Kisah Masyarakat Adat Perawat Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 06 March 2021 11:30
Watyutink.com - Peran kunci masyarakat adat dan komunitas lokal dalam melindungi keanekaragaman hayati  dan alam tempatnya bernaung telah dibuktikan oleh berbagai jurnal ilmiah internasional.

Sering dipahami sebagai diversitas tanaman, hewan dan mikroorganisme, sebenarnya keanekaragaman hayati juga mencakup perbedaan genetika dalam setiap spesies dan juga berbagai ekosistem seperti danau, hutan, gurun, dan lanskap pertanian, yang menampung beraneka jenis interaksi di antara manusia, tanaman, dan hewan.

Kajian Global dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services menunjukkan sebagian besar keanekaragaman hayati dunia terletak di lahan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal. Sekitar 35 persen dari wilayah global yang secara resmi dilindungi, tumpang tindih dengan lahan masyarakat adat.

Alih-alih dipandang sebagai mitra, masyarakat adat dan komunitas lokal acapkali diserang, baik oleh mereka yang akan mengeksploitasi alam maupun yang berdalih melindunginya.

Masyarakat adat dan komunitas lokal juga terkena dampak perampasan lahan dengan kekerasan, juga kebrutalan dalam perluasan industri pertanian, dan produksi pangan.

Bagaimana menyikapi ketidakadilan ini? Salah satu caranya, menuturkan dan memviralkan kisah yang terjadi, baik tentang masalah yang ada, perjuangan tokoh masyarakat adat dan komunitas lokal, maupun solusi potensial guna menciptakan perbaikan nyata yang berkelanjutan.

Adalah Elis Hart, praktisi komunikasi, peneliti, dan penulis, yang menuangkan kisah masyarakat adat pada buku setebal 264 halaman berjudul “Inklusi Sosial. Sepuluh Kisah Peduli Masyarakat Adat dan Lokal Terpencil Nusantara.

Buku itu adalah rangkuman aktivitas “Program Peduli Pilar Masyarakat Adat yang Tergantung pada Sumber Daya Alam” dari Kemitraan, sebuah organisasi dengan visi membangun pemerintahan yang adil, demokratis, dan berkelanjutan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Laode Syarif, Direktur Eksekutif Kemitraan, bentuk inklusi sosial yang didorong oleh Program Peduli adalah pengakuan negara untuk pemenuhan hak dasar masyarakat dan membuka akses bagi kelompok marjinal terhadap pelayanan publik. Selain itu, terbangunnya kerja sama yang efektif dengan semua kelompok masyarakat agar terjadi integrasi sosial yang solid.

Elis mengajak pembaca berkelana menjumpai masyarakat adat dari Indonesia bagian barat sampai ke timur. Di Kepulauan Mentawai, misalnya, pemerintah mulai mengakui dan mendukung masyarakat adat untuk mengelola hutannya. Mereka memiliki peraturan adat dan kearifan lokal untuk menjaga hutan sebagai sumber kehidupan yang menyediakan bahan untuk sandang, pangan, dan papan, serta ruang ekspresi seni, religi dan ritual adat.

Prinsip hidup masyarakat adat di kecamatan Pipikoro dan Kulawi, Sulawesi Tengah adalah adat yang kuat sehingga area pegunungan ini aman, damai, harmonis, dan inklusif. Kebanyakan kebun yang berada di kawasan hutan dengan tutupan lahan masih baik dikerjakan dengan pendekatan agroforestri yang dalam bahasa lokal dikenal sebagai “pampa.”
 
Masyarakat adat Gumantar di Lombok Utara  mempraktikkan hajatan Aji Lawat pada masa tanam yang dimulai dengan pembersihan lahan secara berkelompok, menggambarkan kohesi sosial. Setelah ladang siap ditanami, warga memulai acara syukuran untuk berdoa dan bersantap bersama. Makanan sepenuhnya organik, dan disajikan dengan wadah alami seperti alas daun pisang dan ancak bambu, tanpa plastik.

Sepuluh kisah masyarakat adat di buku “Inklusi Sosial” menjadi lebih menyentuh dengan foto-foto yang dikurasi oleh Oscar Motuloh yang selama tiga dekade menekuni semesta citra, dan cahaya. Atas dedikasinya untuk fotografi ia termasuk dalam daftar 30 Most influential Photographers in Asia dan memperoleh gelar Empu Ageng dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Elis berharap, dengan adanya buku itu, pemerintah akan bersungguh-sungguh menerapkan kebijakan inklusi sosial, dan seluruh komponen bangsa akan memperlakukan masyarakat adat dan lokal terpencil secara lebih manusiawi, setara dan semartabat.

Di akhir bukunya, Elis Hart menyitir kata-kata bijak Gus Dur: Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI