Mengembalikan Khittoh Seni Musik
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 22 January 2020 13:30
Watyutink.com - Suatu hari saya dapat WA dari musisi dan budayawan kondang Erros Djarot (Mas Eros) yang berisi undangan menyaksikan pagelaran “Live Streaming Concert; Tribute to Erros Djarot” tanggal 12 Januari 2020. Undangan terbatas, artinya hanya untuk orang tertentu saja, sebagaimana catatan yang tertulis dalam WA “Tidak untuk disebarluaskankarena bersifat undangan terbatas”. Bahkan dalam WA tersebut ada catatan tambahan “ dress code: yang penting keren”. Untunglah untuk catatan yang terakhir ini saya berhasil  sehingga diizinkan untuk tetap memakai blangkon dan baju tradisi hitam.

Saya merasa tersanjung mendapat undangan itu. Bukan saja karena dianggap Mas Eros sebagai orang “khusus” yang berhak mendapat undangan, tetapi juga diberi kesempatan menyaksikan suatu event musik yang sarat makna. Saya menduga, malam itu tidak hanya akan mendapat suguhan karya musik yang mintilihir (adiluhung). Dan dugaan saya ternyata benar, malam itu saya menyaksikan dan menikmati karya-karya Mas Eros yang belum dirilis ke publik, meski beberapa di antaranya sudah direkam di studio beberapa tahun lalu, sebagaimana yang disampaikan oleh Dira Sugandi. Dari sebelas lagu yang ditampilkan, hanya beberapa lagu yang sudah dirilis, di antaranya “Rindu” yang pernah dibawakan Fryda Lucyana pada awal dekade 90-an.

Menyaksikan event konser pada malam itu saya seperti sedang diajak mengembara Mas Eros dalam lautan nada dengan gelombang irama yang menggetarkan jiwa. Saya seperti sedang menikmati sama’, yaitu alunan musik dan nyanyian dalam zikir kaum sufi. Di sini Mas Eros mencoba mengembalikan khittoh music sebagai ekspresi jiwa dan spirit religiusitas. Persis seperti yang pernyataan Imam Dzun Nuun al-Mishri: “Mendengarkan (musik) adalah sentuhan (warid) Allah yang membangkitkan hati untuk menuju Allah. Barang siapa yang mendengarkannya dengan Allah (al-Haqq) akan sampai pada-Nya, sedangkan orang-orang yang mendengarkannya dengan hawa nafsu (nafs) akan jatuh ke dalam kesesatan (tazandaqa)”.

Ini dibuktikan dengan komposisi nada, lirik dan syair serta irama lagu ciptaan Mas Eros yang rata-rata bernuansa konteplatif, dan menyentuh batin. Pendeknya lagu-lagu karya Mas Eros malam itu tidak sekedar menyentuh aspek nafsu yang sekedar memenuhi rasa kesenangan, keceriaan dan keindahan lahiriyah (hanya di telingan), tetapi rasa batin yang dalam. Suatu jenis dan komposisi yang tidak bisa dinikmati awam yang hanya mengandalkan pendengaran telinga dan nafsu.

Selain memiki dimensi spiritualitas yang tinggi, lagu-lagu Mas Eros juga sarat dengan kritik yang mencerminkan kepekaan terhadap relitas sosial. Mencermati syair-syair lagu Mas Eros malam itu, mengingatkan saya pada sosok musisi Mesir Eissa dan Nagm. Duet musisi yang menjadi langganan keluar masuk penjara di era kepemimpinan Presiden Nasser. Teriakan mereka dalam tembang-tembang ciptaannya, bagai bara api yang membakar semangat  para demonstran. Melalui lagu-lagu politiknya, duet musisi Eissa dan Nagm, melawan imperialisme, rasisme, dan Zionisme, serta oknum elite penguasa yang korup.

Juga Manic Street Preachers (MSP) kelompok music Roc yang sangat tegas dalam mengangkat isu sosial dan kritis secara intelektual. Lirik lagu MSP banyak  mengangkat isu problem sosial politik yang terjadi di berbagai belahan dunia, sehingga masih relevan hingga saat ini.Seperti issu pergolakan terhadap eksploitasi wanita yang dilakukan oleh kaum pria, kapitalisme, budaya konsumerisme yang menjalari sebagian kaum urban. Seperti terlihat lewat tembang klasik “Motorcycle Emptiness”.

Kelompok music lain yang memiliki kesadaran kritis dan menjadikan music sebagai media kritik social adalah Sex Pistol yang beridiri decade 70-an dan menjadi symbol pemberontakan. Band ini lahir dari sekumpulan anak muda yang khawatir terhadap rezim pemerintah yang dirasa makin merajalela. Pada tahun 1977 band ini menggubah secara nakal dan radikal lagu kebangsaan Inggris “God Save the Queen” sebagai bentuk satir yang ditujukan langsung kepada sang Ratu. Syair lagu gubahan ini menolak kebijakan monarki yang menyelimuti kubu kerajaan Inggris.

Saya tidak tahu persis apakah Mas Eros pernah bersentuhan dengan grup-grup band tersebut, sehinggaa menjadikannya sebagai sumber inspirasi. Tapi melihat era keberadaan band-band tersebut yang sezaman saat Mas Eros berproses menjadi seorang musisi saya yakin dia mengenal atau bahkan bersentuhan dengan grup-grup band tersebut.

Memang syair dan lyric yang diciptakan Mas Eros tidak sevulgar dan sekeras grup-grup band tersebut. Faktor social budaya Timur yang membentuk habitus Mas Eros tidak memungkinkan melakukan protes dan mengekspresikan kritik dengan bahasa yang vulgar dan keras. Sebagai seorang priyayi Jowo, Mas Eros memiliki bahasa tersendiri untuk mengungkapkan kritik terhadap realitas. 

Ini terlihat jelas diksi kritik yang ada dalam lagu Mas Eros yang khas Jawa, yang lebih mirip dengan syair para pujangga Jawa.Misalnya syair Ranggawarsita yang melukiskan kraton begitu lengang dan kosong, tanpa wibawa dan kuasa karena telah dicengkeram oleh pemerintah colonial. Beberap syair Ronggowarsito bernada getir dan satire merupakan ekspresi kemarahan yang disimpannya diam-diam. Sebagai seorang musisi yang sekaligus politisi  Mas Eros sangat memahami kondisi sosial politik negerinya, yang membuatnya galau, marah dan sedih.

Perasaan inilah yang kemudian dituangkan dalam syair dan lyric lagu, sehingga lagu-lagunya menjadi kaya tema. Jika dilihat sepintas syair lagu Mas Eros yang ditampilkan malam itu hanya bicara soal cinta. Tapi jika dicermati dan direnungkan secara mendalam, cinta yang disampikan Mas Eros bukan cinta picisan yang hanya berdasar syahwat dan nafsu, tetapi cinta terdapa kemanusiaa, cinta negara, cinta bangsa bahkan cinta pada sang Pencipta. Karena karya Mas Eros lahir dari kepekaan batin (dzauq) dalam melihat realitas zaman, maka memiliki kekuatan yang menggedor batin.

Hal lain yang patut di catat dari pagelaran musik Mas Eros malam itu adalah keberaniannya melawan arus pasar kapitalisme. Sekalil agi ini membuktikan bahwa Mas Eros adalah seniman berkarakter dan idealis yang tidak mudah takhuk pada industri. Bagi Mas Eros musik benar-benar menjadi ekspresi jiwa dan idealism, bukan semata-mata komoditi industri yang menghasilkan uang. Di tengah tarikan musik sebagai komoditi industri dan ekspresi idealisme sebagai media kritik komtemplatif, Mas Eros telah memilih pada pilihan kedua. Konsekuensinya Mas Eros mengabaikan tuntutan pasar. Dia tidak peduli karyanya lahu atau tidak yang penting dia terus berkarya dan menyebarkan karyanya melalui caranya sendiri. Suatu pilihan sikap yang tidak mudah, penuh risiko tapi sangat mulia.

Terima kasih Mas Eros, yang telah mengembalikan musik ke dalam khittohnya yaitu sebagai media eksplorasi dan ekspresi spiritualitas dan intrumen kritik yang beradab dan menyenangkan. Semoga jejakmu dan langkahmu menjadi inspirasi para musisi saat ini, sehingga kami terus memiliki kesempatan menikmati karya-karya musik yang inspiratif dan tetap menghibur.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF