Menggantungkan Harapan pada Diaspora Indonesia
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 17 February 2021 18:10
Watyutink.com – Dalam perjalanan ke luar negeri, hampir selalu bertemu dengan kaum diaspora Indonesia, yakni warga negara atau keturunan Indonesia, yang tinggal dan bekerja di luar negeri. Mereka masih fasih berbahasa Indonesia dan punya akar yang kuat di Tanah Air.

Terbersit rasa bangga saat mendengarkan cerita mereka tentang kegiatan mereka di luar negeri. Salah satunya adalah seorang engineer, namanya Bambang, yang mengepalai bagian teknik rekayasa raksasa otomotif BMW.  Di bagiannya lah mobil baru go or no go untuk dipasarkan. Sebuah posisi yang tidak sembarang orang bisa menduduki.

Dia berkisah bagaimana satu produk otomotif BMW dihasilkan. Melalui rancang bangun yang cukup rumit, diuji ketahanan, kekuatan, kenyamanan, konsumsi bahan bakar –saat itu mobil dengan mesin dengan bahan bakar masih dominan--, dan keamanan pengendara.

Mobil BMW yang terpajang di show room, katanya, merupakan produk final yang sudah menjalani berbagai uji coba dan hasil rekayasa teknik yang canggih. Sayangnya, ada konsumen di Tanah Air yang senang melakukan modifikasi sehingga membuat mobil tersebut berpotensi rentan rusak.

Selain Bambang, penulis juga bertemu dengan direktur eksekutif perusahaan gabungan Philips dan LG yang memproduksi lampu LED. Dia keturunan Jawa Suriname yang tinggal di Belanda dan dapat berbicara bahasa Indonesia.

Ada lagi seorang pebisnis butik yang menjahit baju untuk keluarga kerajaan Brunei Darussalam. Dia sering bolak-balik ke Jakarta-Brunei untuk membeli bahan bagi jahitannya. Keluarga besarnya masih tinggal di Sukabumi, sementara dia tinggal di Negeri Sultan Bolkiah.

Masih banyak lagi kaum diaspora yang bertebaran di luar negeri yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Ketua Dewan Pengawas Indonesia Diaspora Network Global, Dino Patti Djalal, mengungkapkan jumlah diaspora di luar negeri mencapai 7 – 8 juta orang dan tersebar di seluruh negara.

Mereka merupakan kekuatan ekonomi yang harus dimanfaatkan untuk pembangunan bangsa. Mereka berkarya di berbagai bidang, memiliki beragam keahlian. Potensi ini dapat menjadi sebuah dorongan pembangunan yang sedang dibutuhkan Indonesia.

Sedikitnya ada tiga potensi pada kaum diaspora Indonesia. Pertama, membawa investasi masuk ke Tanah Air. Mereka mengetahui peta investasi di luar negeri. Mereka bekerja dan mencari peluang investasi atas nama institusi ataupun perusahaan tempat mereka bekerja di luar negeri. Pengetahuan mereka mengenai pola investasi dibutuhkan oleh pemerintah dalam menyusun kebijakan yang market friendly.

Kedua, keahlian dan pengetahuan. Kaum diaspora bersentuhan langsung dengan pengembangan teknologi melalui fasilitas dari beragam institusi ataupun perusahaan tempat mereka bekerja. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan di Tanah Air, sejalan dengan visi pemerintah tentang pentingnya pembangunan sumber daya manusia.

Diaspora Indonesia diharapkan melakukan transfer teknologi dan keahlian untuk kepentingan bangsa Indonesia. Mereka bisa memotret permasalahan di Tanah Air dan mencari keahlian yang paling sesuai untuk mengatasinya. Beberapa bidang yang menantang untuk dikembangkan adalah energi terbarukan, peningkatan produktivitas pertanian, peternakan, pembangunan infrastruktur, e-commerce, dan ekonomi kreatif.

Kaum diaspora juga dapat merajut hubungan kepariwisataan. Mereka mewakili berbagai macam budaya bangsa Indonesia di luar negeri. Mereka menampilkan kekhasan setiap suku bangsa di Tanah Air, meliputi tarian daerah, makanan, pakaian adat, bahasa, dan adat istiadat. Masing-masing mereka menjadi duta Nusantara yang bekerja mempromosikan kepentingan bangsa.

Kaum diaspora Indonesia membangun hubungan dalam pola beragam dengan pemerintah dan masyarakat yang tinggal di Tanah Air. Mereka adalah sumber remitansi, jaringan, keterampilan, pengetahuan yang besar potensinya untuk pembangunan.

Kekayaan terbaik dari para diaspora adalah keinginan secara sukarela untuk membuat Indonesia maju. Sayangnya belum ada keseriusan pemerintah untuk merangkul mereka. Perlu ada kementerian atau badan khusus yang menangani keberadaan mereka sehingga potensi yang dimiliki mereka benar-benar dapat mendapatkan kemaslahatan bagi Indonesia. 

Pada saat ekonomi mengalami krisis akibat pandemi Covid-19, pemerintah perlu mencari alternatif sumber pertumbuhan di luar bidang atau sektor konvensional dan tradisional. Potensi diaspora Indonesia bisa menjadi jawaban. 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI