Membuka Topeng Agama
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Arts Cetre UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 19 February 2020 10:00
Watyutink.com - Pernyataan Kepala BPIP bahwa musuh Pancasila adalah agama telah memancing kontroversi publik. Hampir semua tokoh agama dan masyarakat menentang pernyataan tersebut, meski banyak juga yang setuju. Seorang rohaniawan dan intelektual, Romo Magnis, menyebut, Yudian tidak paham dan tidak memiliki kompetensi sebagai Kepala BPIP yang berurusan dengan ideologi negara itu.

Hal yang sama juga disampaikan oleh politisi Golkar Ace Hasan yang menilai pernyataan Yudian tersebut sesat. “Pernyataan Kepala BPIP yang menyebut Agama sebagai musuh terbesar Pancasila menurut saya sesat pikir,” kata Ace Hasan kepada wartawan. 

Pernyataan keras juga muncul dari Sekjen MUI, Anwar Abbas yang meminta Presiden mencopot Kepala BPIP. "Kalau benar beliau punya pandangan seperti itu maka tindakan presiden yang paling tepat untuk beliau adalah yang bersangkutan dipecat tidak dengan hormat,” tegas Anwar Abbas dalam keterangan tertulisnya.

Sebenarnya kalau dicermati, pernyataan Kepala BPIP itu sama sekali bukan bertujuan membenturkan Pancasila dengan agama. Beliau justru mengungkapkan fakta yang selama ini terjadi di lapangan yang perlu mendapat perhatian semua pihak. 

Selama ini ada sekelompok orang yang membenturkan agama (Islam) dengan Pancasila. Mereka menganggap Pancasila thoghut, kafir, sekuler karena bikinan manusia. Sedangkan Islam adalah agama dari Allah yang kaffah dan sempurna. Pandangan inilah yang membuat agama menjadi musuh Pancasila. Pandangan seperti ini dipropagandakan secara masif di kelompok liqo', di mimbar masjid, di majelis pengajian dan di medsos.

Fakta inilah yang ingin diungkap oleh Prof. Yudian melalui pernyataan tersebut. Kenapa dia tidak menyebut pemahaman keagamaan sekelompok orang yang anti Pancasila sebagai musuh Pancasila? Karena mereka mengklaim pandangan mereka itulah agama. Apa yang mereka sampaikan itulah Islam, bukan pemahaman terhadap Islam. Mereka menggunakan agama sebagai topeng atas ambisi politik. Topeng inilah yang ingin dibuka oleh Kepala BPIP melalui pernyataan agama sebagai musuh Pancasila. Bukan pemahaman agama sebagai musuh Pancasila.

Pernyataan Kepala BPIP itu sebenarnya merupakan kritik terhadap kelompok yang menghadapkan agama dengan Pancasila, sehingga membuat agama menjadi musuh Pancasila. Pernyataan tersebut justru untuk membongkar kelakuan orang-orang yang menjadikan pikiran mereka sebagai agama untuk memusuhi Pancasila. Dengan demikian yang mestinya dianggap membahayakan adalah orang-orang yang selama ini menghadapkan Pancasila dan agama, bukan pernyataan Kepala BPIP.

Sikap mengkritik dan menyalahkan Kepala BPIP, sebagaimana sikap politisi Partai Gerindra, Fadli Zon yang bilang pernyataan Kepala BPIP itu justru menyesatkan karena mengadu domba anak bangsa, merupakan sikap yang salah. Juga pernyataan politisi partai Demokrat Andi Arief yang menganggap pernyataan Kepala BPIP itu berbahaya secara logika adalah justru sikap yang mengabaikan logika. Karena logikanya, kritik mereka justru bisa menghilangkan jejak orang-orang yang menjadikan agama sebagai musuh Pancasila. 

Ibaratnya ada orang yang tahu ada maling. Kemudian dia berteriak ada maling, tapi malah orang tersebut di-bully habis karena dianggap mengganggu, bikin ribut dan sesat pikir. Akibatnya sang maling terus membobol rumah dengan tenang sambil ikut mem-bully orang yang teriak maling. Mestinya orang yang selalu menghadapkan agama dan Pancasila sehingga membuat agama menjadi musuh Pancasila yang harus dilawan, karena merekalah yang sesat pikir dan berbahaya. 

Ada baiknya pernyataan Kepala BPIP itu direnungkan dan dijadikan sebagai peringatan untuk melihat kenyataan secara jujur. Jangan sampai hanya karena kepentingan politik orang yang mau membuka topeng dan bicara jujur justru menjadi korban. Sementara orang-orang yang secara terang-terangan menjadikan agama sebagai musuh Pancasila malah lolos dari perhatian.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF