Mencegah Runtuhnya Peradaban Karena Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 12 September 2020 10:35
Watyutink.com - Warga di Kepulauan Aru, Provinsi Maluku terancam dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, gelombang laut tinggi, dan cuaca ekstrem. Potensi bencana ini berdampak pada ketersediaan air bersih, perikanan, pertanian, perhubungan laut, dan permukiman.

Masyarakat kemudian berembuk tentang kegiatan apa yang sebaiknya mereka prioritaskan. Seperti tertulis pada Newsletter USAID APIK Regional Maluku, sebuah desa kemudian fokus pada kerentanan ketersediaan air bersih dan merencanakan penanaman pohon mangga dan pohon jati untuk reboisasi di wilayah sumber mata air; serta pemanenan air hujan. Juga pembuatan sumur resapan dan papan informasi cuaca dan iklim.

Sementara itu di Zimbabwe, para petani yang menggunakan jagung tahan kekeringan mampu memanen 600 kilogram lebih banyak per hektar dibandingkan dengan jagung konvensional. Sedangkan di Amerika Serikat, kota-kota Houston, Miami, dan San Francisco merencanakan investasi miliaran dolar untuk melindungi penduduk di pesisir, antara lain dengan membangun tanggul laut, meninggikan infrastruktur, bahkan menyingkir dari tepi laut. 

Demikianlah beberapa ilustrasi tentang adaptasi di masa kini, yaitu proses penyesuaian terhadap perubahan iklim, dengan mencari cara agar manusia dapat meminimalkan kerusakan dan penderitaan yang disebabkan oleh krisis iklim.

Dr. Jason Ur, arkeolog dari Universitas Harvard memaparkan kepada Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), dalam menggali sisa-sisa peradaban masa lalu, sangat jarang ada bukti bahwa masyarakat kuno secara keseluruhan melakukan upaya untuk berubah dalam menghadapi iklim yang mengering, atmosfer yang memanas dan berbagai perubahan lainnya. Menurut Jason, ketidakfleksibelan inilah penyebab runtuhnya sebuah peradaban.

Sean Fleming menulis untuk World Economic Forum tentang bagaimana perubahan iklim menghancurkan beberapa peradaban kuno. Lebih dari 4.000 tahun yang lalu di Mesopotamia, kekaisaran Akkadia berada dalam puncak kekuasaan. Namun, pola perubahan iklim di Timur Tengah dengan kekeringan selama 300 tahun mengakhiri peradaban tersebut.

Kekeringan juga dikaitkan dengan jatuhnya peradaban Maya sekitar tahun 900, setelah sebelumnya berjaya selama  3000 tahun. Sedangkan Angkor Wat, candi terbesar di dunia yang berada di Kamboja adalah saksi bisu punahnya Kerajaan Khmer pada awal 1400-an.

Ketika efek kekeringan mulai terasa, orang akan meninggalkan daerah yang terkena bencana dan bermigrasi ke daerah yang lebih melimpah. Namun, migrasi massal ini meningkatkan tekanan pada sumber daya yang tersisa, dan malah menimbulkan lebih banyak masalah.

Perubahan Iklim adalah masalah global, yang memerlukan solusi dan mobilisasi sumber daya secara global pula. Tidak heran jika di tahun 2018 para tokoh dunia membentuk Global Commission on Adaptation.

Komisi Global untuk Adaptasi mendorong pengembangan langkah-langkah untuk mengelola dampak perubahan iklim melalui teknologi, perencanaan dan investasi. Sekretaris Jenderal PBB kedelapan, Ban Ki-moon memimpin kelompok ini bersama Bill Gates serta Kristalina Georgieva, Managing Director International Monetary Fund.

Bersama lebih dari 75 mitranya yang meliputi pemerintah, lembaga, organisasi masyarakat sipil, dan pelaku usaha, Komisi berupaya meningkatkan solusi adaptasi iklim dengan fokus pada Keuangan dan Investasi, Ketahanan Pangan dan Pertanian, Solusi Berbasis Alam, Air, Kota, Kegiatan Lokal, Infrastruktur, dan Pencegahan Bencana.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjelaskan, di Indonesia, pada tingkat pemerintah, upaya adaptasi sudah menjadi bagian dari rencana pembangunan jangka pendek, menengah dan panjang yang dikenal dengan pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim.

Dalam menanggulangi krisis iklim, tidak cukup hanya dengan adaptasi, karena perubahan terjadi dengan sangat cepat. Untuk itu harus juga ada mitigasi yaitu upaya memperlambat proses perubahan iklim dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfer dari kegiatan manusia. Dengan pelaksanaan adaptasi dan mitigasi melalui kebijakan yang tepat, semoga manusia modern dapat mencegah runtuhnya peradaban karena iklim.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF