bisnis kuliner menyumbang 40 persen Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif.  Selain itu, banyak usaha yang terkait di dalamnya seperti rempah-rempah sebagai bahan baku bumbu yang menjadi kekhasan Indonesia.

Jika masakan Indonesia mau go global, perlu dibenahi beberapa kendala. Pertama, Indonesia belum memiliki kuliner yang menjadi identitas nasional dan dikenal luas di dunia internasional seperti Thailand dengan tom yamnya, Malaysia dengan nasi lemak, Jepang dengan sushi, dan Korea Selatan dengan kimchi.  

Keberagaman jumlah kuliner nasional yang mencapai ribuan jenis tentu membuat Indonesia kerepotan menentukan pilihan kuliner mana yang secara khusus mewakili Indonesia. Perlu kesepakatan bersama dalam menentukannya. Tidak harus satu, tetapi juga jangan terlalu banyak karena akan sulit untuk membangun kesadaran (awareness) terhadap kuliner khas Indonesia.

Beberapa kuliner Indonesia yang cukup dikenal di luar negeri antara lain rendang, soto, sate, nasi goreng, dan gado-gado bisa menjadi pilihan identitas sebagai masakan khas Tanah Air.

Kendala lain adalah tidak adanya tujuan wisata kuliner yang spesifik bagi wisatawan mancanegara di Indonesia. Indonesia perlu menetapkan wilayah mana yang menjadi duta dalam mengenalkan masakan Nusantara. Daerah-daerah yang memiliki kunjungan turis asing cukup banyak bisa jadi pilihan seperti Bandung, Bali, Yogyakarta, dan Jakarta.

Kuliner Indonesia belum banyak dikenal turis asing juga menjadi kendala lain dalam melakukan penetrasi di pasar global. Restoran khas Nusantara di luar negeri sangat kurang jumlahnya. Berbeda dengan Thailand, China, dan Jepang yang gencar membangun restoran di negara lain. Kuliner dari tiga negara ini dikenal luas oleh masyarakat dunia.

Indonesia perlu membangun restoran-restoran di seantero dunia dengan kuliner yang sudah ditetapkan bersama, disamping menu tambahan yang disajikan oleh masing-masing restoran. Dengan terobosan ini maka bumbu masakan khas Indonesia akan ikut meningkat permintaannya dan dikenal luas di luar negeri.

Afrika dan Australia dikenal sebagai negara pengimpor bumbu makanan tertinggi di dunia. Afrika mengimpor impor bumbu makanan senilai 29 miliar dolar AS pada 2019. Sayangnya, dari pangsa pasar sebesar itu Indonesia hanya menikmati 0,67 persen saja. Begitu pula dengan pasar Australia di mana pangsa pasar bagi Indonesia kurang dari satu persen.

AS bisa juga menjadi pasar bagi ekspor bumbu dari Indonesia. Negara tersebut bisa menyerap sekitar 25 persen dari total ekspor bumbu. Penggunanya adalah restoran-restoran Indonesia yang bertebaran di Negeri Paman Sam. Nilai ekspor komoditas ini jika dikembangkan secara serius bisa mencapai 2 miliar dolar AS dari yang saat ini dicapai sebesar 1,02 miliar dolar AS.

Semoga Indonesia dapat menjadi kiblat bumbu dunia dengan kuliner khasnya. Setiap orang yang menikmati makanan akan mengenangnya sebagai negara yang memperkaya cita rasa masakan.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF