Manusia dan Perubahan Perilaku Alam
Achmad Fuad
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
07 October 2018 13:30
Sering kali sumpah serapah muncul begitu saja, tatkala kita terinjak kotoran binatang. Selain jijik dan perasaan tidak nyaman dengan baunya, kita juga mengutuk perilaku binatang ‘pemilik’ kotoran tersebut; kenapa berak sembarangan?

Sebagai manusia, kita sering tidak sadar diri, menyamakan perilaku binatang dengan diri kita. Perilaku yang kurang elok menurut ukuran manusia, sering kita nisbatkan kepada binatang. Untuk urusan ini, sebagai binatang yang paling banyak dipelihara oleh manusia dan paling banyak berkeliaran di seluruh daratan di wilayah NKRI  ini, kucing selalu menjadi tersangka utama.

Sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, dengan dibekali akal pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, seharusnya manusia mampu memahami perilaku makhluk hidup lain, selain dirinya. Termasuk perilaku kucing. Dalam semiotika, selain sebagai petanda (signified), segala perilaku makhluk hidup menjadi tanda (sign), dan perubahan yang terjadi atas perilaku tersebut bisa menjadi penanda (signifier). Begitupun Alam ini.

Dahulu, jika para binatang penghuni hutan di gunung pada berhamburan kabur ‘turun gunung’, maka masyarakat yang tinggal di lereng gunung akan segera lari untuk mengungsi dan menyelamatkan diri. Tanpa harus menunggu berita di TV, atau mantengin twitter BMKG dan BNPB lebih dulu untuk menentukan status bencana. Begitupun masyarakat pesisir, saat melihat perubahan kebiasaan pasang-surut laut, dan perubahan perilaku dari ikan maupun binatang-binatang laut, mereka akan segera menyingkir jauh-jauh dari bibir pantai. Tanpa harus menunggu sirine dari alat pendeteksi tsunami yang berharga miliaran rupiah.

Alam tidak hanya menyediakan sumber dayanya untuk manusia. Alam juga telah mengajarkan kepada manusia tentang ilmu pengetahuan. Termasuk pengetahuan mitigasi terhadap bencana, melalui perubahan perilaku yang terjadi diluar kebiasaan. Alam telah memberi lebih dari yang manusia butuhkan.

Dengan semakin berkembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia –hadirnya teknologi sebagai hasilnya, dan semakin majunya tingkat peradaban manusia, membuat segalanya menjadi lebih mudah dan praktis. Ironisnya, kemudahan dan kepraktisan tersebut justru membuat manusia menafikkan alam. Alam tidak lagi dianggap sebagai sebuah ekosistem yang memiliki pola sendiri dan memiliki kompleksitas sebagai sign, signified, dan signifier. Manusia hanya bangga dengan pembangunan.

Celakanya, konsep pembangunan yang dihadirkan dan tata kota yang dirancang lebih cenderung menggusur keberadaan ekonsistem yang dimiliki alam. Pembangunan infrastruktur yang jor-joran menjadi konsep utama. Tidak ada lagi ruang terbuka hijau yang tersisa. Amdal hanya dijadikan pelengkap administrasi. Kemegahan menjadi barometer sebuah kemajuan kota.

Pembangunan kota-kota di Indonesia diarahkan kepada konsep metropolitan. Konsep kota kembar (sister city) dengan kota-kota di negara lain hanya berbicara mengenai infrastruktur dan kemegahan bangunan-bangunan yang dimiliki. Green city hanya menjadi wacana.

Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan kota kota besar lainnya di Indonesia, tanahnya telah dibagi-bagi habis untuk keperluan pembangunan. Hamparan tanah, rumput dan pepohonan telah ditutup oleh hamparan 'betonisasi', 'pavingisasi', 'plesterisasi', ‘aspalisasi’, agar kelihatan seperti kota New York, Manhattan, Tokyo, Beijing maupun Singapura.

Maka, ketika alam tak lagi mampu menahan laju pembangunan, bencana pun datang. Banjir, gempa, tsunami, seolah telah menjadi musuh laten dari peradaban manusia masa kini.

Ketika bencana datang, kemegahan infrastruktur akan tinggal menyisakan puing-puing. Kemewahan bangunan-bangunan yang dibanggakan justru menimpa tubuh-tubuh manusia saat bencana melanda. Alam tak lagi bisa memberikan sumber dayanya. Semua tertutup pembangunan dan ‘wajah’ kota. Korban jiwa akibat bencana pun semakin besar jumlahnya. Pasca bencana, manusia kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebingungan yang sama itulah, yang dirasakan oleh kucing-kucing di Jakarta dan di kota-kota besar seluruh Indonesia saat ini. Para kucing kini kesulitan mencari tempat membuang hajatnya. Kucing yang bingung itu adalah ‘tanda’. Tanah gembur yang biasanya menjadi tempat mereka buang kotoran kini sudah disemen, ditutupi dengan beton atau diaspal yang keras. Kucingpun bingung dan berteriak: "Saya mesti buang kotoran di mana?"

Jangan lagi salahkan kucing jika Anda menemukan kotoran mereka di keset, di karpet, dan di pot-pot bunga di rumah Anda. Karena Anda sendiri telah membuat mereka terpaksa buang kotoran di mana-mana dengan menggusur tempat-tempat kucing buang hajat.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Niko Adrian

Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI

FOLLOW US

Demi Suharto Pemerintah dan Oposisi Bersatu             Petahana Demisioner vs Penantang Bulldozer             Dikhotomi Orde Baru dan Reformasi : Masih Relevankah?              Turn Back Orba             Percakapan Dari Orang ke Sistem             Orde Baru Politik Sesaat dan Tantangan Menuntaskan Reformasi             Pertarungan Idiologi             Bangkit Orde Para Bandit             Pendekatan Dialogue dalam Penyesuaian Konflik Papua Lebih Efektif, Ketimbang Operasi Militer             Dukungan Bagi Bank Syariah Harus Konsisten-Konsekwen