Konspirasi Virus Corona
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 24 March 2020 13:45
Watyutink.com - Virus Corona bukan cuma memicu pandemi yang mengerikan, namun juga menyebarkan “infodemi” yang membingungkan, kalau bukan menjengkelkan. Selain hoax, dan info ngawur, infodemi yang paling menjengkelkan adalah maraknya teori konspirasi menyangkut asal muasal virus.

Teori konspirasi yang paling populer, virus Corona  adalah “senjata biologis” yang dikembangkan di sebuah laboratorium biologi di Wuhan, China. Teori lainnya menyebut virus itu “dibuat’ di Amerika, dan “diam-diam” disebarkan oleh militer Amerika di Wuhan untuk memfitnah, atau memerangi, China. 

Kesamaan dua versi konspirasi itu adalah, virus Corona sengaja dibuat di laboratorium sebagai senjata perang (dagang) antara Amerika vs China. Perbedaannya cuma soal siapa yang membuat? Pilihan negara mana yang membuat virus tergantung kecenderungan pemihakan si penyusun atau penyebar konspirasi itu.

Keyakinan penganut teori konspirasi pada narasi virus Corona sebagai medium perang antara Amerika vs China, seolah memiliki dasar “bukti yang kuat”. Antara lain, karena memang sedang ada perseteruan (dagang) antara dua negara adi daya ini. “Bukti’ lainnya, insiden pandemi ini sudah “diramalkan” dalam buku novel karya Dean Koontz “The Eyes of Darkness” (TEOD). Situasi yang dikisahkan dalam novel ini,  dikesankan begitu “mirip” dengan pandemi yang terjadi saat ini, termasuk yang ajaib virus yang bernama “Wuhan-400”.

Novel ini terbit pada 1981, hampir 40 tahun sebelum pandemi Covid-19 mewabah. Pertanyaan yang bernuansa haqul-yakin, bagaimana Dean Koontz bisa tahu atau dapat meramalkan sedetil itu? Jangan-jangan virus Corona yang menyerang sejak December 2019 adalah faktual, satu konspirasi yang bocor? Sebuah kemiripan yang "mencengangkan", yang sulit dianggap sebagai kebetulan. Atau jangan-jangan Dean Koonts adalah Nostradamus modern?

Penganut teori konspirasi selalu mudah percaya apa saja, enggan menggunakan nalar atau mencari kejelasan untuk menguji keyakinan itu. Padahal, jika sedikit mau “bersusah-susah” membaca novel TEOD sebenarnya ada kejelasan yang gamblang, kemiripan TEOD dengan pandemi Covid-19 cuma dalam satu hal saja: nama Wuhan.

Beberapa “fakta tekstual” dalam TEOD jelas berbeda dengan fakta-faktual pandemi Covid-19, misalnya, Wuhan-400 disebut di novel sebagai "senjata biologis China paling berbahaya” yang dibuat di laboratorium di luar kota Wuhan. Masa inkubasi virus cuma 4 jam, dengan tingkat kematian 100 persen. Siapapun yang terkena langsung mati. Virus membunuh dengan cara "memakan jaringan otak", dan digambarkan lebih berbahaya dari virus Ebola. Itu beberapa contoh elementer ketidakakuratan dan ketidakmiripan TEOD dengan Covid-19.

Ada fakta lain, pada edisi cetakan perdana novel TEOD, tahun 1981, nama virusnya bukan "Wuhan-400", tapi "Gorki-400". Virus itu dibuat di laboratorium di kota Gorki, Uni Sovyet, dan disebut sebagai "senjata biologis Sovyet yang paling berbahaya." Nama virus diganti dari Gorki-400 menjadi Wuhan-400, pada edisi cetakan TEOD tahun 1989, menjelang usainya perang dingin.

Mengapa nama virus TEOD perlu diganti pada edisi 1989 dari Gorki-400 menjadi Wuhan-400? Tentu untuk efek dramatis dan potensi marketing. Runtuhnya Uni Sovyet, pada 1989, membuat negara itu bukan lagi sebagai ancaman nyata bagi Amerika. Ancaman baru bagi warga Amerika adalah China, adi-daya baru yang mulai menunjukkan taringnya. Secara marketing buku lebih menarik menyasar China sebagai ancaman baru (bagi pembaca Amerika) ketimbang Uni Sovyet. Maka Gorki-400 diganti jadi Wuhan-400.

Dean Koontz adalah penulis novel scientific-thriller populer. Dia menulis novel bukan sekadar ngarang bebas, tapi juga berbasis referensi. Dengan sedikit referensi, plus imajinasi, dia merekonstruksi pengetahuannya soal cara virus menginfeksi dan menjadi pandemi. Kemahiran merekonstruksi pengetahuan (tentang pandemi virus) menjadi fiksi yang menarik, itu keberhasilan novel TEOD.

TEOD adalah fiksi populer generik, berbasis pengetahuan generik, yang menjadi semakin menarik, karena kegemaran orang (pembaca novel populer) berkonspirasi, berotak-atik gatuk, untuk memuaskan rasa penasaran bahwa: "Tidak ada yang kebetulan di dunia ini." Semua hal harus bisa dijelaskan, dan pasti ada penjelasannya. Tak soal penjelasan itu “ngarang bebas” dan murni karena dorongan hormon akibat gemar berkonspirasi.

Selain novel TEOD, film “Contagion” (produksi 2011) juga diotak-atik-gatukkan dengan Covid-19, sebagai indikasi dan “bukti” bahwa pandemi saat ini memang ulah konspirasi (Amerika). Bagi penggemar film cum penganut konspirasi, sedikit riset bisa menunjukkan terdapat puluhan fim berjudul “Contagion” atau “Contagious” pernah dibuat, dan kurang lebih plot kisahnya sama: pandemi virus atau mikroba.

Pandemi virus memang berbahaya, namun kegetolan ber-otak-atik-gatuk, berkonspirasi, boleh jadi adalah virus pikiran yang tak kalah berbahaya. Virus Corona menyerang paru-paru, virus konspirasi menyerang otak dan cara berpikir. Keengganan menggunakan nalar untuk mencari penjelasan yang lebih valid, lebih ilmiah, dan masuk akal kerap mengalahkan kegetolan mengkonsumsi konspirasi. 

Pada tingkat akut, virus konspirasi menyebabkan manusia gagal membedakan realitas dengan ilusi, fakta dengan fiksi. Dalam situasi krisis saat ini, ketika fakta pandemi virus sedang mewabah di seluruh dunia, cara berpikir konspiratif hanya akan memperburuk situasi. Sikap saling curiga, was-was, dan syak wasangka, bukan cuma menurunkan daya imun kesehatan individu, melainkan juga ketahanan sosial masyarakat. 

Kecenderungan partisan politik di Indonesia saat ini, segala hal dikaitkan dan dipakai untuk memuja atau menyerang figur politik, adalah indikasi wabah virus konspirasi.

Wabah virus Corona jelas buruk, namun yang makin membuat situasi tambah buruk adalah terinfeksi virus konspirasi. Virus Corona cepat atau lambat akan ada obat atau vaksinnya, virus konspirasi tidak bakal ada obatnya. 

Teori konspirasi adalah soal paradigma berpikir, yang simplistik, penuh prasangka, gampang menghakimi dan meyakini sesuatu tanpa berupaya menguji apakah asumsi atau prasangka itu ada bukti, ada data, atau ada referensi yang valid, serta memiliki basis faktual. Sekurang-kurangnya, apakah teori konspirasi itu: logis. Atau cuma sekadar gejala malas berpikir?

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF