Mengembalikan Khitah Teknologi Bagi Kesehatan Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 04 July 2020 10:00
Watyutink.com - Peringatan 100 tahun berdirinya Institut Teknologi Bandung (ITB) minggu ini merupakan saat yang tepat untuk menghargai peranan teknologi, khususnya bagi kesehatan planet bumi.

Pandemi COVID-19 membuktikan, ketika tekanan manusia pada iklim dan biosfer bertambah, pola wabah penyakit dan jalur terpaparnya manusia makin melebar. Kemampuan manusia untuk mencegah penyakit dan mengurangi dampaknya bergantung pada kapasitas dalam meningkatkan pelestarian lingkungan dan menghindari pelanggaran batas-batas ekologis.

Komisi Rockefeller Foundation-Lancet tentang Kesehatan Planet menyatakan, kesehatan manusia dan kesehatan planet bumi saling terkait. Ini sebenarnya bukan konsep baru, karena telah berabad-abad lamanya masyarakat tradisional mengetahui bahwa melukai bumi berarti melukai diri sendiri.

Dalam menyikapi hal ini, Indonesia harus memberi lebih banyak ruang di tingkat nasional dan internasional baik bagi generasi mudanya, maupun bagi para praktisi dan pengkaji teknologi berbagai bidang, untuk memaparkan penelitian dan pemikiran yang terkait dengan kesehatan planet.

World Economic Forum, misalnya, sejak tahun 2000 membentuk Komunitas Pionir Teknologi dengan memilih sejumlah perusahaan dari berbagai penjuru dunia, baik yang masih berada pada tahap awal maupun yang sedang berkembang. Mereka terlibat dalam desain, pengembangan, dan penyebaran teknologi dan inovasi baru, yang bakal memiliki dampak signifikan bagi dunia usaha dan masyarakat.

Selama dua tahun, para Pionir Teknologi ini menjadi bagian dari inisiatif, kegiatan, dan acara World Economic Forum, dengan menjelaskan wawasan mereka pada diskusi global yang kritis. Banyak yang telah menjadi sangat terkenal di dunia, seperti Airbnb, Google, Spotify, Twitter dan Wikimedia.

Tahun ini terpilih 100 Pionir Teknologi yang meliputi berbagai usaha dari kecerdasan buatan (artificial intelligence) hingga penangkapan karbon, untuk menanggulangi krisis iklim, meningkatkan layanan kesehatan, dan berbilang hal lainnya agar masyarakat memiliki masa depan yang lebih baik.

Nampaknya kecerdasan buatan di tingkat manufaktur akan mengalami kemajuan yang pesat. Jika sekarang produk industri umumnya menghabiskan waktu, dan menggunakan energi dan bahan baku secara boros, COVID-19 akan memicu banyak perusahaan untuk segera menerapkan teknologi berbasis “cloud” guna efisiensi pada lini produksi di seluruh rantai pasokan mereka. Tingkat output dan kualitas menjadi lebih tinggi, kerja lebih cepat, biaya lebih murah, dan limbah berkurang sebanyak 50 persen.

Kecerdasan buatan dipastikan juga akan sangat membantu tenaga medis. Sekelompok peneliti di Kalifornia, Amerika Serikat membuat model untuk memperkirakan jumlah infeksi COVID-19 yang tidak terdeteksi dan konsekuensinya bagi kesehatan masyarakat melalui analisis 12 wilayah di seluruh dunia. Mereka juga mempelajari bagaimana virus bermutasi ketika menyebar melalui populasi untuk menyimpulkan berapa banyak penularan yang terlewatkan.

Terkait dengan penerapan teknologi, Komisi Rockefeller Foundation-Lancet tentang Kesehatan Planet mengingatkan, teknologi baru perlu dikaji dari sisi manfaat yang akan dihasilkan maupun kerugian yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, mobil diesel biasanya menggunakan bahan bakar lebih irit daripada mobil bensin, tetapi mengeluarkan lebih banyak polutan.

Penelitian tentang transportasi ramah lingkungan yang akan membantu kesehatan planet bumi kini marak dilakukan di berbagai perguruan tinggi, termasuk juga di ITB.

Kilas balik 100 tahun perjalanan ITB tidak lepas dari seorang alumninya yang termasuk sebagai insinyur orang Indonesia pertama lulusan Technische Hogeschool te Bandoeng, cikal bakal ITB.  Soekarno, sang proklamator  yang lulus tahun 1926 itu sangat menjiwai khitah teknologi.

Dalam “To Build The World A New,” pidatonya sebagai Presiden Republik Indonesia pada Sidang Umum PBB tahun 1960 ia menegaskan: “Dan memang masih banyak yang harus kami pelajari dari Tuan-tuan di banyak bidang. Tetapi pada dewasa ini bidang-bidang yang kami harus pelajari lebih banyak lagi dari Tuan-tuan, adalah bidang teknik dan ilmiah, dan bukan paham-paham atau gerakan yang didiktekan oleh ideologi.”
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila