Ketika Debat Wisata Halal Lebih Ramai dari Kunjungan Wisatawan Muslim
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 10 September 2021 17:00
Watyutink.com – Pandemi Covid-19 memukul sektor pariwisata global dan menjadi yang pertama yang merasakan dampaknya. Namun industri pelesiran ini dipercaya akan bangkit cepat setelah wabah ini bisa ditangani dengan baik. Kerinduan untuk berlibur sudah memuncak, tertahan oleh kebijakan pembatasan mobilitas orang secara fisik.

Sekarang saat yang tepat bagi industri pariwisata nasional berbenah, sebelum pariwisata kembali booming usai pandemi berlalu. Salah satu yang perlu digarap serius untuk dikembangkan adalah wisata halal yang memiliki potensi besar di dalamnya.

Indonesia termasuk negara miskin kunjungan wisatawan muslim sekalipun penduduknya menduduki peringkat pertama sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia yang bisa dijadikan daya tarik, disamping tempat wisata unik yang tidak ditemukan di negara lain.

Kemana para wisatawan muslim berlibur? Justru bukan ke negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Data DinarStandard bertajuk Ekonomi Islam Global, Laporan 2020/2021, yang dipublikasikan melalui Salaam Gateway pada November tahun lalu menyebutkan justru Spanyol yang menduduki peringkat pertama dengan kunjungan 7,6 juta wisatawan muslim pada 2019.

Peringkat kedua diduduki Turki sebagai destinasi wisata ramah muslim dengan jumlah kunjungan 6,4 juta, disusul Uni Emirat Arab sebanyak 6,2 juta, Rusia 5,6 juta, dan Perancis dengan 4,9 juta wisatawan  muslim yang berkunjung pada tahun tersebut.

Siapa saja mereka itu? Data tersebut mencatat sedikitnya lima negara yang menduduki peringkat paling atas dengan pengeluaran paling tinggi yang dilakukan oleh wisatawan muslim yang berlibur ke luar negerinya.

Sedikitnya 200,3 juta perjalanan telah dilakukan oleh wisatawan muslim global dengan pengeluaran 194 miliar dolar AS. Dengan menggunakan asumsi kurs rupiah Rp14.500 per dolar AS, maka nilainya mencapai Rp2.813 triliun. Wow!

Mereka adalah wisatawan muslim asal Arab Saudi dengan pengeluaran 24,3 miliar dolar AS untuk melakukan perjalanan ramah muslim ke luar negeri. Disusul mereka yang bertolak dari Uni Emirat Arab dengan nilai belanja 17,2 miliar dolar AS, Qatar 14,2 miliar dolar AS, Kuwait 13 miliar dolar AS, dan wisatawan muslim asal Indonesia sebesar 11,2 miliar dolar AS.

Orang Indonesia yang mayoritas  muslim gemar berpergian ke luar negeri, justru tidak dapat menarik wisatawan muslim global untuk datang ke sini. Berdasarkan data yang diolah dari Kemenparekraf, Badan Pusat Statistik, United Nations World Tourism Organization, World Travel & Tourism Council tentang kedatangan wisatawan muslim pada 2018, dari 15,8 juta wisatawan yang tiba di Indonesia, hanya 3,4 juta atau 22 persen saja yang beragama Islam.

Jumlah tersebut jauh di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Turki. Malaysia dan Turki masing-masing dikunjungi oleh 6,4 juta dan 6,1 juta wisatawan muslim. Indonesia kedodoran untuk menarik wisatawan muslim karena berkutat pada berdebatan yang tidak perlu, tanpa melakukan terobosan seperti yang dilakukan Thailand.

Thailand berani memberi label pada Al Meroz Hotel di Bangkok sebagai hotel ramah muslim. Di hotel itu tidak ada hiburan, hingar bingar, tenang, tidak ada yang memakai pakaian kurang tertutup di sekitar hotel sehingga bagus untuk keluarga. Di Malaysia ada Bukit Bintang yang merupakan tempat bagi sejumlah komplek perbelanjaan dan pertokoan ramah muslim.

Mungkin ada perdebatan mengenai wisata halal di Thailand, tetapi mereka tidak berhenti di situ. Ada tindakan (action) yang dilakukan. Sementara di Indonesia, perdebatan tentang wisata halal lebih ramai dari kunjungan wisatawannya.

Sejumlah tokoh yang mengaku punggawa di bidang wisata dan kepala daerah menolak jika teritorinya dijadikan tujuan wisata halal dengan alasan berpotensi menimbulkan benturan dengan kearifan lokal.

Padahal wisata halal lebih kepada konsep pelayanan. Ada yang mendefinisikan wisata halal dengan restoran yang menyajikan hidangan halal dan bebas alkohol. Lebih dari itu adalah menyediakan tempat yang menyajikan privasi antara laki-laki dan perempuan, didukung dengan fasilitas ibadah dan arah kiblat di dalam hotel.

Wisata halal juga bisa didefisinikan sebagai yang dibolehkan menurut ajaran Islam dalam industri pariwisata. Hukum syariah sebagai dasar dalam penyediaan produk dan jasa wisata bagi konsumen  muslim meliputi hotel, resor, restoran, dan travel.

Wisata halal setidaknya mencakup makanan halal, produk yang tidak mengandung babi, tidak ada minuman keras, tersedia ruang ibadah, Al-Qur'an dan peralatan ibadah di kamar, petunjuk kiblat, dan pakaian staf yang sopan.

Wajar jika wisatawan muslim yang berpergian ke suatu destinasi wisata membutuhkan pelayanan ekstra terutama yang berkaitan dengan makanan dan tempat untuk beribadah. Memenuhi kebutuhan konsumen adalah sesuatu yang biasa dilakukan di industri jasa.

Pelayanan ramah bagi wisatawan muslim di restoran juga dapat memberikan keuntungan ganda bagi pemilik usaha. Mereka mempunyai dua pelanggan, muslim dan non-muslim. Restoran yang hanya menjual makanan untuk non- muslim, pelanggannya non-muslim saja. Jadi, kehadiran wisata halal bukankah lebih menguntungkan?

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF