Memerangi Virus Corona?
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 07 April 2020 11:00
Watyutink.com - Perang melawan virus Corona sedang berkecamuk, musuh kasat mata yang menjengkelkan. Virus perlu diperangi karena, jika tidak, kita bakal terus disakiti bahkan dibinasakan. Korban manusia telah berjatuhan, sedikitnya 74.697 meninggal, 1.346.566 sakit diseluruh dunia (sampai 7 April). Persoalannya bagaimana kita berperang dengan “musuh” yang tidak terlihat dan tidak terlalu jelas azbabun nusulnya ini.

Virus mirip “roh jahat”, masuk ke tubuh manusia tanpa diketahui. Bayangkan, wabah virus atau bakteri yang terjadi di Eropa dan sebagian Asia pada abad 14, dikenal sebagai “The Black Death”. Wabah sampar (pestilence) ini adalah pandemi yang paling mengerikan dalam sejarah manusia. Diperkirakan membunuh 75 juta sampai 200 juta manusia.

Saat wabah mengamuk, tahun 1343 - 1351, adalah era yang sering dinamai sebagai “abad kegelapan“ (Dark Ages). Saat itu manusia terkungkung dalam pemikiran takhyul atau religius, belum memahami dunia mikroba, bakteri atau virus. Sehingga muncul dugaan, roh jahat, kutukan dewa, atau cobaan Tuhanlah yang menyebabkan terjadinya wabah.

Di era pasca-modern saat ini, ketika pengetahuan manusia sudah lebih baik, dan manusia sudah tahu bahwa mikroba (jamur, bakteri, virus) adalah penyebab wabah, cara berpikir takhyul tidak sepenuhnya hilang. Selain paradigma religius, wabah adalah “cobaan Tuhan”, paradigma lainnya adalah kegemaran ber-teori konspirasi. Bahwa pandemi virus sengaja diciptakan oleh oknum atau negara tertentu sebagai “senjata biologis” untuk menyerang negara lain. Atau untuk ‘menguasai dunia”.

Yang menjengkelkan dari teori konspirasi serampangan ini adalah, kegagalan memahami bahwa virus tidak bisa diciptakan. Virus mungkin secara genetis bisa dimanipulasi dan digunakan untuk tujuan spesifik, misalnya sebagai vaksin. Namun virus tidak bisa dimanipulasi hanya untuk menyerang negara atau wilayah tertentu, tanpa berisiko menyerang negara yang memanipulasi itu. Karena virus bukan robot yang bisa diprogram untuk patuh pada perintah yang memrogam.

Dan kalaupun, ada negara yang memiliki teknologi memanipulasi virus—sedemikian rupa—untuk dijadikan senjata biologis, pasti bakal terlacak, bisa diketahui. Dunia sains virologi bukanlah ilmu yang bisa dirahasiakan, di era globalisasi sains saat ini. Seorang ahli biologi, spesifik ahli virus, di manapun bisa mengetahui adanya perbedaan sekuen genetik, kode DNA, virus yang dimanipulasi, baik virolog di Amerika, China, Rusia, atau Indonesia.

Cara berpikir konspiratif mungkin masih bisa dimaklumi, ketika dunia masih tercengkeram era perang ideologi, atau perang dingin, sampai tahun 1980. Ketika antar negara yang berbeda ideologi saat itu (komunis vs kapitalis) masih siap saling sergap dan libas untuk memenangkan pertarungan global. Perang saat ini, abad 21, adalah perang memperebutkan kapital. Jika ada upaya menggunakan virus sebagai senjata, maka yang diciptakan adalah virus komputer, virus artificial Intelligence. Bukan virus Corona.

Namun, memang harus dipahami. Dengan segala kemajuan pengetahuan virologi saat ini, dunia virus dan mikroba masih tetap menyimpan banyak misteri. Dalam arti, virus adalah entitas biologis yang belum sepenuhnya bisa diidentifikasi dengan pasti. Penyakit yang disebabkan oleh virus (virulence) bisa terjadi karena kebetulan, terkadang tak bisa dijelaskan asal muasalnya secara persis, selain bahwa itu terjadi. 

Wabah Covid-19 juga demikian, ada hipotesis berasal dari Corona virus yang bermigrasi dari kelelawar, mulai menyebar di sebuah pasar di kota Wuhan. Mungkin benar, tapi itu sekedar salah satu hipotesis yang tidak bisa dipastikan seratus persen validitasnya. 

Yang juga harus dipahami, tidak semua virus berbahaya atau berpotensi menyakiti manusia. Ada sejumlah virus yang diketahui membantu membunuh bakteri, atau melawan virus lain yang berbahaya dalam tubuh manusia. Virus penyerang bakteri dinamai bacteriophages, mereka menginfeksi dan menghancurkan bakteri penyebab penyakit. Menjadi bagian dari sistem kekebalan, melindungi tubuh manusia dari serbuan bakteri.

Teknologi modern memungkinkan manusia memahami kompleksitas komunitas mikroorganisme yang menjadi bagian dari tubuh manusia. Selain bakteri baik, kini juga diketahui terdapat beragam virus baik yang berdiam di usus, kulit dan darah manusia.

Pemahaman menyangkut peran mikroba baik dalam tubuh manusia masih sangat baru. Penelitian dunia virus dan mikrobiologi berpotensi membantu manusia semakin memahami infeksi virus, dan bagaimana melawan virus berbahaya. Selain bisa mengungkap evolusi genome manusia, penyakit turunan, dan pengembangan terapi gen.

“Memerangi virus” bukanlah istilah atau frasa yang pas. Manusia tidak mungkin bisa memerangi virus, dalam arti membunuh atau membasmi virus agar musnah dan lenyap dari bumi. Virus tidak bisa dibunuh karena, ia bukan mahluk hidup. Virus bisa dianalogikan sebagai semacam partikel, bagian dari proses evolusi kehidupan. Itu sebabnya virus berdiam di sel-sel mahluk hidup.

Dengan demikian, alih-alih memerangi virus secara harfiah, mungkin yang perlu diprioritaskan adalah memerangi paradigma berpikir irasional, takhyul, atau konspiratif terkait virus. Berperang untuk memenangkan paradigma tertib berpikir melawan intuisi, asumsi, persepsi, emosi, atau kekacauan kognisi. 

Tertib berpikir adalah melatih pikiran dalam mencari, menerima, dan mengolah informasi dengan benar untuk mengambil langkah yang benar. Kedisiplinan untuk menerapkan metode berpikir ilmiah, dengan mengacu pada referensi yang sahih, pengamatan yang jernih, dan mengamini fakta yang memiliki bukti. 

Dengan tertib berpikir kita tidak mudah terombang-ambing dalam derasnya banjir informasi berisi sensasi, dramatisasi, atau teori konspirasi menyangkut virus dan wabah. Dan juga tidak perlu bersikap heroik “memerangi virus”, karena istilah yang tepat adalah menanggulangi. Wabah virus adalah bencana alam, kita tidak mungkin memerangi bencana. Kita hanya bisa menanggulangi dan memitigasi bencana, agar korban manusia bisa diminimalisasi.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF