Kiprah Pahlawan Muda Pangan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 17 October 2020 10:10
Watyutink.com - World Food Day - Hari Pangan Sedunia, yang setiap tahunnya diperingati pada 16 Oktober, tahun ini bertemakan Grow, Nourish, Sustain. Together – Tanam, Pelihara, Lestarikan. Bersama.

Pada masa COVID-19 adalah penting untuk merefleksikan kebutuhan paling mendasar manusia, yaitu pangan sebagai inti kehidupan dan landasan budaya. Mempertahankan akses ke makanan yang aman dan bergizi merupakan respons utama bagi masyarakat yang paling terpukul oleh pandemi dan guncangan ekonomi yang diakibatkannya.

Namun, sejumlah tantangan besar dihadapi oleh warga dunia, di antaranya sebanyak 135 juta orang di 55 negara dan wilayah mengalami kerawanan pangan akut dan sangat membutuhkan bantuan makanan, nutrisi dan mata pencaharian. Selain itu lebih dari 2 miliar orang tidak memiliki akses reguler ke pangan yang aman, bergizi, dan memadai.

Produksi pangan yang intensif, ditambah dengan perubahan iklim, menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati secara sangat cepat. Juga saat ini sebesar 66 persen dari produksi tanaman pangan hanya berasal dari sembilan jenis tanaman, padahal setidaknya ada 30.000 jenis tanaman yang dapat dimakan.

Di balik makanan yang dinikmati masyarakat, selalu ada mereka yang memproduksi, menanam, memanen, menangkap, atau mengangkutnya. Karenanya, mutlak untuk mengenali dan mendukung pahlawan pangan, yakni para petani, nelayan, dan pekerja di seluruh sistem pangan. Merekalah yang memastikan bahwa makanan (dan juga minuman) dari sumbernya sampai ke yang membutuhkannya.

Generasi muda Indonesia banyak yang telah berkiprah menjadi pahlawan pangan, yang pengalamannya sangat unik untuk disebarluaskan. Pada Hari Pangan Sedunia kemarin, generasi muda dari Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, dan DKI Jakarta meluangkan waktu untuk berbincang, dan berbagi informasi tentang kegiatan mereka bersama masyarakat di bidang pertanian, pangan dan kuliner.

Hanna Keraf, salah seorang pendiri Du’Anyam, kewirausahaan sosial yang memproduksi anyaman otentik karya perempuan di Flores, mempunyai pengalaman luas dalam pendampingan kegiatan pangan. Hanna, lulusan Ritsumeikan Asia Pacific University di Jepang, beberapa tahun bekerja memberikan bantuan teknis bagi petani kecil Flores dalam usaha mete, madu liar & kemiri. Hanna berpendapat dengan adanya pandemi kita harus lebih mengangkat dan bangga akan produk-produk lokal. Tanpa kebanggaan, akan sulit untuk mencapai kemandirian pangan.

Masih di Nusa Tenggara Timur, setelah menempuh pendidikan di Amerika Serikat, Nando Watu kembali ke Flores dengan menjalankan berbagai aktivitas. Bersama warga ia juga memajukan pertanian berkelanjutan dan menghidupkan kembali aneka jenis pangan lokal seperti sorgum, wijen, jewawut, yang menurutnya merupakan bagian dari identitas budaya. Tahun lalu Nando terpilih menjadi Kepala Desa Detusoko Barat, Kabupaten Ende.

Di Gorontalo, Zahra Khan yang lulusan S2 Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor, melestarikan pangan dan kuliner lokal melalui usaha skala mikro di Desa Huntu Selatan,  Kabupaten Bone Bolango. Di antara produknya ada beras merah, beras cokelat, madu hutan serta pangan olahan berbahan dasar tanaman lokal, minyak kelapa, ikan air tawar, seafood dan ayam kampung. Zahra bersama pegiat Hartdisk Studio mengajak warga desa untuk menyelenggarakan Pasar Seni Warga yang menjajakan kuliner lokal tanpa kantong plastik sekali pakai.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), krisis saat ini telah membawa tantangan dan peluang baru bagi inovator muda yang bekerja untuk mengubah sektor pangan dan pertanian ke arah yang lebih baik. Agar kaum muda dan gagasan transformatif mereka berkembang perlu peran pemerintah dan mitra untuk memberikan dukungan bisnis dan teknis serta ranah yang mendukung.

Acara yang dipandu oleh Karina Sarah Kusumadewi, seorang youth climate reality leader yang juga aktif berkebun, menampilkan kegiatan Hanna, Nando, dan Zahra sebagai inpirasi bagi generasi muda di berbagai daerah untuk membangun kegiatan sosial dan ekonomi di bidang pangan, pertanian, dan kuliner dengan tetap menjaga lingkungan hidupnya.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF