Menghadapi Corona: Pilih Kalah Atau Menang?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 26 May 2020 10:55
Watyutink.com - Dalam menghadapi gempuran virus Corona Covid-19, menyisakan dua pilihan; memilih keluar sebagai pemenang (winner); atau menjadi kumpulan orang-orang kalah (loser). Kedua pilihan berada dalam ruang kesempatan yang sama besarnya. Tinggal mau pilih yang mana?

Mereka yang  segera meningkatkan kewaspadaan dengan menempatkan kecerdasan dan sikap kritis sebagai koridor menjalankan hidup keseharian, biasanya lebih berpotensi untuk ke luar sebagai pemenang. Karena biasanya sikap ini akan diikuti oleh kesadaran memompa kreativitas ke level maksimal. Etos kerja pun dipicu untuk lebih mensugesti diri menolak menjadi koloni-jajahan sang agresor, Covid-19. Dengan jalan meningkatkan kepercayaan diri akan mampu menundukkan keganasan virus Covid-19.

Sementara mereka yang memilih sebagai kumpulan manusia kalah, memiliki ciri-ciri; cepat panik (paranoia), hidup sembrono (careless), berani cuek menantang corona secara heroik. Tidak merasa perlu adanya keberjarakan fisik. Sangat gemar membesar-besarkan cerita tentang kesaktian para pembual yang kebal terhadap virus dan sejenisnya. Dan yang paling celaka, terlalu yakin bahwa Tuhan berpihak pada kebodohan.

Di wilayah kehidupan mereka yang memilih ke luar sebagai pemenang, memang masih sering terdengar mereka mengandalkan sejumlah fomula hidup sehat warisan para leluhur. Hal mana berkaitan dengan upaya menghidupkan kembali temuan ramuan-ramuan obat tradisionil (herbal). Tentunya ramuan herbal yang sudah sekian lama teruji dan masuk dalam kategori produk ‘local genius’ yang oleh dunia medis modern sekalipun, sulit untuk disangkal khasiat dan kemanjurannya. 

Bukan warisan tahayul yang berangkat dari hal-hal mistis. Seperti cukup dengan membakar kemenyan dan mengeluarkan keris pusaka, virus Corona akan lari tunggang langgang. Atau seperti pada awal bangsa ini menghadapi isu Corona di mana seorang petinggi negara dan sejumlah tokoh masyarakat berseru bahwa negeri ini terbebas dari serangan Corona berkat doa para ulama. Pernyataan yang justru mendegradasi kewibawaan serta peran dan fungsi dari ulama yang sesungguhnya.

Mereka yang berpihak pada pilihan untuk ke luar sebagai pemenang lebih mengandalkan akal sehat dan kreativitas sebagai ujung tombak menentukan langkah. Sementara mereka yang memilih sebagai kumpulan orang-orang kalah lebih mengandalkan ilusi (delusional) dan dogma-dogma yang merendahkan akal sehat. Dua mashab penyikapan dan pemikiran inilah yang sangat sengit berhadapan di lapangan kehidupan keseharian bangsa ini.

Dalam hal ini upaya pemerintah untuk mambawa bangsa ini ke luar sebagai pemenang, bukan tidak ada. Hanya saja kealpaan dalam menangkap realita Indonesia sebagai negara kepulauan berikut kondisi sosial ekonomi dengan tingkat perbedaan kualitas pendidikan dan variabel budaya yang begitu kaya, berpotensi mengundang kegelisahan massal ketimbang menebar rasa aman. 

Belum lagi keresahan di wilayah ekonomi yang ditimbulkan oleh  diberlakukannya PSBB. Jutaan masyarakat lapisan bawah hingga menengah bawah, banyak yang menjadi berada dalam kondisi zero bahkan minus penghasilan. Penyikapan massa rakyat pun mengerucut pada pilihan; mati oleh Corona atau mati karena kelaparan. Maka sangat wajar bila banyak yang memilih mengambil risiko yang dirasakan lebih heroik. 

Didorong oleh  keyakinan bahwa mati terserang virus Corona saat mencari nafkah adalah syahid. Jauh lebih mulia ketimbang mati konyol di tempat tidur karena kelaparan. Pilihan ini, dipastikan akan  memberi andil besar terhadap perluasan wilayah dan perpanjangan masa penyebaran virus Covid-19 dengan segala konsekuensinya. Belum lagi membayangkan kasus mudik lebaran yang dilakukan massa rakyat...masyaallah!

Memang pemerintah dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Sehingga kurang bijak juga ketika serta merta seluruh kekalutan ini dilempar sebagai tanggungjawab pemerintah sepenuhnya. Apalagi dengan agenda politik tertentu yang menginginkan terjadinya perubahan sebagaimana peristiwa ‘98. Suatu pemikiran atau gagasan yang sangat mengkhawatirkan. 

Bukannya meningkatkan kadar dan kualitas sense of crisis yang berlanjut dengan kesadaran untuk bersatu membangun kekuatan nasional, yang terjadi malah sangat gemar mencari celah untuk saling memojokkan. Yang beroposisi mengambil jarak dan bersikap ofensif; sementara pihak pemerintah enggan merangkul, defensif, dan merasa mampu mengatasi semua persoalan secara sendiri.

Langkah yang tegas dengan kejelasan arah akan sangat diperlukan ketika bangsa ini memasuki periode pasca lebaran dengan segala persoalan yang ditimbulkannya. Hadirnya ratusan ribu ‘penganggur baru’ merupakan potensi munculnya kerusuhan baru yang harus dengan cermat dan bijaksana diperhitungkan. Tidak cukup hanya dengan imbauan maupun ajakan rakyat untuk bersabar ketika tuntutan perut menjadi pusat pengendalian gerakan massa. 

Tapi sejauh itu, tetap penting untuk dicatat; bahwa yang tengah kita hadapi bukan semata masalah ekonomi yang seringkali menjadi fokus paling utama pemerintah. Masalah yang kita hadapi sudah pada tingkat yang bersifat lebih jauh lagi, yakni masalah kebudayaan. Dalam hal ini, tugas menteri kebudayaan menjadi sangat penting untuk sesegera mungkin melakukan shaping dan reshaping bangunan Nation and Character building. 

Bukan malah mereduksi masalah Kebudayaan hanya sebatas persoalan pendidikan, tari menari, atau pagelaran bermusik ria, dan sejenisnya. Atau bermain dengan semantik masyarakat di Barat yang membuat kita  latah dan gencar memperkenalkan istilah ‘New Normal’. Sebuah kelatahan nasional  tanpa kejelasan langkah menyelesaikan masalah pokoknya: kualitas kebudayaan kita sebagai bangsa.

Bangsa ini sudah kehilangan rasa persatuan, gotong royong, dan rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama anak bangsa. Erosi kemanusian dan hedonisme yang semakin meluas. Miskin inovasi dan kreativitas positif. Rakyat kehilangan daya gerak yang positif dan lebih cenderung berkubang pada arena kehidupan yang menebarkan aura negatif. Ini persoalan kebudayaan yang sangat serius. Tanpa pemahaman yang mendasar akan hal ini, perjalanan bangsa ini menuju kumpulan manusia-manusia yang kalah, merupakan suatu keniscayaan.

Hal yang tak kalah penting adalah tugas yang harus diemban oleh selain Menteri Keuangan, adalah Menteri Sosial untuk mengenal betul rakyat yang disantuninya. Menteri kesehatan juga dipicu untuk lebih memahami bahwa bangsa ini tengah mengidap penyakit yang lebih kompleks ketimbang penyakit yang ditimbulkan oleh virus Corona. 

Tidak ada hinanya bila meminta atau bertukar pikiran dengan mantan Menteri Kesehatan kita (Ibu Siti Fadilah) yang dulu pernah dengan sukses melumpuhkan penyebaran wabah virus flu burung. Bahkan berhasil menggagalkan rencana WHO yang sangat ‘berhasrat’ mem-Pandemikan wabah flu burung saat itu. Suatu kerugian besar pun dialami para mafia bisnis kesehatan, produsen farmasi raksasa dunia yang telah bersiap meluncurkan vaksin anti flu burung buatan mereka. Sebagai salah satu konsekuensinya, Siti Fadilah harus rela dipenjarakan dengan tuduhan cukup absurd: ‘korupsi’!

Untuk melawan virus Corona yang tak kasat mata, tidak diperlukan seseorang yang pandai mengokang senjata. Cukup seseorang yang tau medan dan tau persis bagaimana dan apa sebenarnya musuh yang tengah kita dihadapi. Dan karenanya, atas nama negara dalam keadaan bahaya, mengeluarkan seorang ekspert sekelas Ibu Siti Fadilah dari tempat ‘pembuangan’nya...why not? Mudah-mudahan gayung bersambut dan Yang Mulia Bapak Presiden turut mengiyakan..why not?!

Nah, tinggal lagi kepada para pembantu presiden, jangan lagi hanya menunggu instruksi dan berlindung di balik ketiak presiden sembari cuci tangan menghindar dari tanggungjawab. Jangan biarkan Presiden menjadi sasaran tunggal hujatan rakyat; kecuali beliau sendiri yang menghendakinya.

Semoga kita memilih jalan ke luar sebagai pemenang, dengan mental juara yang dulu sekali pernah bangsa ini miliki, amin.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF