Malangnya Para Badak Perawat Hutan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
10 August 2019 10:00
Watyutink.com - Kisah Andatu, Delilah, Prabu, Mayang dan Pahu adalah ilustrasi perjuangan melindungi badak, hewan liar yang berkelana di belantara Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Kakak beradik Andatu (7 tahun) dan Delilah (3 tahun) lahir di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas.  Pahu, badak Sumatera berumur 25 tahun, ditemukan di Kutai Barat, Kalimantan Timur, dikarantina, dan  dilepasliarkan ke Suaka Badak Kelian. Sedangkan badak Jawa, Prabu dan Mayang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat.

Adalah  Yayasan Badak Indonesia (YABI), organisasi nirlaba yang mendukung dan membantu pemerintah Indonesia melestarikan badak, yang terus menerus menyadartahukan masyarakat tentang peran badak bagi lingkungan hidup, khususnya dalam merawat hutan.

Badak, menurut YABI, memakan lebih dari 250 jenis tumbuhan,100 di antaranya tumbuhan berbuah. Karenanya badak yang selalu berkelana jauh menyebarkan biji-biji hutan yang melekat ditubuhnya. Benih-benih kemudian bersemai di lantai hutan dan tumbuh menjadi pohon-pohon besar pencegah bencana akibat krisis iklim.

Namun, dampak perubahan iklim seperti musim kemarau yang lebih lama, dan musim hujan yang lebih pendek tetapi intens mengancam keberadaan tanaman pakan badak. Habibat badak juga menjadi lebih kering dengan air terbatas, padahal badak sangat suka berkubang dalam kolam lumpur untuk beristirahat, dan berdingin-dingin.

Badak diperkirakan sudah ada di Bumi sejak 65 juta tahun lalu dengan 60 spesies yang pernah menghuni Amerika Utara, Eropa, Asia dan Afrika. Kini hanya tinggal 5 jenis yang masih bertahan di Bumi, yaitu badak Sumatera, badak Jawa, badak India, badak hitam Afrika dan badak putih Afrika. Badak Jawa dan badak India bercula satu, sedangkan yang lainnya bercula dua. Hewan ini berkulit tebal, dengan rentang tinggi antara 2,5 sampai 4 meter dan berat 800 sampai 2300 kilogram.

Cula badak menjadi incaran para pemburu liar karena harganya sangat fantastis, jauh melebihi harga emas. Ini karena penduduk negara Asia, terutama Vietnam dan Tiongkok, percaya bahwa bubuk cula badak dapat menyembuhkan penyakit seperti asma, malaria, epilepsi, rematik, dan kanker. Juga dianggap sebagai obat awet muda, bahkan afrodisiak, padahal unsur utama cula badak hanyalah keratin, protein yang sama dengan kuku dan rambut.

Tidak heran jika populasi badak kian menipis. Badak putih Afrika jumlahnya sekitar 18000 dan badak hitam Afrika ada lebih dari 5000. Sedangkan badak India diperkirakan tinggal 3500 ekor.

Di Indonesia jumlahnya lebih sedikit lagi. Badak Sumatera di Leuser, Bukit Barisan Selatan dan Way Kambas di Pulau Sumatera jumlahnya kurang dari 80. Sedangkan badak Sumatera di Pulau Kalimantan, diperkirakan sekitar 15 ekor dan berada di Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Badak Jawa yang hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten tinggal 67 ekor.

Bagaimana cara melindungi para badak perawat hutan agar tidak punah? YABI memaparkan beberapa programnya. Rhino Protection Units dibentuk untuk mencegah perburuan liar dan menjaga habitat badak. Suaka Rhino Sumatera dan Javan Rhino Study & Conservation Area dibangun sebagai kawasan untuk badak dapat berkembang biak dan dipelajari lebih mendalam.

Selain kampanye kontinu tentang manfaat badak, serta keberadaannya yang kritis, penggalangan dana secara kreatif sangat membantu pelestarian badak di Indonesia. Sebagai contoh, setiap tahunnya American Association of Zoo Keepers mengumpulkan lebih dari 600.000 dolar AS melalui acara "Bowling For Rhinos.”
 
Tahun lalu Brind Krishna Mahdiputra, siswa kelas 2 SD di Jakarta, mengumpulkan dana dengan menjual selimut kepada teman-teman sekolahnya. Dana terkumpul sebesar Rp500.000,- diserahkan kepada YABI. Jika saja Andatu, Delilah, Prabu, Mayang dan Pahu dapat bercakap-cakap, pasti mereka akan dengan terharu berterima kasih pada Brind.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir