Maju Itu Manusianya
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
09 April 2019 16:00
Watyutink.com - Warga Jakarta dan beberapa daerah berdecak kagum dengan masifnya pembangunan infrastruktur. Di Daerah Khusus Ibukota, masyarakat menyambut dengan antusias kehadiran MRT, kereta bawah tanah, moda transportasi yang benar-benar baru sepanjang Republik ini berdiri. Sementara di Jawa masyarakat menikmati waktu perjalanan yang lebih singkat dengan adanya jalan tol.

Dengan kenaikan alokasi dana pembangunan infrastruktur dari semula sekitar Rp188 triliun pada 2014 menjadi Rp415 triliun pada 2019, maka wajar pembangunan prasarana dasar itu terlihat begitu masif di mana-mana. Meski belum ada hitungan ekonomis yang detail seberapa besar dampaknya bagi pertumbuhan, kehadirannya diperlukan untuk menggerakan ekonomi.

Alokasi anggaran pembangunan infrastruktur yang besar semoga tidak mengurangi prioritas pembangunan lain yang justru lebih penting, yakni sumber daya manusia. Pembangunan human capital merupakan yang utama, amanat konstitusi dan secara tegas dinyatakan dalam teks lagu kebangsaan Indonesia Raya: ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya’.

Manusia adalah durable capital, modal tahan lama. Begitu berinvestasi dalam 5 tahun pertama sejak kehamilan dengan pemberian gizi yang baik maka selama 70 tahun masa hidupnya manusia akan produktif dan hasilnya jauh lebih besar dari investasi infrastruktur yang bisa rusak kapan saja. Sayangnya hal ini kurang dipahami oleh para pemimpin negara.

Sejak masa pemerintahan Soeharto, negeri ini tidak cukup memperhatikan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah terjebak pada pemenuhan pembangunan yang bersifat eksaktif, menggali sumber daya alam, tetapi melupakan pembangunan manusia.

Bias pembangunan juga terjadi pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. SBY menghabiskan sumber daya alam untuk keperluan konsumtif dengan mensubsidi BBM. Nilai subsidi tersebut jika dikonversi ke nilai sekarang mencapai sekitar Rp5000 triliun. Sementara pada periode Presiden Joko Widodo pembangunan infrastruktur fisik banyak, pembangunan manusia sedikit.

Padahal daya saing dan kemajuan suatu bangsa bukan dari sumber daya alam. Sumber daya alam bisa diimpor dari mana saja. China, misalnya, mengeruk sumber daya alam dari Afrika, Indonesia, dan negara-negara lain. Demikian juga dengan Korea yang mengimpor emas untuk kebutuhan pembuatan  printed circuit board (PCB) bagi industri elektroniknya yang maju pesat seperti Samsung dan LG.

Kita menyaksikan negara yang mampu maju, berkembang, dan mempengaruhi kebijakan dunia adalah negara yang mempunyai sumber daya manusia yang paling kompetitif dalam hal kecerdasan otaknya. Mereka membangun SDM sejak awal kehamilan sehingga dihasilkan manusia-manusia unggul.

Tinggi rata-rata penduduk Korea Selatan saat ini mencapai 1,7 meter, sementara Indonesia baru setinggi 1,58 meter. IQ orang Korea, Jepang dan Taiwan rata-rata 107-108, lebih tinggi dari rata-rata penduduk Indonesia yang baru mencapai 84. SDM Singapura menempati peringkat pertama—bandingkan dengan Indonesia di posisi 71-- sehingga tidak mengherankan ekonomi negara tersebut tumbuh terus sekalipun tidak mempunyai sumber daya alam.

Para pemimpin negeri, kepala daerah, dan politisi tidak memperhatikan daya saing dari sisi kualitas SDM. Mereka terbelenggu dengan konsep lama yang menekankan pembangunan pada pengolahan sumber daya alam sebagai sumber kemajuan. Berita pengambilalihan saham PT Freeport jauh lebih heboh dari berita tentang gizi buruk dan kemiskinan.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bangsa ini agar SDMnya kompetitif. Salah satunya adalah menjamin pemenuhan gizi yang cukup untuk ibu hamil. Otak manusia berkembang sempurna hingga umur 3 tahun dan sebanyak 80 persen perkembangan otak terjadi ketika bayi ada dalam kandungan. Faktor terpenting dari pertumbuhan otak adalah konsumsi protein. Di sisi lain, protein dan kalsium secara koinsiden menentukan tinggi badan. Untuk itu, ibu hamil memerlukan konsumsi yang cukup untuk kedua zat tersebut.

Ibu hamil yang tidak dapat memenuhi kebutuhan protein dan kalsium akan menciptakan stunting, yakni indikasi kronis yang dapat dilihat dengan mata telanjang ukuran tubuh yang pendek, kerdil. Menjadi kerdil disebabkan secara kronis sejak bayi hingga masa pertumbuhan dan dewasa tidak cukup gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh. Ini bencana masa depan.

Euforia yang berlebihan pada pembangunan fisik tidak jarang melenakan. Antusiasme masyarakat menggunakan MRT, jalan tol, jembatan, bandar udara, atau pelabuhan dan klaim sebagai satu keberhasilan dirinya dapat menggelincirkan pemerintah pada semangat untuk lebih banyak membangun prasarana fisik, melupakan pembangunan SDM.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Ruang Steril Sopir Bus AKAP Belum Diatur             Susi Cuma Orang Kecil             Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar