Konsolidasi Kekuatan Nasional, Sekarang!
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 23 March 2020 10:00
Watyutink.com - Sudah bukan waktunya lagi saling menyalahkan atau mencari-cari kesalahan dalam menghadapi gempuran virus Corona COVID-19. Sebaliknya,inilah saat paling kondusif untuk menggalang konsolidasi kekuatan Nasional. Selama ini, berbagai bencana alam dan musibah kemanusiaan bersekala nasional terjadi, tetap saja para pemimpin dan elite di negeri ini eker-ekeran. Tetap berkutat saling tuding dan saling menyalahkan. 

Bergotongroyong secara terpadu menyatukan pikiran dan tenaga untuk melangkah menghadapi musuh bersama (virus COVID-19), merupakan gerakan nasional yang sekarang sangat diperlukan.  

Suasana seperti ini pernah terjadi pada saat kita menghadapi musibah tsunami Aceh, tahun 2004 akhir. Bedanya, saat itu setiap individu warga negara bisa bergerak bebas dalam mengerahkan bantuan ke satu titik. Dari berbagai penjuru Nusantara bahkan dunia, bantuan berdatangan tanpa hambatan.

Kali ini kondisi dan situasinya  sangat berbeda. Manusia di wilayah yang terserang virus, tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengurung diri di rumah masing-masing. Warga di wilayah lain yang ingin membantu sekalipun, dilarang memasuki daerah terinfeksi. Aktivitas sosial di wilayah terinfeksi pun, mandeg seketika. Dan dampak dari zero aktivitas sosial ini, menurunkan berbagai permasalahan yang cukup serius. 

Di wilayah terinfeksi virus COVID-19, perekonomiannya pasti mengalami kemerosotan yang signifikan. Bila negara tidak segara melakukan langkah ‘containing the damage’ program (mencegah kerusakan lebih jauh) keresahan sosial bakal merebak. Tanpa intervensi pemerintah (lokal/pusat), situasi resah ini berpotensi meningkat menjadi kerusuhan yang tak terkendali. Pemerintah di beberapa negara, menyadari akan hal ini. Persiapan melakukan lockdown pun dibarengi dengan kesiapan menggelontorkan bantuan ekonomi kepada mereka yang terkena dampak ‘harus nganggur’ alias zero penghasilan. 

Celakanya, di saat kita menghadapi musibah yang luarbiasa menyeramkan ini, rapuhnya tiang-tiang penyangga negara dan kondisi perekonomian nasional yang kurang sehat, cukup mengkhawatirkan. Pandemi Corona yang himbasannya telah menggoyahkan tiang perekonomian negara, sangat memerlukan penanganan super serius. Diperlukan satu langkah tepat dan benar, yang tak lain adalah; Konsolidasi kekuatan nasional!

Percaya atau tidak, langkah ini belum pernah terjadi sejak terbentuknya pemerintahan produk reformasi 1999 hingga sekarang. Maka, saat inilah waktu yang tepat dan memungkinkan untuk melakukannya. Sementara langkah yang memperuncing kubu pro dan kontra sebagai kelanjutan sikap politik atas dasar beda pilihan pemimpin dan partai semasa Pemilu-Pilpres 2019, merupakan sikap yang kontra produktif. 

Prioritas paling utama kita sekarang ini adalah menyelamatkan rakyat, bangsa dan negara dari kehancuran. Laju menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (24 Januari Rp13.583/ 28 Februari Rp14.318/ 20 Maret 15.950) yang berjalan paralel dan senyawa dengan meningkatnya jumlah koban yang terjangkit virus COVID-19 (1-7 Maret 4 kasus-0 meninggal/ 15 Maret 117 kasus 5 meninggal/ 21 Maret 450 kasus 38 meninggal/ 22 Maret 514 kasus 48 meninggal); merupakan peringatan keras agar kita sebagai bangsa bersiap menghadapi segala kemungkinan yang terburuk. 

Bayangkan bila virus COVID-19 yang ganas ini sempat menyerang daerah kumuh padat penduduk. Kemungkinan jatuh korban berlipat ganda dengan sangat cepat, bakal menjadi suatu keniscayaan. Sementara minimnya ruang isolasi dan fasilitas peralatan berikut tenaga medis yang benar-benar siap menerima luapan pasien korban COVID-19, realitanya sangat memprihatinkan. 

Oleh karenanya konsolidasi kekuatan nasional merupakan kebutuhan yang bersifat mendesak. Bila pemerintah sipil dan kelompok masyarakat sipil, lalai dan tak mampu melakukannya, bukan hal yang istimewa bila pengambil alihan jalannya pengendalian negara dan pemerintahan, dilakukan oleh kelompok militer. Tentu dilakukan atas nama negara dalam keadaan darurat dan bahaya, di mana tindakan pengamanan demi keamanan Nasional perlu diambil. 

Jangan salah, bisa jadi pengambilalihan kekuasaan dari tangan sipil ke militer malah mendapat dukungan rakyat kebanyakan. Sebagaimana biasa, mayoritas rakyat berpikir dan bersikap sangat sederhana; yang mampu membuat mereka yakin dapat hidup lebih aman dan terjamin, akan mereka dukung. Mau itu kelompok militer atau sipil, tak begitu penting bagi rakyat kebanyakan. 

Tentunya harapan kita, mimpi buruk ini jangan sampai terjadi. Dan sekalipun tanda-tanda itu belum tampak karena kesadaran masyarakat kelas menengah jauh lebih terinformasi dengan baik dibanding situasi dan kondisi tahun 1965, kewaspadaan harus tetap terjaga. Maka konsolidasi kekuatan Nasional pun menjadi pilihan yang strategis.

Oleh karenanya, dalam hal penggalangan kekuatan Nasional ini, sikap rendah hati penguasa dan kemauan membuka diri sangat diharapkan. Sikap jumawa seakan bisa mengatasi semua sendiri, hanya akan membawa keadaan menjadi semakin terpuruk. Para petinggi di sekeliling lingkar terdekat Jokowi dan para pembantunya, harus lebih mawas diri dan rendah hati.

Toh sampai hari ini terbukti, tak ada gerakan pendukung pro Jokowi, baik dari komunitas politik maupun ekonomi, yang bantuan nyatanya dirasakan langsung oleh masyarakat. Buktinya, ramai bertebaran meme yang nyinyir menyindir...’Saat Pemilu rakyat tak perlu kiriman kaos, ribuan kaos diberi cuma-cuma. Sekarang saat rakyat perlu masker, eh.. koq tak ada yang suka rela memberi? Pada kemana itu orang kaya dan para Konglomerat kerabat istana ..??!’ Yah, ada memang satu dua yang masih punya hati, tapi jumlah ini terlalu sedikit. 

Rakyat sekarang telah pandai mencatat dan berwarta saling bertukar informasi. Maka sekarang ini yang bekerja mengatasnamakan pemerintah (baca: Jokowi), berhentilah mengumbar prestasi...kami sudah lakukan ini-itu..dan sebagainya! Rakyat paham betul situasi kurang siapnya birokrasi, kurang tenaga medis, kurang tempat rawat inap pasien korban COVID-19, kurang peralatan yang memadai, dan lain sebagainya. 

Bersyukur telah banyak anggota masyarakat yang dengan segera mengatur langkah menyelamatkan diri secara mandiri. Masyarakat secara berkelompok melakukan gerakan bahu membahu, bergotongroyong, dan bersama  bersatu melawan COVID-19. Hal yang sehat dan langkah nyata seperti ini yang sangat diperlukan Indonesia sekarang. Sekaligus langkah yang sadar akan tanggungjawab ini, wajib dicontoh oleh para pemimpin kita.

Walau demikian, segala bentuk ketidak puasan dan keinginan untuk menyudutkan pemerintah secara tajam, bahkan hingga keinginan agar secepatnya terjadi pergantian pemerintahan secara luar biasa, silahkan itu dikesampingkan dulu. Setelah berhasil mengalahkan virus COVID-19 sebagai musuh utama bersama kita, bila niat itu ingin dilanjutkan, terserah pribadi dan kelompok masing-masing. Atau, lebih memilih kembali berjalan apa adanya seperti biasa!  

Yang penting, moto kita hari ini haruslah berbunyi: COVID-19 First, the rest...entar dululah! And please stop bullying!!! Ingatlah pesan yang diajarkan Bung Karno kepada rakyat Indonesia...Kita koeat karena bersatoe, Kita bersatoe karena koeat..! Konsolidasi kekuatan Nasional adalah satu-satunya jalan menuju Indonesia kuat. Tunggu apa lagi?!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF