Mencari Solusi Berbasis Alam
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
18 May 2019 10:00
Watyutink.com - Dalam sepuluh tahun terakhir, setiap detiknya, di dunia ini satu orang mengungsi akibat bencana perubahan iklim. Pada tahun 2018 saja, peristiwa cuaca ekstrem berdampak pada 60 juta orang, tanpa ada belahan dunia yang terhindar dari imbas percepatan perubahan iklim. 

Di Indonesia, menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo, pada tahun 2018 ada 2.372  kejadian bencana, yang menyebabkan 3,5 juta orang menderita dan mengungsi.

Lebih dari 90 persen bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi. Ini adalah bencana alam yang terjadi karena fenomena meteorologi seperti hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi.

Belakangan ini muncul pemikiran dan perdebatan, bahwa untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan dan bencana di bumi ini, manusia harus kembali ke alam. Sehingga timbul jargon baru di kalangan peneliti dan praktisi, yaitu Nature-Based Solutitons (NbS) atau Solusi Berbasis Alam.

Solusi Berbasis Alam adalah usaha memperkaya habitat alami untuk mendukung keanekaragaman hayati dan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi masyarakat seperti perubahan iklim, kelangkaan air dan pangan, serta bencana alam. 

Daya upaya solusi berbasis alam termasuk perbaikan ekosistem pesisir untuk melindungi masyarakat dari gelombang badai dan erosi, agroforestri untuk menstabilkan hasil panen di iklim yang lebih kering, dan restorasi hutan untuk mengatur pasokan air dan perlindungan dari banjir dan tanah longsor.
 
Konsep NbS mulai dilirik oleh organisasi internasional seperti Uni Internsional untuk Konservasi Alam (IUCN) guna mencari cara untuk bekerja dengan ekosistem alam, daripada hanya mengandalkan solusi teknik konvensional seperti membangun dinding beton untuk mencegah gelombang tinggi (seawall). NbS juga dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat dan melindungi ekosistem alam serta  keanekaragaman hayati.
 
Sebenarnya, merujuk pada alam sudah didengungkan 400 tahun lalu oleh filsuf Inggris abad ke 17, Francis Bacon, yang juga dikenal sebagai Father of Scientific Method karena dialah yang mempopulerkan "metode ilmiah" dalam penyelidikan fenomena alam. Melalui karyanya yang berjudul Novum Organum, Francis menjelaskan, sedemikian rupanya hubungan manusia dengan alam sehingga umat manusia hanya dapat mengenal dunia dengan menjadi pelayan dan penafsirnya. Ia menegaskan bahwa alam hanya dapat diatasi dengan dipatuhi, nature to be commanded must be obeyed.

Sebuah platform bernama Nature-based Solutions Initiative dibentuk di Universitas Oxford di Inggris sebagai program penelitian antar disiplin, saran kebijakan dan pendidikan yang bertujuan untuk memahami potensi Solusi Berbasis Alam guna membantu pembuat keputusan. Intinya, kebijakan haruslah berbasis ilmu pengetahuan, yang kemudian dilaksanakan dalam menjawab tantangan global.

Program ini, yang dipimpin Nathalie Seddon, Professor bidang Keanekaragaman Hayati lulusan Universitas Cambridge, mengumpulkan informasi ilmiah tentang Solusi Berbasis Alam dan akan terus berkembang dengan lebih banyak studi, panduan kebijakan, dan fungsi untuk membantu pembuat keputusan.

Di Indonesia, konsep Solusi Berbasis Alam telah digaungkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang mengajak masyarakat untuk bekerja sama menjaga alam sebagai penyedia sumber air bagi kehidupan. Kerjasama intensif diperlukan untuk mengembalikan fungsi alami situ, danau, embung, dan waduk. Melalui restorasi, kapasitas sumber air akan meningkat, sehingga berbagai pihak dapat memperoleh manfaatnya. Nampaknya dalam beberapa tahun ke depan, Solusi Berbasis Alam untuk menjawab berbagai tantangan global akan lebih menjadi perhatian. 

Pada 23 September 2019, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres akan menjadi tuan rumah Climate Action Summit, KTT Aksi Iklim, di New York untuk meningkatkan ambisi dan mempercepat pelaksanaan Persetujuan Paris.

Solusi Berbasis Alam, salah satu dari 9 topik utama di New York, akan fokus pada hutan dan ekosistem berbasis lahan, pertanian cerdas dan sistem pangan, serta regenerasi kehidupan di sungai, danau dan lautan. Juga memberdayakan masyarakat agar jiwa raga dan suka cita manusia tidak lepas dari alamnya.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar