Membekali Anak Agar Ramah Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 25 July 2020 10:25
Watyutink.com - Menjelang Hari Anak Nasional 23 Juli lalu, terbit sebuah buku berjudul “Waste Management,”  karya Kinasih Bendari Ardhiona Rajni, yang biasa dipanggil Nara.

Nara yang berusia 11 tahun dan duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar Cikal di Jakarta, menulis dan memberi ilustrasi buku berbahasa Inggris itu, untuk menjelaskan konsep pengelolaan limbah, diikuti cara-cara menyelamatkan bumi, sedikit demi sedikit dengan tindakan sehari-hari.

Buku “Waste Management” setebal 77 halaman, terinspirasi dari proyek sekolah Nara bersama sekelompok temannya dengan bimbingan guru. Ia juga berbincang dengan sang bunda tentang penelitiannya. Nara berharap memberi inspirasi pada generasi muda untuk lebih sadar akan tindakan mereka bahwa kegiatan yang dilakukan dapat berdampak pada lingkungan hidup.

Di akhir tahun ajaran yang baru lalu, sekitar 60 juta anak dan remaja di Indonesia harus belajar dari rumah akibat COVID-19. Terkait hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan, guru, orang tua, dan peserta didik harus berkolaborasi untuk menemukan metode pembelajaran yang paling sesuai dengan situasi yang mereka hadapi. 

Menanggapi krisis COVID-19, Badan Lingkungan PBB dan TED-Ed meluncurkan “Earth School,” Sekolah Bumi, untuk membantu siswa, orang tua, dan guru di seluruh dunia yang saat ini berdiam di rumah.

Para pakar dan organisasi lingkungan berbagai Negara menyiapkan konten “Earth School” yang tersedia secara gratis di situs web TED-Ed melalui video dengan teks berbagai bahasa, bahan bacaan, dan pilihan kegiatan. Program untuk 30 hari ini disusun agar siswa dengan rentang usia 5-18 tahun dapat “berpetualang” di Bumi dan memahami lingkungan hidup sambil mempertimbangkan peran mereka di dalamnya.

Pendidikan adalah elemen penting untuk menyikapi krisis lingkungan, termasuk masalah global seperti krisis iklim. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menjelaskan bahwa pendidikan meningkatkan “literasi iklim” pada kaum muda, serta mendorong perilaku jaga Bumi.

Dengan berbekal pendidikan yang meningkatkan kepedulian, maka di kemudian hari para pengambil keputusan akan merujuk informasi yang tepat. Selain itu, pendidikan juga meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memberdayakan perempuan dan laki-laki untuk menjalani gaya hidup ramah lingkungan.

Meskipun banyak pihak menyadari bahwa pendidikan perubahan iklim merupakan hal penting, sebuah survei baru baru ini menyimpulkan bahwa 75 persen guru merasa belum memiliki pengetahuan memadai untuk mendidik siswa tentang perubahan iklim. Jika guru saja merasa kurang mampu, maka ada kemungkinan orang tua pun tidak merasa nyaman memberi pemahaman tentang hal ini kepada anak-anak.

Media The Conversation kemudian mempelajari beberapa penelitian tentang pendidikan krisis iklim bagi anak-anak, dan mengutip lima hal yang dapat dilakukan.
Pertama, berbicara dengan anak tentang apa yang sudah mereka ketahui tentang krisis iklim dan menyimak kekhawatiran mereka.
Kedua, menggunakan materi pendidikan yang sesuai umur anak.
Ketiga, fokus pada harapan untuk masa depan yang baik meski ada krisis seperti krisis iklim maupun pandemi.
Keempat melaksanakan kegiatan yang berguna termasuk diskusi, berinteraksi dengan para ilmuwan, dan melaksanakan proyek komunitas.
Kelima, menikmati alam seperti mengamati tanaman dan mendengarkan suara burung berkicau.
 
Tema Hari Anak Indonesia 2020 adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan tagline #AnakIndonesiaGembiraDiRumah. Tujuan umumnya, sebagai bentuk penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus bangsa.

Hari Anak merujuk pada Konvensi Hak Anak yang diantaranya menawarkan dasar normatif untuk memperkuat pemahaman terhadap hak-hak yang berkaitan dengan lingkungan anak-anak.

Buku Waste Management karya Nara, yang disebutkan di awal tulisan ini, merupakan contoh yang ampuh tentang interaksi siswa, orang tua, dan guru untuk pendidikan lingkungan. Juga sebagai inspirasi untuk mendorong kegiatan belajar agar terus berlangsung, karena pandemi membuktikan betapa saling terkaitnya semua kehidupan di Bumi.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila