Membangkitkan Semangat Kewirausahaan di Tengah Pandemi
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 24 June 2020 19:35
Watyutink.com - Krisis 1998 membuat ekonomi sejumlah negara di Asia seperti Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia terpukul. Pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya bertengger di kisaran 6-8 persen per tahun, menukik tajam, menghujam, melewati garis nol produk domestik bruto (PDB).

Dunia usaha terkapar kekurangan likuiditas, tidak mampu membeli bahan baku yang meroket tajam harganya, daya saing merosot, kehilangan pasar karena daya beli masyarakat melemah, dan pada akhirnya menjadi pasien badan restrukturisasi yang didirikan atas inisiatif Dana Moneter Internasional (IMF).

Sekali jatuh, tidak mudah untuk bisa bangkit segera. Indonesia membutuhkan waktu 10 tahun untuk kembali ke keadaan sebelum krisis 1998 terjadi. Indikator yang dapat digunakan untuk melihat adanya kebangkitan kembali adalah pertumbuhan ekonomi dan peringkat utang.

Sebelum krisis hingga 1997, ekonomi Indonesia tumbuh stabil di kisaran 6 persen. Saat krisis memuncak pada 1998, ekonomi Indonesia menurun drastis ke kisaran minus 3 persen. Ekonomi berangsur pulih perlahan, pertumbuhan berjalan merangkak kembali ke keadaan sebelum krisis, ke level 6,1 persen setelah 10 tahun, tepatnya pada 2007.

Begitu pula peringkat utang Indonesia. Sebelum krisis ekonomi meletup, Indonesia sudah mengusung predikat investment grade. Namun, saat krisis 1997 menerjang, peringkat utang Indonesia anjlok drastis ke dalam kategori selective default hanya dalam waktu lima bulan. Indonesia baru bisa meraih kembali level investment grade pada 2011.

Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke keadaan sebelum krisis ekonomi antara lain dipengaruhi oleh seberapa cepat sektor-sektor ekonomi bangkit.  Namun kondisi setelah krisis tidak lagj sama bagi dunia usaha. Kondisi tersebut membuat pemulihan ekonomi tidak semulus yang direncanakan, disamping mereka harus melewati sejumlah tahapan restrukturisasi.

Keadaan yang tidak sama lagi seperti sebelum krisis 1998 adalah adanya perubahan sikap dan pola pikir masyarakat, terutama kalangan generasi muda kala itu. Seorang guru besar pada Fakultas Ekonomi Seoul National University (SNU) kepada penulis, mengungkapkan kekhawatirannya atas perubahan tersebut, terutama yang terjadi di Korea Selatan.

Ekonomi Korea Selatan tumbuh di atas fondasi konglomerasi para Chaebol. Mereka menjadi kekuatan ekonomi utama dari sejak berakhirnya Perang Korea pada 1955 sampai sekarang ini. Selama 40 tahun, Chaebol memainkan peranan penting dalam membantu pemerintah mengembangkan industri, pasar, dan ekspor baru. Hal itu telah menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu ekonomi industri baru (newly industrializing economy, NIE), membawa negara itu pada kemakmuran baru setingkat negara maju.

Terlepas dari pandangan miring tentang Chaebol, semangat kewirausahaan (entrepreneurship)-nya menular ke penduduk Negeri Ginseng, tidak terkecuali generasi muda. Banyak dari kalangan pemuda ketika itu yang bercita-cita menjadi pebisnis sukses seperti para konglomerat itu.

Gambaran tentang keinginan menjadi kaya seperti para konglomerat tersirat dalam film Parasite (2017) dimana Ki-taek dan anak-istrinya berhasrat untuk bernasib  sama dengan miliarder keluarga Park meski melalui jalur penipuan berantai.

Kehadiran Chaebol membangkitkan imajinasi generasi muda untuk menjadi kaya melalui usaha sendiri. Namun krisis telah mengubah pemikiran mereka yang semula bersemangat membangun kewirausahaan kepada sikap mencari aman dengan menjadi pegawai di pemerintahan atau karyawan swasta.

Mereka menghindari risiko kebangkrutan jika membuka usaha sendiri. Akibatnya, populasi entrepreneur tidak bertambah signifikan. Ekonomi kekurangan pelaku usaha yang memiliki militansi tinggi untuk sukses dan berperan dalam meningkatkan pertumbuhan.

Apakah krisis ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi virus corona saat ini yang diperkirakan lebih dahsyat dari krisis 1998 akan berdampak sama pada masalah kewirausahaan dan terjadi juga di Indonesia? Belum terdengar ada riset yang meneliti mengenai hal ini. Yang pasti banyak start up yang kolaps dibuatnya.

Pemerintah sudah mengaloikasikan anggaran dalam menangani penyebaran virus corona dan pemulihan ekonomi nasional. Bahkan dalam tiga bulan terakhir sudah empat kali naik. Awalnya dianggarkan sebesar Rp405,1 triliun, meningkat menjadi Rp677 triliun, ditambah lagi jadi Rp695,2 triliun, dan naik lagi menjadi Rp905 triliun.

Semoga saja dana ratusan triliiun yang dialokasikan pemerintah mampu membangkitkan kembali dunia usaha dan semangat kewirausahaan generasi muda. Indonesia masih membutuhkan 4 juta pengusaha baru. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF