Linnaeus, Ilmu, Nada dan Puisi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 21 November 2020 11:00
Watyutink.com - Saat ini diperkirakan ada sekitar 8,7 juta jenis hewan dan tumbuhan yang hidup di daratan dan lautan Bumi ini, meskipun ada peneliti yang mengatakan jumlahnya bisa sampai 20 juta jenis.

Sekecil atau sebesar apapun, setiap makhluk hidup memiliki peran penting dalam ekosistem karena ragamnya saling bergantung dalam menjamin kelestarian alam. Hewan dan tumbuhan merupakan sumber sandang, pangan, obat-obatan papan, peralatan kebutuhan manusia, bahkan sebagai teman.

Menurut Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services/IPBES), sekitar 1,7 juta jenis  hewan dan tumbuhan telah diberi nama ilmiah, tetapi angka ini jumlahnya bertambah sekitar 10.000 setiap tahun saat spesies tambahan dikenali dan dideskripsikan untuk pertama kalinya. Angka yang beredar untuk Indonesia, ada sekitar 8.000 jenis tumbuhan dan 2.215 jenis hewan yang sudah teridentifikasi.

IPBES juga memperkirakan sebanyak 1 juta spesies di Bumi berada di ambang kepunahan. Fakta ini bukan hanya merupakan masalah lingkungan, tetapi juga merambah menjadi masalah pembangunan, ekonomi, keamanan, sosial dan moral. Perkiraan angka 1 juta itu tidak mungkin ada tanpa peran ilmu taksonomi yang diawali oleh karya Carolus Linnaeus.

Linnaeus, ilmuwan Swedia yang berkarya di abad 18 boleh dikata merupakan periset yang paling berjasa bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Ia dikenal sebagai Bapak Taksonomi, ilmu untuk penamaan, pemberian peringkat dan klasifikasi makhluk hidup. Linnaeus memperjuangkan nomenklatur binomial, nama ilmiah untuk hewan dan tumbuhan yang sekarang menjadi standar penamaan internasional. Sistem penamaan sangat penting, karena nama sebuah hewan atau tumbuhan yang sama bisa berbeda-beda untuk tiap daerah ataupun Negara.

Dengan nomenklatur binomial, setiap jenis hewan dan tumbuhan memperoleh nama dengan dua kata dalam bahasa Latin, kata pertama merupakan identifikasi genus (marga) dan kata kedua untuk spesies (jenis). Misalnya, Homo sapiens untuk manusia, Panthera leo  untuk singa, Coffea arabica  untuk kopi arabika, dan Mangifera indica untuk mangga.

Penulisannya pun mengikuti kaidah tertentu, yaitu huruf pertama nama genus menggunakan huruf besar dan huruf pertama nama spesies dengan huruf kecil. Selain itu,  ditulis dengan garis bawah, atau huruf miring, maupun tebal.

Memahami taksonomi, menurut situs web Bionet yang mempunyai misi meningkatkan kapasitas bidang ini, berarti mengetahui spesies dan distribusinya. Ini sangat membantu dalam melestarikan dan berbagi manfaat keanekaragaman hayati, menyikapi perubahan iklim, memfasilitasi perdagangan, dan meningkatkan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Guna meningkatkan perlindungan dan upaya pelestarian hewan dan tumbuhan, serta untuk lebih menumbuh kembangkan kepedulian rasa cinta dan kebanggaan nasional terhadap khazanah makhluk hidup di Indonesia, sejak tahun 1993 Pemerintah menetapkan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang dilaksanakan pada 5 November setiap tahunnya.

Sehubungan dengan perayaan HCPSN, maka pada bulan November ini berbagai acara dilaksanakan di seluruh Indonesia. Salah satu yang berusaha memadukan berbagai sudut pandang adalah perhelatan “Puspa dan Satwa Nasional, dalam Untaian Ilmu, Nada, dan Puisi.”

Di acara itu, terhimpun informasi tentang gerakan kepedulian, upaya pelestarian, maupun potensi pemanfaatan hewan dan tumbuhan Indonesia. Narasumber meliputi pejabat pemerintah, ahli badak, fotografer satwa liar, ahli jamur, kurator herbarium, ahli pesut, dan pegiat konservasi di ekosistem Leuser - satu-satunya wilayah di Bumi tempat orangutan, gajah, harimau, dan badak berkelana.

Kisah yang memilukan dan memberi harapan diperdalam dengan musik dan lagu tentang cinta alam yang dibawakan generasi muda serta kolaborasi pembacaan puisi “Kisahku Puspa dan Satwa Indonesia” oleh pegiat krisis iklim.

Kecintaan pada alam dan gelora melindunginya sebenarnya dipermudah sejak tahun 1735 ketika Carolus Linnaeus menerbitkan bukunya Systema Naturae, yang menjelaskan klasifikasi baru untuk dunia hewan, dunia tumbuhan dan dunia batu-batuan. Inilah sebuah warisan intelektual yang dikenang sepanjang masa.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF