Melacak Jejak Kriminal Lingkungan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
15 June 2019 10:00
Watyutink.com - CSI: Crime Scene Investigation adalah drama serial televisi CBS di Amerika Serikat tentang kelompok penyidik forensik di Las Vegas yang mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Mereka menjelajahi tempat kejadian perkara, dan mengumpulkan barang bukti seperti cipratan darah, DNA, peluru dan senjata.

Tontonan menegangkan yang populer di 170 negara ini dibintangi beberapa pemenang Hadiah Oscar dan berkembang dari CSI: Las Vegas ke CSI: New York dan CSI: Miami, bahkan juga CSI: Cyber untuk kejahatan dunia maya. Bintang tamunya termasuk penyanyi John Mayer, Taylor Swift dan Justin Bieber.

Salah satu episode CSI berjudul Fracked, berkisah tentang dua orang pria yang dibunuh tepat sebelum membeberkan tindak kriminal perusahaan gas alam yang meracuni penduduk di sebuah kota pertanian. Para penyidik CSI harus mencari siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

Fracked memperoleh EMA Awards dari  Environmental Media Association, sebuah organisasi di Hollywood, karena berhasil meningkatkan kesadaran publik tentang masalah lingkungan.

Setelah sukses besar tayang selama 15 tahun, serial CSI berakhir pada tahun 2015 dengan produksi total 800 episode.

Menyidik tempat kejadian perkara dan mencari barang bukti bukan hanya untuk memecahkan kasus-kasus pembunuhan seperti cerita CSI. Kejahatan lingkungan, sebagai area kriminal terbesar keempat di dunia setelah narkoba, pemalsuan dan perdagangan manusia, memerlukan investigasi cermat yang dapat menyeret para pelakunya ke pengadilan.

Sebuah kajian mutakhir dari Badan Lingkungan PBB (UNEP) menyebutkan lima jenis tindakan kriminal lingkungan yang paling umum di dunia, yaitu perdagangan satwa liar, penangkapan ikan ilegal, pembalakan liar, pencemaran lingkungan, dan penambangan ilegal.

Selain itu, menurut dokumen Organisasi Polisi Kriminalitas Internasional, INTERPOL dan UNEP yang berjudul The Rise of Environmental Crime kegiatan ilegal yang terkait lingkungan hidup, keanekaragaman hayati atau sumber daya alam seringkali sangat menguntungkan dengan risiko yang relatif rendah bagi para pelakunya.

Semua jenis kejahatan lingkungan yang disebutkan di atas juga marak di Indonesia, ditambah lagi dengan kebakaran hutan dan lahan yang dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa.

Karena kejahatan Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat bervariasi, rumit dan transnasional, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menyatakan bahwa Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPNS LHK) dituntut untuk bisa secara optimal memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

PPNS LHK juga harus menguasai teknologi informasi dan pengolahan data, pemetaan digital, forensik keuangan, serta forensik digital.

Keterampilan lain yang juga diperlukan adalah forensik lingkungan, yaitu evaluasi sistematis dan ilmiah dari informasi fisik, kimia, dan historis untuk memperoleh kesimpulan ilmiah dan hukum mengenai sumber atau usia kontaminan yang dilepaskan ke lingkungan. Forensik lingkungan banyak digunakan untuk mencari pelaku tumpahan minyak di laut, serta pembuangan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

Karena karakter khusus kejahatan lingkungan, peserta pendidikan dan pelatihan PPNS LHK memperoleh pembekalan dari Badan Reserse dan Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri), Pusat Laboratorium Forensik Polri, Biro Psikologi Polri, Kejaksaan Negeri, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Melacak jejak pelaku kriminal lingkungan tidaklah semudah maupun semempesona pemecahan kasus di film serial CSI: Crime Scene Investigation yang selesai dalam waktu tayang satu jam.

Filosofi CSI sangat sederhana, kata Anthony Zuiker, sang kreator, kepada harian Los Angeles Times. “Pada hari terburuk dalam kehidupan seseorang, para penyidik CSI akan datang, menumpas kejahatan, dan memberikan ketenangan pikiran kepada mereka yang selamat maupun keluarga korban.” Pendapatnya merupakan sebuah kearifan universal, sebagai cemeti untuk melacak pelaku tindak kriminal lingkungan.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?