Malam Indonesia di Pegunungan Alpen
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 25 January 2020 10:00
Watyutink.com - Pegunungan Alpen di Eropa, yang membentang sepanjang 1200 km dengan puncak-puncak tertutup salju dan pemandangan spektakulernya, merupakan El Dorado para pencinta alam dan peminat olah raga.

Meskipun pegunungan itu melintasi 8 negara, dari Prancis, sampai ke Austria, hanya Swiss dan Austria yang dapat dianggap sebagai negara Alpen sejati karena lebih dari 60 persen kawasannya berada di pegunungan itu.

Davos, dengan ketinggian 1500 meter, adalah  kota metropolitan Swiss yang merupakan destinasi mashur para penggemar olahraga musim dingin. Di kota inilah, setengah abad yang lalu Profesor Klaus Schwab menggagas World Economic Forum, sebuah pertemuan para pemimpin dunia dan tokoh ekonomi, politik dan budaya untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Di antara ratusan sesi di Davos yang memeras pikiran, ada sebuah acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak peserta yang bersedia antri di tengah salju untuk menghadirinya. Itulah Indonesia Night atau Malam Indonesia, sebuah acara yang menyajikan kuliner Indonesia, pertunjukan seni, dan peluang untuk networking.

Tahun ini Indonesia Night di Davos yang memasuki tahun ke-10 mengambil tema Maritim, untuk menampilkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, dua dimensi menarik bagi investor asing untuk menggali lebih jauh potensi dari Negara Kepulauan terbesar di dunia ini.

Sebagai negara dengan garis pantai sepanjang 95.181 km dan luas perairan laut sebesar 71 persen dari keseluruhan wilayahnya, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Karenanya usaha-usaha mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk melestarikan hutan dan lautan, juga diangkat pada Indonesia Night.

Di pintu masuk acara terhampar beraneka keranjang terbuat dari rotan dan pandan, anyaman dari berbagai daerah di Indonesia sebagai simbol pelestarian lingkungan dan pemberdayaan perempuan. Wadah dari serat alam tanpa bahan kimia sebagai pembawa pangan dan kebutuhan sehari-hari ini perlu dilestarikan karena membantu menghindari kantong plastik sekali pakai yang mencemari bumi.

Ragam kuliner lokal Indonesia bertema maritim tergambar dari masakan yang disajikan dengan bahan pangan dari Swiss, antara lain tuna sambal matah, satai tempe, salmon bakar balado, serta nasi goreng andaliman. Pemilihan jenis makanan sangat penting karena 25 persen emisi gas rumah kaca global penyebab perubahan iklim disebabkan oleh produksi makanan, khususnya yang berbasis hewani.

Sebuah rangkaian pertunjukan membuat pengunjung berseru kagum, yaitu pergelaran Gamelan Solo yang dibawakan oleh siswa-siswi sekolah musik “Un, Deux, Trois, Musiques” yang berlokasi di Sion, sekitar 400 km dari Davos. Seluruh pemain dan pesinden yang tampil berbahasa Jawa merupakan warga Swiss dengan rentang usia 5 tahun hingga remaja.

Dalam 11 tahun terakhir, kelompok ini giat mempromosikan dan menampilkan gamelan, seperangkat ansambel tradisional Jawa yang ramah lingkungan, karena tidak membutuhkan listrik untuk memainkannya.

Menurut Linggawaty Hakim, Duta Besar RI untuk Swiss periode 2014-2017, dalam metode pengajarannya, sekolah musik itu menekankan pentingnya nilai-nilai kerjasama dan harmonisasi dalam bermain gamelan.

Hal ini penting bagi pembentukan karakter seseorang, khususnya agar dapat saling menghargai sesama dan bertanggung jawab, serta melatih kesabaran dan ketenangan. Semua karakter tersebut sangat dibutuhkan dalam bermasyarakat baik di tingkat lokal maupun internasional, karena meningkatkan toleransi dalam menyikapi berbagai perbedaan.

Profesor Klaus Schwab yang hadir pada Indonesia Night, di tengah lebih dari 800 tamu undangan, menyampaikan apresiasinya atas promosi budaya yang konsisten. Indonesia Night, menurutnya, adalah salah satu acara paling dinantikan dalam setiap World Economic Forum.

Nampaknya Malam Indonesia yang sukses di Pegunungan Alpen sebagai kolaborasi Pemerintah Indonesia dengan Perusahaan Swasta Nasional ini tidak berakhir di Davos, karena pada 7-9 Juli 2020 Indonesia akan menjadi tuan rumah  “Indo-Pacific World Economic Forum” di Jakarta. 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF